Jakarta -
Food truck Bolosego viral usai pemiliknya mengungkap pungutan liar di Alun-alun Kidul, Yogyakarta. Diminta membayar hingga jutaan rupiah. Begini kronologinya!
Rencana berjualan sebuah food truck di Alun-alun Kidul Yogyakarta, Jawa Tengah, berakhir lebih cepat. Usaha kuliner yang seharusnya mangkal lima hari itu akhirnya hanya beroperasi selama sehari, gegara pungli atau pungutan liar yang ada di sana.
Kisah ini bermula dari video Dyah, pemilik brand kuliner lokal asal Yogyakarta, Bolosego, yang mengungkap alasan food truck-nya batal berjualan lima hari di Alun-alun Kidul. Unggahan pada akun TikTOk @dyahfardisa, (18/9/2026), kemudian viral dalam waktu singkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bolosego yang terkenal dengan menu oseng mercon ini awalnya dijadwalkan berjualan pada 16-20 September 2026 di Alun-alun Kidul atau ALkid, Yogyakarta. Menurut Dyah, mereka sudah mengurus izin melalui jalur resmi sebelum berjualan.
Ia menyebut izin tersebut berasal dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Surat izin itu disebut ditandatangani GKR Condro Kirono dan mencantumkan area serta waktu berjualan.
Dyah Fardisa, pemilik food truck Bolosego, ungkap berbagai pungli yang dialami saat hendak berjualan di Alun-alun Kidul, Yogyakarta. Foto: TikTok/dyahfardisa
Setelah izin didapat, pihak Bolosego langsung membuat konten promosi untuk mengumumkan lokasi jualannya. Namun, sehari sebelum berjualan, tim mendapat kabar mengenai biaya dari paguyuban parkir.
"Jadi karena dipakai truk kita dari jam 2 sampai jam 10 malam, paguyuban parkirnya butuh kompensasi," tuturnya.
Jika berlangsung lima hari, biaya tersebut mencapai Rp12,5 juta atau Rp2,5 juta per hari. Setelah dinegosiasikan, biaya akhirnya menjadi Rp1 juta per hari atau Rp5 juta untuk lima hari.
Dyah mengaku timnya juga diminta menyediakan konsumsi untuk 10 orang yang berjaga di sana selama berjualan. Biaya konsumsi tersebut disebut mencapai Rp1 juta untuk lima hari.
Kondisi semakin membuat pemilik keberatan karena listrik di lokasi juga tidak bisa digunakan. Sehingga Bolosego harus membawa genset dan membeli solar sendiri untuk sumber kelistrikan mereka.
Ia dimintai mulai dari uang tunai hingga sejumlah makanan. Foto: TikTok/dyahfardisa
Di tengah situasi tersebut, Dyah mengaku mendapat telepon dari pihak kepolisian. Menurut Dyah, ketiga anggota polisi tersebut sempat datang dan membantu memediasi persoalan.
Ia juga mengatakan pihak polisi turut membantu mempertanyakan persoalan listrik yang tidak dapat digunakan. Setelah pungutan-pungutan tersebut, Dyah akhirnya berubah pikiran dan berhenti berjualan walau baru sehari beroperasi.
Setelah viral, pihak paguyuban parkir disebut memiliki iktikad untuk mengembalikan sebagian uang. Awalnya, Dyah mendapat informasi bahwa Rp2 juta akan dikembalikan dengan syarat diambil sendiri.
Namun, Dyah menolak meminta timnya mengambil uang tersebut secara langsung ke lokasi. Akhirnya, pihak paguyuban disebut mentransfer Rp3 juta kepada Bolosego.
"Yang kami permasalahkan bukan nominal itu. Bagi Bolosego sendiri, permasalahan ini sudah selesai. Semoga dari kontenku ini, Jogja semakin aman, semakin nyaman, tidak ada praktik pungli-pungli lagi," tuturnya.
Gegara kejadian tersebut, Bolosego akhirnya pindah tempat berjualan. Mereka tak lagi memilih Alun-alun Kidul sebagai tempat berjualan, melainkan hijrah ke Semarang.
Menanggapi kasus tersebut, pihak Ketaon Yogyakarta angkat suara.
"Pihak Keraton Yogyakarta telah memberikan izin untuk kegiatan food truck tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Terkait kemudian adanya pembayaran parkir serta permintaan lain yang disampaikan oleh yang bersangkutan di media sosial, perlu kami tegaskan bahwa hal tersebut bukan merupakan bagian dari proses perizinan maupun pungutan yang ditetapkan oleh pihak Keraton Yogyakarta," ungkap GKR Condrokirono.
(dfl/adr)