Kehadiran Prabowo di KTT BRICS Buka Peluang Ekonomi Indonesia

September 2026 · 2 minute read

Forum BRICS tahun ini digelar di tengah berbagai tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga persoalan ekonomi dan perdagangan internasional.

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an, mengapresiasi kehadiran Prabowo dalam forum tersebut.

Menurutnya, keterlibatan aktif Indonesia di BRICS membuka ruang bagi Indonesia untuk memainkan peran lebih besar dalam percaturan internasional.

“Menurut saya, kehadiran Presiden Prabowo di KTT BRICS tentu merupakan langkah yang positif. Indonesia sekarang bukan hanya menjadi bagian dari forum tersebut, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan kepentingan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” ujar Ali kepada awak media di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Namun, Ali menilai keikutsertaan Indonesia dalam BRICS tidak cukup hanya dimaknai sebagai kehadiran diplomatik.

Keanggotaan tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.

“Yang perlu kita lihat ke depan bukan hanya soal kehadiran Indonesia di forum internasional, tetapi apa yang bisa dibawa pulang untuk kepentingan masyarakat. Diplomasi harus menghasilkan manfaat yang konkret, baik dalam perdagangan, investasi, teknologi, energi, maupun penguatan ekonomi nasional,” katanya.

Ali mengatakan posisi Indonesia di BRICS juga memiliki nilai strategis di tengah fragmentasi global yang semakin kuat.

Karena itu, Indonesia perlu menjaga politik luar negeri yang fleksibel dan tidak terjebak dalam pilihan blok tertentu.

“Indonesia memiliki kepentingan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan dunia. Karena itu, saya kira BRICS harus dilihat sebagai salah satu ruang diplomasi dan kerja sama, bukan sebagai pilihan untuk berhadapan dengan kelompok negara tertentu,” tutur Ali.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar Indonesia tetap dapat menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif sekaligus memperluas ruang kerja sama ekonomi.

“Indonesia harus tetap punya posisi yang independen. Kita bisa bekerja sama dengan siapa saja sepanjang itu memberikan manfaat bagi kepentingan nasional. Jadi, jangan sampai keanggotaan dalam satu forum kemudian mempersempit ruang diplomasi Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Mengalah dengan Konser BTS, Erick Thohir Pastikan Timnas Indonesia Tandang di FIFA Matchday November