BPS: Neraca perdagangan Sulteng Juli 2026 surplus 658,46 juta dolar AS

September 2026 · 3 minute read

BPS: Neraca perdagangan Sulteng Juli 2026 surplus 658,46 juta dolar AS

Jumat, 11 September 2026 15:38 WIB

Image Print

Kepala BPS Sulteng Daryanto. ANTARA/HO-BPS Sulteng

Palu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Juli 2026 mengalami surplus sebesar 658,46 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp11,67 triliun (nilai tukar Rp17.727 per dolar AS) yang ditopang kinerja ekspor lebih tinggi.

“Pada Juli 2026, neraca perdagangan Sulawesi Tengah mengalami surplus dari sisi nilai sebesar 658,46 juta dolar AS atau sekitar Rp11,67 triliun,” kata Kepala BPS Sulteng Daryanto dalam keterangannya, di Palu, Jumat.

Ia mengatakan secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Sulteng pada Januari-Juli 2026 mencapai 6.782,00 juta dolar AS atau sekitar Rp120,22 triliun, meningkat 1.235,43 juta dolar AS atau sekitar Rp21,90 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dia menyatakan secara umum, ekspor dan impor Sulteng selama periode Juli 2025 hingga Juli 2026 mengalami fluktuasi dari bulan ke bulan.

Ia menjelaskan pada Juli 2026, nilai ekspor Sulteng mencapai 2.085,37 juta dolar AS atau sekitar Rp36,97 triliun, meningkat 27,46 persen dibandingkan Juli 2025.

Dia menyebut terdapat tiga komoditas utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor.

Besi dan baja sebesar 1.163,76 juta dolar AS atau sekitar Rp20,63 triliun dengan kontribusi 55,81 persen, nikel 366,54 juta dolar AS atau sekitar Rp6,50 triliun dengan kontribusi 17,58 persen, serta bahan bakar mineral 261,31 juta dolar AS atau sekitar Rp4,63 triliun dengan kontribusi 12,53 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Sulteng hingga Juli 2026 mencapai 14.783,87 juta dolar AS atau sekitar Rp262,07 triliun, meningkat 22,99 persen secara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sulteng pada Juli 2026 dengan nilai 841,34 juta dolar AS atau sekitar Rp14,91 triliun atau 40,34 persen dari total ekspor.

India berada di urutan kedua dengan nilai ekspor 289,39 juta dolar AS atau sekitar Rp5,13 triliun atau 13,88 persen, disusul Vietnam sebesar 218,21 juta dolar AS atau sekitar Rp3,87 triliun atau 10,46 persen.

Secara kumulatif hingga Juli 2026, ekspor terbesar Sulteng ditujukan ke Tiongkok dengan nilai 6.762,45 juta dolar AS atau sekitar Rp119,88 triliun atau 45,74 persen.

Sementara itu, kata dia lagi, nilai impor Sulteng pada Juli 2026 mencapai 1.426,91 juta dolar AS atau sekitar Rp25,29 triliun, meningkat 67,06 persen dibandingkan Juli 2025.

Tiga komoditas utama penyumbang nilai impor yakni bijih, kerak, dan abu logam sebesar 356,34 juta dolar AS atau sekitar Rp6,32 triliun dengan kontribusi 24,97 persen.

Kemudian, bahan bakar mineral 341,73 juta dolar AS atau sekitar Rp6,06 triliun dengan kontribusi 23,95 persen, serta garam, belerang, dan kapur 284,33 juta dolar AS atau sekitar Rp5,04 triliun dengan kontribusi 19,93 persen.

Secara kumulatif, nilai impor Sulteng hingga Juli 2026 mencapai 8.001,84 juta dolar AS atau sekitar Rp141,85 triliun, meningkat 23,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi sumber impor terbesar Sulteng pada Juli 2026 dengan nilai 360,33 juta dolar AS atau sekitar Rp6,39 triliun dan berkontribusi 25,25 persen terhadap total impor.

Australia berada di urutan kedua dengan nilai 209,19 juta dolar AS atau sekitar Rp3,71 triliun atau 14,66 persen, disusul Afrika Selatan sebesar 202,34 juta dolar AS atau sekitar Rp3,59 triliun atau 14,18 persen.

Secara kumulatif hingga Juli 2026, impor terbesar Sulteng berasal dari Tiongkok dengan nilai 2.740,38 juta dolar AS atau sekitar Rp48,58 triliun atau 34,25 persen.

Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026