Borobudur jadi ruang berkarya penyintas kanker
Jumat, 18 September 2026 00:47 WIB
PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia mengundang para penyintas kanker anak dari berbagai daerah untuk mengikuti kegiatan seni dan budaya di Kampung Seni Borobudur. (ANTARA/Heru Suyitno)
Magelang (ANTARA) - Sabrina Alfin Amelia, penyintas leukemia asal Yogyakarta, mengikuti pelatihan membatik dan membuat gerabah dalam rangkaian Cancer Survivors Camp di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, 17 September 2026.
Kegiatan tersebut tidak hanya memberinya kesempatan bertemu dengan sesama penyintas, tetapi juga ruang untuk mengeksplorasi kreativitas.
Saat belajar membatik, Sabrina mengaku mengalami kesulitan karena dirinya kurang teliti dan terkadang mengalami tremor. Hasilnya pun belum serapi yang ia harapkan.
"Kalau saya pribadi memang kurang teliti dan juga agak tremor, jadinya memang agak tidak rapi. Tapi sejauh ini kami menikmati setiap rangkaian acara yang ada," katanya.
Sekitar 50 peserta Cancer Survivors Camp dari berbagai daerah, antara lain Jabodetabek, Makassar, Medan, Bali, dan Yogyakarta, mengikuti kegiatan itu pada 17–19 September 2026.
Pertemuan itu menjadi kesempatan bagi para penyintas kanker anak untuk berkumpul, saling mendukung, berbagi pengalaman, serta membangun pertemanan setelah melewati masa pengobatan.
Sabrina sudah sekitar 27 tahun terbebas dari pengobatan. Pengalaman di Borobudur itu memberi dia kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan seni tradisional secara langsung.
"Hari ini mengikuti pelatihan membatik dan juga pembuatan gerabah. Di sini diberikan wadah dan fasilitas bersama teman-teman dari TWC. Tentunya menjadi sebuah kebanggaan untuk bisa ikut melestarikan budaya itu sendiri," ujarnya.
Bertemu dan berkarya bersama
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Inyuni Community Care melalui kolaborasi PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia.
Para peserta diajak mengenal berbagai aktivitas, budaya, serta potensi wisata yang ada di kawasan Borobudur. Mereka tidak hanya datang untuk melihat candi, tetapi juga mendapatkan pengalaman melalui kegiatan seni dan mengenal aktivitas masyarakat setempat.
Pada hari pertama, para peserta mengunjungi Kampung Seni Borobudur. Di tempat tersebut, mereka mendapatkan edukasi mengenai batik dan gerabah serta kesempatan untuk belajar membuat kerajinan itu secara langsung.
Selain mengikuti kegiatan seni, para peserta diajak mengunjungi museum dan sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di kawasan tersebut.
Sustainability Division Head di InJourney Destination Management (IDM), Ismiyanti, mengatakan kolaborasi dengan Yayasan Onkologi Anak Indonesia tersebut menjadi salah satu upaya TWC untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga memberikan nilai edukasi dan pengalaman baru bagi para peserta.
Melalui kolaborasi ini, pihaknya ingin menghadirkan anak-anak penyintas kanker dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengenal berbagai aktivitas yang ada di kawasan Borobudur. Mereka tidak hanya datang untuk melihat candi, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan mengenal budaya serta aktivitas masyarakat yang ada di kawasan ini.
Ketua Komunitas Kanker Anak Yayasan Onkologi Anak Indonesia Safrina Kasir mengatakan Cancer Survivors Camp bertujuan mempertemukan para penyintas kanker anak dari berbagai daerah agar dapat saling memberikan dukungan, semangat, dan berbagi pengalaman mengenai kehidupan setelah pengobatan.
Terapi seni menjadi salah satu kegiatan yang diberikan kepada peserta. Aktivitas seni dipilih karena para penyintas kini berada pada fase kehidupan yang berbeda setelah menyelesaikan pengobatan.
Selama Cancer Survivors Camp berlangsung di Borobudur, terapi seni dikaitkan dengan kekayaan budaya lokal melalui kegiatan membatik dan membuat gerabah. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman seni, tetapi juga mengenal kerajinan yang berkembang di sekitar kawasan wisata tersebut.
"Terapi seni ini sangat membantu karena para survivor sekarang posisinya sudah ada yang usia remaja, ada yang sudah dewasa. Setelah selesai menjalani pengobatan, mereka kembali sibuk sekolah dan bekerja," katanya.
Ia mengatakan sebagian penyintas mengalami tekanan setelah kembali menjalani aktivitas. Melalui kegiatan seni, mereka mendapatkan kesempatan untuk melihat bahwa masih banyak pengalaman baru yang dapat dieksplorasi di luar rutinitas.
Membatik dan membuat gerabah menjadi media untuk berekspresi sekaligus mengenal budaya yang berkembang di sekitar Borobudur.
"Dengan diadakan terapi seni ini, mereka menjadi lebih rileks. Mereka juga melihat ternyata ada dunia lain yang bisa di-explore di luar sana," ujarnya.
Pengalaman di Borobudur tidak berhenti pada kegiatan membatik dan membuat gerabah. Para peserta juga mengikuti sesi berbagi (sharing session) di Manohara sebelum diajak mengunjungi Candi Borobudur untuk mengenal sejarah dan nilai penting situs warisan budaya tersebut.
Rangkaian kegiatan itu membuat pertemuan para penyintas tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga kesempatan untuk belajar, berkreasi, dan mengenal lingkungan budaya yang berbeda.
Bagi TWC, kegiatan bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan kawasan Borobudur sebagai ruang interaksi yang memadukan wisata, edukasi, seni, budaya, dan kegiatan komunitas.
Sementara bagi para penyintas, kegiatan membatik dan membuat gerabah memberi pengalaman yang dapat dinikmati bersama. Mereka dapat mencoba hal baru, berinteraksi dengan sesama penyintas, sekaligus mengenal budaya lokal.
Kolaborasi antara TWC dan Yayasan Onkologi Anak Indonesia melalui program Inyuni Community Care itu diharapkan dapat terus menghadirkan kegiatan yang inklusif dan memberikan manfaat bagi para peserta di masa mendatang.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.