Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) menilai perkembangan kecerdasan artifisial (AI) akan memberikan dampak terhadap industri animasi, terutama dalam proses kerja, namun tidak serta-merta menggantikan peran animator.
Ketua AINAKI Daryl Wilson mengatakan AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu proses produksi animasi. Menurut dia, keputusan akhir dalam penggunaan AI tetap berada di tangan manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menilai apa yang dihasilkan teknologi tersebut.
"Dengan pengembangan AI yang dalam waktu singkat aja berkembangnya dahsyat, yakin pasti memberikan dampak kepada industri dan khususnya ke profesi ini, tapi, saya melihat AI tidak menggantikan manusianya, karena kami pun, di studio melakukan riset dengan menggunakan AI di beberapa aspek divisi di tim, jadi AI adalah alat," kata Daryl pada kunjungannya ke ANTARA Heritage Center, Jakarta, Selasa.
Baca juga: Sejarah Studio Ghibli sebagai penghasil animasi legendaris Jepang
Menurut pria yang juga sutradara animasi untuk proyek film dan seri animasi "Si Juki" tersebut, riset dengan AI tersebut mencakup sejumlah tahapan produksi, mulai dari penulisan cerita, pembuatan desain, hingga storyboard. Daryl dan tim juga mencoba membuat sampel dan proyek percontohan untuk menerapkan alur kerja (pipeline) dengan menggunakan AI.
Daryl menilai kemampuan AI dalam menghasilkan keluaran tetap bergantung pada informasi dan arahan yang diberikan oleh penggunanya. Hasil yang diberikan AI juga harus dinilai kembali oleh manusia agar sesuai dengan kebutuhan produksi.
"AI akan pintar kalau penggunanya bisa memberikan informasi yang benar, dan ketika AI menghasilkan usulan misalnya, itu pun harus kita nilai sampai akhirnya itu sesuai dengan apa yang kita mau. Jadi, tetap pada akhirnya keputusannya itu adalah keputusan manusia juga ketika kita menggunakan AI," ujarnya.
Baca juga: SAG-AFTRA ratifikasi kontrak yang melindungi hak pengisi suara dari AI
Daryl menjelaskan, kebutuhan dalam produksi animasi tidak hanya sebatas menghasilkan gambar atau video. Animator dan tenaga profesional lainnya tetap perlu menentukan berbagai detail, seperti karakter, pakaian, jenis objek, sudut pengambilan gambar, hingga emosi yang ingin ditampilkan.
Menurutnya, pengetahuan dan pengalaman profesional tetap dibutuhkan untuk menentukan hasil akhir yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Jika AI belum mampu menghasilkan sesuatu sesuai kebutuhan, proses manual tetap diperlukan.
Daryl mengibaratkan perkembangan AI seperti hadirnya alat pemotong otomatis yang mengubah proses kerja, tetapi tidak menghilangkan pengetahuan manusia mengenai material dan cara menggunakannya.
Baca juga: Suara Edith Piaf akan dibuat ulang dengan AI untuk film animasi
"Begitu dia belajar alat baru itu bisa dia terapkan dengan pengetahuan yang dia punya sebelumnya, dan akan menghasilkan karya yang juga bisa bagus, jadi sekali lagi saya melihat itu alat, proses kerjanya saja nanti yang akan berbeda," imbuhnya.
Ia menilai perubahan tersebut membuat pekerja di industri animasi perlu memahami teknologi baru sekaligus mempertahankan pengetahuan dan keahlian yang telah dimiliki. Dengan demikian, AI dapat digunakan untuk mendukung proses kerja, sementara penentuan kualitas dan hasil akhir tetap membutuhkan peran manusia.
Baca juga: Film animasi Panji Tengkorak sajikan silat yang kuat dan ekspresif
Baca juga: Film animasi Panji Tengkorak digarap 250 personel selama tiga tahun
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.