Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Saatnya Investasi atau Tahan Dulu?

August 2026 ยท 3 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29 persen pada kuartal II 2026 menjadi kabar baik bagi pelaku pasar dan investor. Angka tersebut menunjukkan ekonomi nasional masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.

Namun, apakah kondisi itu sudah menjadi sinyal bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi lebih agresif?

Para pakar menilai jawabannya belum tentu ini waktu yang pas buat berinvestasi. Meski momentum ekonomi mulai membaik, investor ritel tetap diminta berhati-hati dan menghindari keputusan investasi yang terburu-buru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan masyarakat sebaiknya tidak langsung menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai alasan untuk meningkatkan investasi pada aset berisiko tinggi.

Menurutnya, investor masih perlu mencermati apakah pertumbuhan ekonomi tersebut mampu bertahan secara konsisten dalam beberapa bulan ke depan.

"Kalau menurut saya lebih baik wait and see dulu. Kita lihat stabilitasnya seperti apa dalam beberapa waktu ke depan, apakah masih tetap bagus atau tidak," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Di tengah ketidakpastian pasar, Andi melihat instrumen yang paling menarik hingga akhir tahun adalah Surat Berharga Negara (SBN) ritel seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) maupun Sukuk Ritel. Instrumen tersebut menawarkan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan tingkat risiko.

"Imbal hasilnya lebih menarik dibanding deposito, risikonya juga lebih rendah dibanding saham karena dijamin pemerintah," katanya.

Menurut Andi, ORI maupun Sukuk Ritel saat ini dapat dibeli mulai dari sekitar Rp1 juta sehingga relatif mudah dijangkau investor pemula.

Bagi investor yang ingin lebih berhati-hati, Andi menyarankan dana investasi dibagi ke beberapa instrumen. Misalnya, 50 persen ditempatkan di obligasi pemerintah dan 50 persen sisanya dialokasikan ke reksadana pendapatan tetap atau reksadana saham.

Ia juga mencontohkan komposisi lain seperti 75 persen di obligasi dan 25 persen di instrumen lain juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan.

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menilai pertumbuhan ekonomi 5,29 persen memang layak diapresiasi, tetapi belum cukup menjadi dasar untuk langsung 'all in' di pasar keuangan.

Menurutnya, masih ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari tingkat kepercayaan investor terhadap pemerintah, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga kondisi geopolitik global.

"Pertumbuhan ekonominya bagus, tetapi belum bisa dijadikan sinyal untuk masuk investasi secara besar-besaran. Kita masih perlu melihat apakah pertumbuhan itu konsisten sampai akhir tahun. Jadi jangan all in dulu, lebih baik beli secara bertahap," katanya.

Jika ingin berinvestasi, Dandy justru melihat peluang mulai muncul di pasar saham. Sebab, valuasi sejumlah saham saat ini sudah relatif murah dan pergerakan teknikal IHSG mulai menunjukkan sinyal penguatan.

"Saham sudah bisa dibilang murah dan candlestick mulai menunjukkan tanda uptrend. Tinggal menunggu sentimen positif," imbuhnya.

Namun, ia menegaskan strategi yang tepat bukan membeli sekaligus dalam jumlah besar, melainkan menggunakan metode dollar cost averaging yaitu membeli secara bertahap dalam periode tertentu. Strategi tersebut dinilai dapat mengurangi risiko membeli saham pada harga yang terlalu tinggi akibat fluktuasi pasar.

Dandy juga menyarankan investor memilih saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang baik, misalnya emiten yang tergabung dalam indeks LQ45.

Selain saham, obligasi pemerintah juga dinilai menarik karena berpotensi memberikan keuntungan ganda apabila suku bunga mulai turun, yakni dari kupon rutin maupun potensi kenaikan harga obligasi (capital gain).

"Kalo yang lebih cenderung aman bisa masuk ke reksadana pasar uang," pungkas Dandy.

[Gambas:Youtube]

(pta)