Ambon (ANTARA) -
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun Bendungan Way Apu di Kabupaten Buru, Maluku, dan menargetkan rampung pada 2027 guna meningkatkan produksi pangan melalui penyediaan irigasi bagi lahan pertanian seluas 10.000 hektare.
“Bendungan ini dibangun dengan kapasitas tampung sekitar 50 juta meter kubik air untuk mendukung irigasi sawah dalam rangka memperkuat ketahanan pangan,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, dalam keterangan tertulis yang diterima di Ambon, Selasa.
Ia mengatakan, bendungan tersebut diharapkan menjadikan Kabupaten Buru sebagai salah satu sentra produksi beras yang mampu mendukung kebutuhan pangan, termasuk untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela.
Dalam kunjungan kerja ke Maluku, Arnold didampingi Pelaksana Tugas Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Ruslan Malik beserta jajaran. Rombongan bertolak dari Ambon menuju Kabupaten Buru untuk meninjau langsung progres pembangunan bendungan yang saat ini telah mencapai 87 persen.
Menurut Arnold, keberadaan Bendungan Way Apu akan meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Buru. Jika sebelumnya petani hanya dapat memanen padi satu hingga dua kali dalam setahun, dengan tersedianya irigasi mereka diharapkan mampu melakukan panen hingga tiga kali setahun.
Selain mendukung sektor pertanian, bendungan tersebut akan menyediakan air baku sebesar 550 liter per detik, mengurangi risiko banjir hingga 60 persen, serta menghasilkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 8 megawatt (MW).
Baca juga: Menteri PU: Bendungan strategis dukung swasembada pangan dan EBT
Baca juga: Komisi V DPR dorong percepatan jaringan irigasi bendungan
Ia menambahkan kawasan bendungan juga memiliki potensi dikembangkan sebagai lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas sekitar 41 MW.
“Jadi banyak sekali manfaat bendungan ini, bukan hanya untuk pertanian, tetapi juga mendukung penyediaan energi,” ujarnya.
Arnold mengakui penyelesaian proyek sempat mengalami keterlambatan akibat kendala teknis pada pekerjaan inti bendungan. Material tanah yang digunakan sebagai inti bendungan memerlukan metode khusus dalam proses pengeringan dan pemadatan sehingga membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama.
“Tanah untuk inti bendungan harus melalui proses pengeringan dan pemadatan dengan teknik tertentu. Itu yang membuat penyelesaian pekerjaan sedikit terlambat,” katanya.
Selain faktor teknis, keterbatasan anggaran juga mempengaruhi progres pembangunan. Meski demikian, pemerintah tetap menargetkan Bendungan Way Apu selesai pada 2027.
Menurut Arnold, setelah bendungan beroperasi, Kabupaten Buru bersama Pulau Seram diharapkan menjadi sentra produksi pangan yang mampu memasok beras dan komoditas pertanian lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Maluku maupun kawasan industri PSN Blok Masela.
“Harapan Bapak Presiden, Bapak Menteri, dan saya selaku Dirjen juga demikian. Nanti Buru dan Seram bisa menjadi pemasok beras sehingga kita tidak perlu lagi mendatangkan beras dari daerah lain,” ucapnya.
Ia optimistis sistem irigasi yang memadai akan meningkatkan produksi beras, sayur-mayur, dan komoditas pertanian lainnya sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Maluku.
Baca juga: Pemprov Jateng: Bendungan Jlantah perkuat ketahanan pangan
Baca juga: Prabowo: Lima bendungan baru tambah produksi beras hingga 1 juta ton
Pewarta: Winda Herman
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.