AKURAT.CO Pembangunan data center yang berkaitan dengan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) di Cheyenne, Wyoming, Amerika Serikat, memicu persoalan lingkungan setelah bakteri langka ditemukan dalam air limbah dari fasilitas tersebut. Pemerintah setempat bahkan menghentikan sementara pembuangan limbah industri dan penggunaan kembali air olahan untuk irigasi.
Kasus ini bermula dari aktivitas fill-and-flush, yakni proses pengisian dan pembilasan sistem pendingin ketika pusat data dipersiapkan untuk beroperasi. Air limbah dari fasilitas yang terkait dengan Meta kemudian ditemukan mengandung Cupriavidus gilardii, bakteri yang jarang ditemukan dan dikenal memiliki ketahanan terhadap sejumlah obat.
Apa yang Terjadi di Data Center AI Meta di Cheyenne?
Kasus tersebut terjadi pada kompleks data center seluas sekitar 800.000 kaki persegi di Cheyenne yang masih dalam tahap pembangunan. Fasilitas tersebut berkaitan dengan Meta dan melibatkan Goat Systems LLC serta kontraktor konstruksi Fortis.
Masalah muncul ketika air hasil proses pembersihan sistem pendingin masuk ke saluran pembuangan air limbah setempat. Pemerintah kota kemudian menemukan bakteri Cupriavidus gilardii melalui pengujian rutin yang awalnya dilakukan untuk mendeteksi kontaminasi tinja.
Frank Strong, manajer divisi teknik dan sumber daya air di Dewan Utilitas Publik Cheyenne, mengatakan temuan tersebut bukan sesuatu yang lazim mereka cari dalam pemeriksaan rutin.
“Ini bukan sesuatu yang biasanya kami uji,” ujar Strong kepada Wyoming Tribune Eagle, dikutip Senin, 21 September 2026.
Temuan itu kemudian memicu penyelidikan selama berbulan-bulan untuk mengetahui jenis bakteri sekaligus melacak sumbernya. Menurut keterangan Strong, penelusuran akhirnya mengarah ke saluran pembuangan fasilitas yang berkaitan dengan Meta.
Namun, ada satu hal penting yang belum diketahui. Sumber pasti patogen tersebut di dalam fasilitas data center belum dapat dipastikan.
Dengan demikian, keberadaan bakteri dalam air limbah dan penelusuran salurannya ke fasilitas tersebut tidak otomatis berarti pemerintah telah mengetahui dari mana bakteri itu pertama kali masuk ke kompleks data center.
Bagaimana Bakteri Cupriavidus gilardii Bisa Masuk ke Air Limbah?
Salah satu bagian penting dari kasus ini adalah proses fill-and-flush. Dalam pembangunan data center, sistem pendingin perlu dipersiapkan sebelum fasilitas digunakan.
Proses tersebut dapat melibatkan pengisian sistem dengan air dan pembilasan untuk membersihkan atau mempersiapkan instalasi. Dalam kasus Cheyenne, air dari proses pembersihan sistem tersebut kemudian menjadi bagian dari persoalan limbah industri.
Pemerintah setempat menyebut air limbah dari kompleks Meta mengandung Cupriavidus gilardii. Setelah keberadaan bakteri diketahui dan sumber pembuangannya ditelusuri, operasi pembuangan dari fasilitas tersebut dihentikan.
Strong mengatakan tindakan itu dilakukan segera setelah pemerintah mengetahui keberadaan bakteri dan sumber aliran limbah.
“Begitu kami mengetahui keberadaan bakteri tersebut dan sumber asalnya, kami segera menghentikan operasi mereka,” kata Strong, dikutip dari Futurism, Senin, 21 September 2026.
Artinya, persoalan utama bukan sekadar air yang digunakan dalam sistem pendingin, melainkan apa yang terjadi terhadap air tersebut setelah keluar dari fasilitas.
Inilah salah satu aspek penting dalam memahami dampak lingkungan data center. Infrastruktur pusat data tidak hanya membutuhkan listrik dan sistem pendingin, tetapi juga memiliki hubungan dengan jaringan air dan pengolahan limbah di wilayah tempat fasilitas tersebut dibangun.