Batang lestarikan bahasa ibu untuk jaga budi luhur

September 2026 · 2 minute read

Batang lestarikan bahasa ibu untuk jaga budi luhur

Jumat, 18 September 2026 00:44 WIB

Image Print

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Bambang Suryantoro Sudibyo. ANTARA/Kutnadi

Batang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, berupaya melestarikan bahasa ibu pada siswa jenjang sekolah dasar sebagai menjaga karakter berbudi luhur di tengah arus modernisasi melalui kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Bambang Suryantoro Sudibyo di Batang, Kamis, mengatakan bahwa kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu memiliki tujuan untuk memupuk adat ketimuran maupun tata krama tetap terjaga pada generasi masa depan.

"Bahasa Jawa yang lahir dari hasil cipta rasa dan karsa dari para leluhur ini selayaknya tetap dilestarikan agar tak tergerus arus modernisasi yang rawan membanjiri generasi muda," katanya.

Beberapa langkah untuk menjaga kelestarian bahasa ibu ini, kata dia, pihaknya menghelat sejumlah lomba seperti membaca dan menulis bahasa Jawa, mendongeng, berpidato, menulis cerita pendek, nembang macapat, geguritan, dan komedi tunggal.

Ia mengatakan Festival Tunas Bahasa Ibu konsisten digelar setiap tahunnya karena merupakan lomba berjenjang hingga tingkat provinsi dan nasional.

"Kami menilai Festival Tuntas Bahasa Ibu ini penting dan harus digelar setiap tahunnya karena akan melatih anak memiliki tata krama, membangun karakter sehingga anak memiliki adab yang baik tatkala dewasa nanti," katanya.

Ia yang didampingi Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Nurlaili Endahwati mengatakan pada tahun sebelumnya Festival Tunas Bahasa Ibu digelar secara terpisah namun karena beberapa alasan maka khusus pada tahun ini dilaksanakan secara bersamaan.

Lomba Festival Tunas Bahasa Ibu ini, kata dia, diikuti 105 peserta yang mewakili 455 sekolah dasar di daerah ini.

"Dari tujuh cabang yang dilombakan, empat cabang di antaranya selalu lolos ke tingkat Jawa Tengah. Di antaranya, macapat, komedi tunggal, geguritan dan menulis aksara Jawa," katanya.

Pewarta: Kutnadi
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.