Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membuka jutaan hektare dasar laut di Pasifik bagi eksplorasi mineral memicu penolakan dari sejumlah wilayah AS di kawasan tersebut. Kebijakan ini muncul di tengah persaingan Washington dan Beijing untuk mengamankan pasokan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi dan pertahanan.
Marine Mineral Administration (MMA) di bawah Departemen Dalam Negeri AS pada Selasa lalu merilis proposal untuk melelang hak sewa eksplorasi dan penambangan laut dalam seluas sekitar 28 juta hektare di lepas pantai Kepulauan Mariana Utara dan Guam. Area tersebut berada di dekat Palung Mariana, salah satu kawasan laut terdalam di dunia.
Gubernur Kepulauan Mariana Utara David Apatang mengatakan pemerintahannya akan menanggapi proposal tersebut dengan "sangat hati-hati". Ia menegaskan aktivitas survei maupun eksplorasi tidak boleh dilakukan tanpa "studi dasar ilmiah yang ketat, transparansi penuh, serta perlindungan yang jelas bagi sumber daya laut kami".
Apatang mengatakan pemerintahannya akan mengkaji seluruh ketentuan proposal dalam 60 hari ke depan. Menurut dia, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan integritas ekologis perairan dan kesejahteraan jangka panjang Kepulauan Mariana Utara tetap terlindungi.
Penolakan lebih keras datang dari Guam. Wakil Gubernur Guam Joshua Tenorio mengatakan wilayah tersebut memahami pertimbangan keamanan nasional dan kebutuhan strategis Washington, tetapi menolak jika kepentingan tersebut harus dibayar dengan risiko lingkungan.
"Keamanan nasional tidak boleh berarti meminta masyarakat Pasifik untuk menerima risiko lingkungan sebelum risiko-risiko tersebut dipahami sepenuhnya," kata Tenorio, seperti dikutip The Guardian, Senin (24/8/2026).
Ia bahkan menegaskan, secara tegas menentang upaya penambangan laut dalam di wilayah tersebut. Tenorio juga meragukan jaminan bahwa aktivitas penambangan tidak akan langsung dimulai setelah izin eksplorasi diberikan.
"Menurut saya ini adalah hal yang tidak bisa begitu saja kita percayai karena situasinya berkembang dengan sangat cepat," ujarnya.
Proposal di Mariana muncul beberapa pekan setelah AS memulai proses penyewaan dasar laut seluas sekitar 12,4 juta hektar di sekitar Samoa Amerika. Kontrak untuk wilayah tersebut direncanakan diberikan pada November.
Gubernur Samoa Amerika Nikolau Pula juga menentang penambangan laut dalam. Ia memperingatkan proses ekstraksi yang belum teruji berpotensi mengancam industri tuna, yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian wilayah tersebut.
Penolakan juga bergulir ke jalur hukum. Pada 19 Agustus, kelompok lingkungan di Samoa Amerika dan Hawaii menggugat pemerintah AS untuk menghentikan rencana lelang izin dasar laut, dengan alasan lembaga federal belum mengevaluasi secara memadai potensi kerusakan terhadap ekosistem laut.
Dalam gugatan di pengadilan Hawaii, Fa'asao Ameika Samoa dan Conservation Council for Hawaii memperingatkan aktivitas ekstraksi dapat menghancurkan kehidupan di dasar laut, mengaduk sedimen yang berpotensi membawa zat beracun ke rantai makanan, serta menghasilkan kebisingan yang membahayakan mamalia laut dan satwa liar lainnya.
Di sisi lain, MMA menyatakan telah menyelesaikan kajian lingkungan untuk usulan sewa komersial mineral strategis di kawasan Mariana dan akan mempertimbangkan masukan dari para gubernur wilayah terkait. Badan tersebut juga telah dimintai tanggapan mengenai kekhawatiran atas proses penyewaan di Samoa Amerika.
(luc/sef)
[Gambas:Video CNBC]