Sabtu, 19 September 2026 - 12:40 WIB
VIVA –Laut Mediterania memiliki risiko tsunami yang cukup serius. UNESCO menyebut peluang terjadinya gelombang tsunami lebih dari 1 meter di Mediterania dalam 30 tahun ke depan mendekati 100 persen.
Baca Juga
Namun, detail dari perkiraan tersebut perlu diperhatikan. Angka itu merujuk pada kemungkinan terjadinya peristiwa tsunami di suatu lokasi di kawasan Mediterania dalam tiga dekade berikutnya, atau kira-kira hingga 2052. Meski demikian, kawasan tersebut memiliki sejumlah kondisi yang dapat memicu tsunami berbahaya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir laman Science daily, Sabtu 19 September 2026, ancaman tsunami di Mediterania ini berasal dari aktivitas tektonik yang masih berlangsung. Pergerakan Lempeng Afrika dan Eurasia menjadi sumber lain yang berpotensi memicu gempa kuat di lepas pantai Afrika Utara. Selain itu, longsor bawah laut juga dapat menjadi pemicu tsunami yang dampaknya terkadang lebih terbatas pada wilayah tertentu.
Baca Juga
Bahaya Tsunami Bukan Hanya Gelombang Raksasa
Tsunami terjadi ketika sejumlah besar air tiba-tiba berpindah atau terdorong, yang sering kali dipicu oleh gempa bumi, longsor, atau letusan gunung berapi. Gangguan tersebut kemudian menyebar ke berbagai arah dan dapat menempuh jarak yang jauh sebelum mencapai pantai.
Baca Juga
Secara historis, tsunami pernah disebut sebagai gelombang pasang, atau raz-de-marée di Prancis dan maremoti di Italia. Tsunami dapat menyebabkan banjir secara tiba-tiba sekaligus menghasilkan arus yang sangat kuat.
Tsunami tidak selalu terlihat seperti dinding air menjulang yang selama ini dibayangkan banyak orang. Tsunami dapat muncul dalam bentuk kenaikan atau surutnya permukaan laut secara cepat, kemudian disusul gelombang yang datang berulang kali.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ketinggian air yang menggenangi daratan dapat berkisar dari beberapa sentimeter hingga beberapa meter. Sementara itu, arus yang bergerak cepat dapat memberikan tekanan yang setara dengan beberapa ton per meter persegi pada bangunan dan struktur di kawasan pesisir. Gelombang pertama juga belum tentu menjadi gelombang terbesar.
Tsunami dengan skala yang relatif kecil sekalipun tetap perlu diwaspadai. Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia mencatat bahwa tsunami dengan amplitudo hanya 50 sentimeter dapat berbahaya karena besarnya energi dan pergerakan air yang berlangsung terus-menerus. Kondisi tersebut dapat membuat air bergerak seperti arus deras, bukan sekadar gelombang laut biasa.
Halaman Selanjutnya
Secara global, tsunami telah menewaskan lebih dari 250.000 orang sejak 1970. Bencana tsunami di Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 dan tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011 menyumbang sebagian besar jumlah korban tersebut.