Liputan6.com, Jakarta - Ruang siber Indonesia berada di bawah ancaman serius. Sepanjang Semester I 2026, terjadi lonjakan serangan digital yang sangat signifikan, bahkan mencapai hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester 1 2026 dari platform threat intelligence AwanPintar.id mencatat ada 257,97 juta serangan yang mengintai Indonesia sejak Januari hingga Juni 2026.
Angka ini melonjak hingga 93,33% dibanding Semester I 2025 yang tercatat sebanyak 133,43 juta serangan. Jika dikalkulasikan, ruang siber nasional menerima gempuran rata-rata 16 serangan per detik.
Ancaman ini tak lagi bersifat acak, melainkan operasi otomatis yang berlangsung terus-menerus untuk mengeksploitasi sektor-sektor rentan, mulai dari layanan publik, pemerintahan, hingga dunia usaha.
Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, mengungkapkan bahwa eskalasi ini dipicu oleh makin luasnya ruang serangan (attack surface) seiring akselerasi transformasi digital.
"Meningkatnya pemanfaatan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), serta transaksi online masyarakat turut memperluas celah yang diincar peretas," ungkap Yudhi, dikutip Rabu (19/8/2026).
Satu hal yang paling mengkhawatirkan dari data terbaru ini adalah perubahan taktik para hacker (peretas). Upaya merebut kendali penuh atas akun administrator (Attempted Administrator Privilege Gain) melonjak drastis dari hanya 2,76% pada tahun lalu menjadi 43,65% pada Semester I 2026.
Penjebolan hak akses administrator adalah tahap paling krusial sebelum peretas melancarkan aksi lanjutan yang destruktif, seperti penyebaran ransomware, pencurian data massal, hingga sabotase total infrastruktur jaringan.
Pelaku aktif memanfaatkan kredensial curian, eksploitasi kerentanan sistem, serta bot otomatisasi untuk menebak hak akses istimewa ini.
Di saat yang sama, upaya pembocoran informasi sensitif (Attempted Information Leak) juga naik menjadi 13,97%. Aktor kejahatan siber kian gencar berburu data bernilai tinggi, seperti kredensial akun, data nasabah, hingga informasi kartu kredit.
Teknik brute force--menebak kata sandi menggunakan alat otomatis berkecepatan tinggi--masih menjadi senjata favorit penyerang.