Trump Tolak Proposal Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Akankah Serangan Kembali Terjadi?

September 2026 · 2 minute read

Minggu, 27 September 2026 - 06:30 WIB

VIVA –Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu waktu setempat menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump menyebut proposal tersebut tidak dapat diterima.

Baca Juga

Sebagaimana diketahui, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengumumkan bahwa Teheran telah mengajukan tawaran baru kepada AS. Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan pembukaan kembali jalur perairan strategis itu dan dimulainya kembali perundingan antara kedua negara, dengan imbalan AS memenuhi sejumlah tuntutan lama Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Araghchi tidak menjelaskan secara rinci persyaratan yang diajukan. Namun, dia mengatakan tuntutan tersebut tidak lebih dari poin-poin yang sebelumnya tercantum dalam Memorandum of Understanding (MoU) AS-Iran yang ditandatangani pada Juni. Kesepakatan itu kemudian runtuh tak lama setelahnya akibat kembali pecahnya pertempuran.

Baca Juga

Kesepakatan awal tersebut mencakup sejumlah ketentuan mengenai keringanan sanksi, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian operasi militer, termasuk di Lebanon. Namun, Trump langsung menolak proposal terbaru Iran tersebut.

"Saya menolak proposal mereka.  Mereka ingin membuat kesepakatan agar selat itu segera dibuka karena mereka kalah telak. Mereka ingin membuat kesepakatan, dan menurut saya itu baik. Saya juga suka membuat kesepakatan, tetapi kesepakatan itu tidak dapat diterima," kata Trump ketika ditanya wartawan mengenai pandangannya terhadap rencana Iran dikutip dari laman CNN Internasional, Minggu 27 September 2026.

Baca Juga

Di sisi lain, berdasarkan keterangan Araghchi, proposal tersebut akan mulai berlaku segera setelah Amerika Serikat menerima rencana ini.

"Jika persyaratan yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dipulihkan dalam waktu tujuh hari. Kini pilihan berada di tangan Amerika Serikat. Kalian tidak bisa membom sebuah negara, mengancam akan memusnahkannya, memberlakukan blokade maritim dan langkah-langkah pemaksaan, lalu berharap keamanan dan pelayaran dapat kembali normal secara otomatis," kata Araghchi kepada wartawan saat berkunjung ke New York untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

AS Tidak Terburu-buru

Menanggapi pernyataan Araghchi, seorang pejabat Gedung Putih sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa AS tengah melakukan pembicaraan yang positif dan konstruktif melalui para mediator. 

Halaman Selanjutnya

"Amerika Serikat berada dalam posisi yang sangat kuat dengan mengendalikan Selat Hormuz, jadi kami tidak terburu-buru," kata pejabat tersebut.