IDI Buka Suara soal Viral Dugaan 'Black Campaign' RS Penang, Dinilai Sudutkan Dokter RI

August 2026 ยท 3 minute read

Jakarta -

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) buka suara terkait ramainya dugaan 'black campaign' yang dilakukan selebgram Fahira Almira. Fahira sebelumnya menjadi sorotan setelah mengunggah pengalaman medis yang membandingkan layanan dan diagnosis dokter di Indonesia dengan rumah sakit di Penang, Malaysia.

Ketua Bidang Humas PB IDI, Dr dr Cashtry Meher, M.Kes, M.Ked(KK), SpDVE, FINSDV, MH.Kes, mengatakan setiap pasien memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman dan kritik terhadap pelayanan kesehatan. Namun, pengalaman individual dinilai tidak seharusnya langsung digeneralisasi untuk menyudutkan seluruh dokter di Indonesia.

"Kami memahami dan mengakomodasi perasaan masyarakat yang terjadi. Setiap pasien memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman, tetapi terasa tidak mendapatkan penyelesaian yang sesuai dengan harapannya," sorot dr Cashtry saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (12/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di samping itu, kritik terhadap pelayanan kesehatan juga merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas kesehatan kita. Namun, kita juga perlu berhati-hati agar pengalaman individual tidak langsung menyebabkan kesimpulan yang menggeneralisasi seluruh dokter di Indonesia," sambungnya.

IDI: Diagnosis Tak Bisa Dilihat dari Satu Pemeriksaan

Terkait dugaan salah diagnosis yang ramai dibicarakan, dr Cashtry menjelaskan diagnosis medis tidak ditentukan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan.

Menurutnya, dokter harus mempertimbangkan keseluruhan perjalanan penyakit pasien, mulai dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, hingga pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan, atau pemeriksaan lain sesuai indikasi.

"Diagnosis ini tidak ditentukan hanya oleh satu pemeriksaan. Dokter akan melihat keseluruhan perjalanan penyakit pasien berdasarkan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan, atau pemeriksaan lain sesuai dengan indikasi yang berlaku," jelasnya.

Karena itu, menurut dr Cashtry, seseorang tidak dapat langsung disebut mengalami salah diagnosis hanya berdasarkan satu potongan hasil pemeriksaan atau dengan membandingkan hasil pemeriksaan dari dua fasilitas kesehatan berbeda.

Untuk menentukan ada atau tidaknya kesalahan diagnosis, diperlukan penelusuran menyeluruh terhadap rekam medis.

"Untuk mengatakan apa benar terjadi kesalahan diagnosis, kita harus melihat keseluruhan rekam medis, kronologis klinis, hasil pemeriksaan, pertimbangan dokter pada saat itu, serta standar profesi yang berlaku," katanya.

Beda Diagnosis di Indonesia dan Penang Tak Otomatis Salah

Fahira juga menanggapi perbedaan hasil atau kesimpulan diagnosis antara fasilitas kesehatan di Indonesia dan rumah sakit di Penang.

Menurutnya, perbedaan diagnosis tersebut tidak otomatis berarti salah satu dokter telah melakukan kesalahan.

"Kondisi pasien dapat berubah, pemeriksaan dapat dilakukan pada waktu yang berbeda, modalitas pemeriksaan juga berbeda, dan interpretasi klinis juga sangat bergantung pada keseluruhan kondisi pasien saat diperiksa," tuturnya.

Dia menilai perdebatan seharusnya tidak diarahkan untuk mempertentangkan dokter Indonesia dengan dokter di luar negeri.

"Karena itu, menurut saya yang paling sehat bukan mempertentangkan dokter Indonesia dengan dokter luar negeri. Yang harus kita cari adalah apa sebenarnya kondisi medis pasien tersebut berdasarkan rekam medis lengkap dari pasien tersebut," katanya.

dr Cashtry juga menepis anggapan dokter di Indonesia terlalu mengandalkan hasil pemeriksaan laboratorium dalam menentukan diagnosis.

Menurutnya, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan pencitraan atau imaging memiliki fungsi masing-masing dalam proses diagnosis.

"Ini tidak tepat, karena kalau seolah-olah dokter harus memilih antara hasil laboratorium atau isi pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan fisik, imaging, dan imaging memiliki fungsi masing-masing," ujarnya.

Dia mencontohkan kasus dugaan apendisitis atau radang usus buntu. Diagnosis kondisi tersebut tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu jenis pemeriksaan.

"Dalam kasus dugaan apendisitis ini, misalnya, diagnosis memang membutuhkan integrasi berbagai informasi klinis dan pemeriksaan penunjang, bahkan standar internasional sekalipun," jelas dr Cashtry.

Dengan demikian, tidak ada satu pemeriksaan yang secara otomatis menjadi satu-satunya penentu diagnosis pada semua pasien. Diagnosis perlu ditegakkan dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh serta pemeriksaan yang sesuai.

Halaman 2 dari 3

Simak Video "Video Menkes: BPJS Bukan Asuransi Komersial, Semua Pelayanan Harus Sama!"
[Gambas:Video 20detik] (naf/up)

Gaduh Lagi gara-gara Usus Buntu

7 Konten

Gara-gara urusan radang usus buntu, dokter-dokter Indonesia kembali dipojokkan. Seorang influencer mengaku 3 kali didiagnosis radang usus buntu di Indonesia hingga harus operasi. Saat periksa ke Penang, ternyata dibilang tidak ada masalah.

Konten Selanjutnya