Harga Minyak Turun di Tengah Usulan Gencatan Senjata AS - Iran

July 2026 · 2 minute read

Bagikan:

JAKARTA - Harga minyak turun pada Selasa setelah muncul usulan gencatan senjata selama 10 hari antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, serangan baru kedua pihak, insiden kapal tanker di Selat Hormuz, serta ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi masih membayangi pasar.

Arab News dikutip Selasa, 21 Juli, menyebut harga minyak mentah berjangka Brent turun 96 sen atau 1,1 persen menjadi 88,26 dolar AS per barel pada pukul 09.30 waktu Arab Saudi.

Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI turun 73 sen atau 0,9 persen menjadi 82,50 dolar AS per barel. Kontrak pengiriman September yang lebih aktif juga melemah 57 sen atau 0,7 persen menjadi 81,91 dolar AS per barel.

Analis ING mengatakan mediator mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari. Langkah itu diharapkan dapat menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni.

“Ada sedikit harapan terjadinya penurunan ketegangan antara AS dan Iran. Laporan menyebut mediator mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari,” kata analis ING.

Namun, ING menilai jalan menuju kesepakatan tidak mudah. Perbedaan besar masih memisahkan Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump juga telah mengancam akan membalas setelah sejumlah tentara AS tewas.

BACA JUGA:


Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima usulan tersebut. Gencatan senjata itu ditawarkan untuk menyelamatkan kesepakatan 17 Juni yang disiapkan sebagai jalan menuju perjanjian permanen.

Perjanjian itu diharapkan mengakhiri perang yang pecah pada 28 Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Upaya diplomasi berjalan ketika serangan belum berhenti. AS kembali menyerang sejumlah kota di Iran, sedangkan Garda Revolusi Iran menyerang aset militer AS di sejumlah wilayah.

Komando Pusat AS pada Senin juga mengumumkan dimulainya gelombang serangan baru terhadap Iran.

Risiko pasokan energi meningkat setelah sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui asalnya. Awak kapal terpaksa meninggalkan kapal dan berpindah ke sekoci.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengatakan lalu lintas kapal melalui selat tersebut kembali menurun karena meningkatnya kehati-hatian setelah serangan baru AS dan Iran.

Tekanan bertambah setelah kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengancam memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai ancaman itu meningkatkan risiko gangguan terhadap salah satu pengekspor minyak utama dunia.

“Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi meningkatkan risiko gangguan terhadap negara pengekspor minyak besar lainnya,” kata Waterer.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah dan bensin diperkirakan turun pada pekan lalu. Sebaliknya, stok bahan bakar hasil penyulingan diperkirakan meningkat, berdasarkan jajak pendapat awal Reuters.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+