Wamen ESDM ungkap alasan harga Pertamax ikuti pasar dunia
Rabu, 2 September 2026 15:53 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot memberi keterangan ketika ditemui setelah The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (2/9/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri/aa.
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti pertamax mengikuti harga pasar minyak dunia.
“Kalau untuk pertamax itu kan prinsipnya itu adalah sesuai dengan harga pasar,” ujar Yuliot ketika ditemui setelah The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.
Yuliot menyampaikan Pertamina memiliki rumus tersendiri untuk menghitung harga BBM nonsubsidi, salah satunya dengan biaya pokok penyediaan (BPP) ditambah margin keuntungan.
“Harga itu (pertamax) kan kan kami lihat itu harga rata-rata (minyak dunia). Dari harga rata-rata ya kira-kira berapa BPP dari Pertamina, kemudian ada margin,” ucap Yuliot.
Harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 September 2026 mengalami perubahan pada sejumlah produk. Pertamina mengumumkan kenaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi, yakni Dexlite, Pertamina Dex, Pertamax Turbo dan Pertamax Green.
Seperti di Jabodetabek, tercatat harga BBM jenis Dexlite (CN 51) menjadi Rp23.700 per liter mulai 1 September, dari Rp19.700 per liter. Untuk Pertamina Dex (CN 53) juga naik dari Rp21.150 per liter menjadi Rp25.200 per liter mulai 1 September 2026.
Lebih lanjut, harga Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp18.300 per liter pada Agustus menjadi Rp19.600 per liter mulai 1 September 2026, dan harga Pertamax Green 95 naik dari Rp16.600 per liter menjadi Rp19.150 per liter yang berlaku mulai 2 September 2026.
Sementara itu, harga Pertamax tetap di level Rp15.950 per liter sejak 1 Agustus 2026. Harga BBM penugasan dan subsidi tidak mengalami perubahan harga, yaitu Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Mengutip Sputnik, harga minyak mentah Brent global naik hingga tembus 96 dolar AS per barel di tengah gelombang baru serangan Amerika Serikat dan Iran, berdasarkan data perdagangan.
Pada pukul 00.58 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 1,48 persen dari penutupan sebelumnya menjadi 96,65 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka WTI untuk pengiriman Oktober naik 1,98 persen menjadi 92,20 dolar AS per barel.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan harga yang signifikan apabila dibandingkan pada akhir Agustus lalu. Harga minyak mentah Brent sempat anjlok pada akhir Agustus 2026 ke kisaran 86,2 dolar AS per barel, melanjutkan penurunan 2,4 persen pada sesi sebelumnya. Begitu pula dengan West Texas Intermediate (WTI) juga turun 5,5 persen menjadi 80,40 dolar AS per barel.
Pewarta : Putu Indah Savitri
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.