Mahasiswa UMM tembus perbukitan Alor guna berantas stunting-kemiskinan - ANTARA News Jawa Timur

July 2026 · 3 minute read

Malang (ANTARA) - Sebanyak 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) harus menembus perbukitan Alor untuk memberantas stunting dan kemiskinan ekstrem di Desa Probur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem (Gentaskin) pada Juli hingga September 2026, mahasiswa UMM membawa misi utama memberantas stunting dan kemiskinan ekstrem di wilayah itu guna mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat.

Koordinator sekaligus peserta KKN Tematik Gentaskin Batch 2 Fikes UMM, Tristan Gilang Antoro, dalam keterangan diterima di Malang, Jawa Timur, Sabtu, mengatakan berdasarkan pemetaan awal, masyarakat Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya hanya mengandalkan pekerjaan musiman sebagai petani kemiri dan porang.

Kondisi finansial yang serba terbatas ini, kata dia, diperparah oleh kuatnya mitos budaya tentang asupan gizi, yang akhirnya memicu tingginya angka stunting pada balita di desa tersebut.

"Mayoritas masyarakat di sini sangat minim informasi medis dan lebih mempercayai budaya setempat terkait asupan gizi anak, ditambah faktor kemiskinan akibat penghasilan bertani yang tidak menentu menjadi pemicu utama tingginya angka stunting," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik NTT 2025, Kabupaten Alor mencatat persentase balita stunting 22,59 persen. Angka tersebut merepresentasikan 2.888 jiwa balita yang mengalami stunting, dengan rincian 705 jiwa berada dalam kategori sangat pendek dan 2.184 jiwa dalam kategori pendek.

Dalam merespons persoalan itu, tim KKN UMM bekerja sama dengan puskesmas setempat melakukan inisiasi langkah preventif melalui pendampingan intensif di posyandu serta membagikan selebaran panduan pencegahan kurang gizi.

Dedikasi ini diuji oleh medan geografis yang mengharuskan mahasiswa "Kampus Putih" itu, berjalan kaki menembus perbukitan sejauh tiga kilometer demi pendataan warga, sedangkan kelancaran program ini tidak lepas dari dukungan dosen pembimbing lapangan UMM yang mengurus akomodasi hingga penyesuaian jadwal ujian.

Tristan menekankan bahwa kegiatan ini menuntut mahasiswa peserta KKN untuk tulus menghargai budaya setempat agar bisa diterima dengan baik oleh warga desa.

"Pengabdian ini bukan sekadar tentang menjalankan program kerja, melainkan bagaimana cara kami melebur, menghargai budaya lokal, dan melakukan pendekatan tulus hingga masyarakat menganggap delegasi 'Kampus Putih' sebagai bagian dari keluarga mereka," ujarnya.

Kehadiran mahasiswa KKN disambut hangat warga Desa Probur. Interaksi humanis keseharian, seperti mencari kayu bakar di hutan dan menumpang fasilitas sanitasi warga "meruntuhkan" sekat perbedaan bahasa serta kebiasaan.

Pengalaman lintas budaya ini menegaskan keberhasilan "Kampus Putih" dalam mencetak lulusan dengan kecerdasan sosial yang tangguh meski berada di lingkungan serba terbatas.

Tristan mengingatkan pentingnya kesiapan mental dan fisik sebelum sungguh-sungguh terjun ke tengah masyarakat.

"Bagi rekan-rekan mahasiswa yang kelak akan meneruskan langkah pengabdian ke sini, persiapkan fisik dan mental untuk berbaur, karena kalian mungkin datang dengan keraguan, tetapi dipastikan akan pulang dengan air mata perpisahan," ucapnya.

Pewarta: Endang Sukarelawati
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.