Pembangunan KBT Tawang-Weleri-Batang ditarget rampung dua tahun
Jumat, 18 September 2026 00:45 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menerima audiensi perwakilan Kedutaan Besar Inggris dan Techne Praxis International, di Semarang, Kamis (17/9/2026). (ANTARA/HO-Pemprov Jateng)
Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan pembangunan Kawasan Berorientasi Transit (KBT), mulai Stasiun Tawang Semarang, Weleri Kendal hingga Kabupaten Batang, rampung dalam dua tahun.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi di Semarang, Kamis, mengatakan pembangunan KBT dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan industri serta mendukung konektivitas wilayah Semarang hingga Batang.
"Kalau KITB, Kawasan Industri Kendal dan Semarang berkembang maka pergerakan orang dan barang jangan sampai ada 'bottle neck' atau sumbatan," katanya.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima audiensi perwakilan Kedutaan Besar Inggris dan Techne Praxis International.
Ia menjelaskan kajian pengembangan KBT Tawang-Weleri-Batang sudah dilakukan dengan bantuan Pemerintah Inggris dan Techne Praxis International.
Menurut dia, kajian tersebut mempertimbangkan hubungan antar kabupaten/kota dan pertumbuhan ekonomi berdasarkan kawasan.
Melalui pengembangan itu, kata dia, diharapkan mulai dari Stasiun Tawang Semarang, Weleri Kendal, hingga Kabupaten Batang nanti akan terhubung untuk pergerakan orang dan barang melalui integrasi transportasi.
Saat ini, rencana pengembangan KBT dan konektivitas Semarang—Batang tersebut masih menunggu regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Setelah itu, kata dia, baru dapat dilakukan penandatanganan nota kesepakatan dan rencana kerja sehingga pihaknya mendorong pemerintah pusat untuk mempercepat agar pengembangan bisa segara dilakukan.
"Ini harus cepat karena dua tahun ke depan kawasan industri kita sudah penuh. Tidak hanya pergerakan orang, barang atau logistik juga penuh," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan KBT tersebut juga didorong untuk diintegrasikan dengan rencana pembangunan "dry port".
Saat ini, kata Luthfi, yang sudah disetujui dan sedang dimatangkan adalah rencana "dry port" di Batang dengan lahan yang tersedia sekitar 50 hektare.
Sementara itu, Managing Director Techne Praxis International Puspita Galih Resi mengatakan memang sudah ada studi yang didukung oleh Pemerintah Inggris dengan dana hibah.
Bahkan, kata dia, sudah diperhitungkan juga bagaimana pengelolaan kawasan berorientasi transit tersebut.
"Namun dari satu koridor ini (Tawang—Weleri—Batang), hanya dua yang diutamakan dengan melihat urgensinya, yaitu KBT Tawang dan KBT Weleri," katanya.
Ia menjelaskan Weleri menjadi urgensi karena menjadi tangkapan atas pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kawasan industri Batang, sebab tidak mungkin semua infrastruktur dipusatkan di Batang, misalnya terkait hunian.
Maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana kota atau daerah tetangga mampu mengampu dan menampung kebutuhan-kebutuhan lainnya dari kawasan industri tersebut.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.