“Saya ingin menyampaikan Jas Hijau: jangan sekali-sekali melupakan jasa ulama,” kata Prabowo dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU.
Prabowo mengaitkan pesan tersebut dengan sejarah perjuangan ulama dan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menyinggung lagu Ya Lal Wathon karya KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Menurut Prabowo, lagu tersebut telah menggambarkan kecintaan terhadap tanah air bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Ia juga mengingatkan peran ulama dan pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk dalam peristiwa Pertempuran Surabaya pada November 1945.
“NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU bermartabat, Indonesia bermartabat,” ujar Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Gaungkan 'Jas Hijau' di Muktamar NU: Jangan Sekali-kali Lupakan Jasa Ulama!
Prabowo Janji Kembali ke Jombang
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan keinginannya untuk kembali menghadiri rangkaian Muktamar NU pada 31 Agustus 2026.
Namun, ia menyelipkan candaan mengenai kartu anggota NU yang disebutnya belum dimiliki.
“Kalau ada kartu anggota, aku datang lagi tanggal 31,” kata Prabowo.
Sebelumnya, Prabowo meminta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memenuhi permintaannya mengenai kartu anggota NU.
“Gus Yahya, aku dari dulu minta kartu NU. Jadi, masih utang sama saya,” ujarnya.
Selain berbicara mengenai sejarah NU, Prabowo menyampaikan sejumlah program pemerintah, termasuk persoalan pendidikan.
Ia mengaku baru mengetahui masih terdapat sekolah di bawah naungan NU yang belum memperoleh perangkat layar interaktif untuk mendukung proses pembelajaran. Prabowo menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan administrasi dan memastikan sekolah-sekolah NU akan mendapatkan perangkat tersebut.
Yenny Wahid Dorong Muktamar Bahas Persoalan Umat
Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid, meminta Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada agenda seremonial organisasi.
Yenny mendorong forum tersebut membahas persoalan substantif yang dihadapi warga Nahdliyin dan masyarakat secara luas.
Menurut Yenny, Muktamar ke-35 NU merupakan momentum untuk memperkuat kembali marwah organisasi sekaligus meningkatkan kontribusi ulama dalam menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Muktamar harus melahirkan keputusan strategis yang langsung berdampak nyata pada kesejahteraan warga Nahdliyin dan masyarakat luas,” kata Yenny.
Ia juga berharap NU dapat memberikan bimbingan kepada masyarakat serta masukan konstruktif kepada pemerintah.
Baca Juga: Janur Dorong Ulama Perempuan Masuk AHWA pada Muktamar NU ke-35
Puluhan Ribu Nahdliyin Datang ke Jombang
Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan muktamar diikuti pengurus NU dari berbagai tingkatan.
Selain peserta resmi, panitia memperkirakan lebih dari 50 ribu warga Nahdliyin datang ke Jombang selama rangkaian muktamar.
Kehadiran puluhan ribu warga tersebut turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar lokasi muktamar.
Sejumlah pedagang mengaku mengalami peningkatan penjualan sejak peserta mulai berdatangan. Pedagang merchandise Muktamar NU, Sholeh, misalnya, mulai membuka lapak sejak Sabtu (22/8/2026) di kawasan Jalan KH Wahab Chasbullah, Tembelang, Jombang.
Ia menjual berbagai suvenir, termasuk kaus, gantungan kunci, serta atribut Muktamar NU. Kaus menjadi salah satu barang yang paling banyak diminati.
Dalam sehari, Sholeh mengaku dapat menjual sekitar 25 hingga 40 kaus dengan harga Rp75 ribu sampai Rp100 ribu per potong.
“Rabu (26/8) dan hari ini (27/8) mulai makin ramai. Mungkin karena para muktamirin sudah pada berdatangan,” kata Sholeh.
Peningkatan aktivitas ekonomi juga dirasakan pedagang sarung. Muhammad Efendi Riski, pedagang asal Ploso, Jombang, mengaku memperoleh omzet sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta pada 26–27 Agustus 2026.
Sarung dengan motif khusus Muktamar NU menjadi salah satu produk yang paling diminati.
Penginapan di Jombang Ikut Terdampak
Dampak kedatangan peserta muktamar juga dirasakan sektor akomodasi. Sejumlah hotel dan penginapan di Jombang dan wilayah sekitarnya disebut mengalami peningkatan hunian selama pelaksanaan muktamar.
Baca Juga: 5 Lokasi Ziarah Ulama di Jombang yang Direkomendasikan bagi Peserta Muktamar NU ke-35
Sebagian warga bahkan menyewakan rumah mereka kepada peserta dan memilih tinggal sementara di rumah kerabat.
Dengan jumlah peserta dan pengunjung yang mencapai puluhan ribu orang, Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum untuk menentukan arah organisasi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi bagi masyarakat Jombang.
Antusiasme terhadap muktamar juga ditunjukkan Arif Hidayat, warga Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Pria berusia 56 tahun itu menempuh perjalanan lebih dari 1.500 kilometer menggunakan sepeda ontel untuk menghadiri Muktamar NU di Jombang.
Perjalanan tersebut ditempuh selama sekitar 14 hari.
“Ini bukan sekadar perjalanan, ini perjalanan cinta kepada NU,” kata Gus Ipul saat menceritakan perjalanan Arif.
Muktamar ke-35 NU berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan arah organisasi sekaligus merumuskan keputusan terkait persoalan keumatan dan kebangsaan.