Manokwari (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (TEP Unair) mengintegrasikan budaya lokal Kabupaten Manokwari, Papua Barat ke dalam penyusunan modul literasi untuk menghadirkan materi pembelajaran yang kontekstual bagi peserta didik sekolah dasar.
Koordinator Tim 7 TEP Unair Imam Gazi di Manokwari, Rabu, mengatakan penyusunan modul berbasis budaya lokal diawali dengan pemetaan persoalan pendidikan dasar agar dapat menjawab kesenjangan kemampuan literasi peserta didik.
“Pemetaan persoalan pendidikan dasar difokuskan di kawasan Distrik Warmare, Prafi, dan Masni,” ujarnya.
Ia menjelaskan hasil pemetaan menjadi dasar penyusunan modul pembelajaran partisipatif-kolaboratif yang mengintegrasikan kemampuan literasi dasar dengan nilai budaya dan lingkungan sekitar peserta didik.
Modul yang dirancang tersebut melibatkan peran orang tua dalam mendampingi proses belajar anak, sehingga penguatan kemampuan literasi tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi dimulai dari lingkungan keluarga.
“Materi disusun dekat dengan realitas kehidupan murid untuk menjawab ketimpangan literasi lintas fase dan keterbatasan buku ajar,” kata Imam.
Menurut dia, penggunaan budaya dan lingkungan setempat sebagai konteks pembelajaran diharapkan memudahkan peserta didik memahami materi karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut sekaligus dapat menjadi alternatif dalam mengatasi keterbatasan bahan ajar serta perbedaan kemampuan literasi dari masing-masing peserta didik pada setiap fase pembelajaran di sekolah.
“Budaya dan lingkungan sekitar menjadi sumber belajar agar materi lebih mudah dipahami peserta didik,” ujarnya.
Penyusunan modul melibatkan guru dan kepala sekolah melalui diskusi kelompok terpumpun di Kampung Udapi, Distrik Prafi, pada Selasa (29/9), termasuk menghimpun masukan dari praktisi, akademisi Fakultas Ilmu Budaya Unair, perwakilan Kemendikdasmen, serta Indonesia Mengajar.
Keterlibatan tenaga pendidik bertujuan menghimpun pengalaman pembelajaran sekaligus memastikan materi dalam modul sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik di kawasan Warmare, Prafi, dan Masni (Warpramasi).
“Kami ingin penguatan literasi tetap berjalan tanpa mengabaikan identitas budaya Papua,” kata Imam.
Kepala Dinas Pendidikan Manokwari Parjiyanti mengatakan pemerintah daerah menyambut baik pengembangan modul tersebut karena materi pembelajaran dikaitkan dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat.
Pembelajaran kontekstual diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung bagi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih dekat dengan kondisi peserta didik, sekaligus menjadi alternatif menghadapi keterbatasan bahan ajar.
“Penyusunan modul pembelajaran yang dikaitkan dengan budaya di Manokwari ini merupakan terobosan baru,” kata Parjiyanti.
Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.