BMKG prakirakan kemarau di Jateng selatan berpotensi berlangsung hingga Oktober

September 2026 · 3 minute read

BMKG prakirakan kemarau di Jateng selatan berpotensi berlangsung hingga Oktober

Rabu, 9 September 2026 21:39 WIB

Image Print

Peta prakiraan indeks risiko kekeringan di Jawa Tengah pada bulan September 2026. ANTARA/HO-BMKG

Cilacap (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau di Jawa Tengah bagian selatan, khususnya di Cilacap dan sekitarnya berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026 akibat pengaruh fenomena El Nino.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Rabu, mengatakan kondisi cuaca memasuki awal September 2026 mulai bervariasi dengan semakin seringnya kondisi berawan dan hujan di sejumlah wilayah.

Menurut dia, hujan dengan intensitas sangat ringan tercatat pada tanggal 7 dan 8 September, tetapi masih bersifat lokal dan sporadis.

“Pada 7 September, hujan tercatat di Nusawungu 1 milimeter (mm), Binangun 2 mm, Maos 2 mm, dan Jeruklegi 1 mm per hari. Sementara pada 8 September, hujan tercatat di Kroya 1 mm, Nusawungu 1 mm, dan Dayeuhluhur 3 mm. Wilayah lainnya masih belum mengalami hujan,” katanya.

Ia mengatakan hujan tersebut belum dapat mengubah status musim kemarau menjadi musim penghujan karena belum memenuhi kriteria awal musim hujan, yakni curah hujan lebih dari 50 mm dalam satu dasarian dan diikuti kondisi serupa pada dua dasarian berikutnya.

Menurut dia, kondisi curah hujan di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap hingga 9 September masih berada di bawah normal.

“Berdasarkan data normal periode 1991-2020, curah hujan dasarian pertama September seharusnya mencapai 36 mm, tetapi hingga 9 September 2026 tercatat 0 mm,” katanya menjelaskan.

Ia mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi El Nino yang masih berlangsung.

Menurut dia, indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) rata-rata tiga bulanan periode Juni-Juli-Agustus (JJA) tercatat 2,2 yang menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

“Kondisi itu menyebabkan kemarau berlangsung lebih lama dan lebih kering. Sejak Juni 2026, curah hujan sangat kurang dan sejumlah wilayah Cilacap mengalami hari tanpa hujan dalam periode panjang,” katanya.

Ia mengatakan berdasarkan pemantauan hingga 31 Agustus 2026, Cilacap bagian tengah dan timur masuk kategori kekeringan ekstrem dengan lebih dari 60 hari tanpa hujan. Cilacap bagian barat berada pada kategori enam hingga 20 hari tanpa hujan, sedangkan wilayah selatan mengalami kekeringan sangat panjang selama 31-60 hari.

Untuk September 2026, kata dia, BMKG memprakirakan curah hujan di Cilacap secara umum 0-20 mm per bulan, sedangkan wilayah selatan 21-50 mm per bulan.

“Sifat curah hujan diprakirakan di bawah normal,” katanya.

Ia mengatakan September masih diprakirakan sebagai musim kemarau meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

Menurut dia, prakiraan resmi awal musim hujan wilayah Jateng selatan masih menunggu rilis resmi dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah di Semarang.

“Secara normal, awal musim hujan di Stasiun Meteorologi Cilacap berlangsung pada dasarian ketiga September. Namun, akibat El Nino yang masih berlangsung, awal musim hujan berpotensi mundur hingga Oktober,” kata Teguh menegaskan.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.