Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menekankan pentingnya pendataan pengungsi yang terpilah agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran.
"Dalam situasi bencana, perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan dan harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan. Karena itu, seluruh proses penanganan bencana perlu mengedepankan perlindungan perempuan dan anak, dengan memastikan kebutuhan spesifik mereka terpenuhi, termasuk melalui pendataan pengungsi yang terpilah agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di Jakarta, Sabtu.
Data korban yang diterima KemenPPPA dari Dinas Pengampu Urusan PPPA di Provinsi NTT, per 18 Agustus 2026, tercatat dari 70 orang meninggal dunia, ada sebanyak 14 anak dan 34 perempuan dewasa, atau sekitar 68,6 persen merupakan anak dan perempuan dewasa.
Kondisi tersebut menunjukkan perempuan dan anak menjadi kelompok yang sangat terdampak dalam bencana dan membutuhkan perhatian khusus dalam setiap tahapan penanganan.
Dalam kesempatan itu, pihaknya menyampaikan apresiasi kepada kementerian/lembaga, pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, relawan, dan seluruh pihak yang telah memastikan kebutuhan spesifik perempuan, anak, dan kelompok rentan menjadi bagian dari respons darurat, termasuk kebutuhan pengungsian, pangan, kesehatan, air bersih, sanitasi, dukungan psikososial, serta kebutuhan bayi, anak, perempuan hamil, dan ibu menyusui.
"Dalam situasi bencana, perempuan dan anak bukan hanya kelompok yang perlu dibantu, tetapi memiliki kebutuhan dan risiko yang spesifik. Kami mengapresiasi seluruh kementerian/lembaga, pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, relawan, dan pihak lainnya yang telah memastikan kebutuhan perempuan, anak, dan kelompok rentan menjadi bagian dari perencanaan bantuan dan logistik darurat," kata Menteri Arifatul Choiri Fauzi.
Pewarta: Anita Permata Dewi
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.