Sun Life Ungkap 92 Persen Masyarakat Indonesia Rasakan Dampak Inflasi |Republika Online

September 2026 · 3 minute read

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan inflasi masih dirasakan mayoritas masyarakat Indonesia. Sun Life Asia Financial Resilience Index 2025 mencatat, sebanyak 92 persen responden di Indonesia merasakan dampak inflasi, dengan 46 persen di antaranya menyatakan tekanan tersebut signifikan terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Temuan tersebut menunjukkan tekanan biaya hidup masih menjadi tantangan bagi ketahanan finansial masyarakat. Kondisi ini membuat perencanaan keuangan dan akses terhadap pendampingan finansial menjadi semakin penting agar masyarakat dapat menyesuaikan pengelolaan keuangan dengan kebutuhan dan kondisi ekonomi.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan terus memperluas akses layanan dan pendampingan kepada masyarakat.

“Bagi Sun Life, kepercayaan nasabah adalah alasan kami terus berinovasi dan memperluas layanan. Temuan Sun Life Asia Financial Resilience Index 2025 menunjukkan bahwa 92 persen responden di Indonesia merasakan dampak inflasi, termasuk 46 persen yang menyatakan inflasi berdampak signifikan terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Albertus dalam rangkaian peringatan Hari Pelanggan Nasional 2026 di Jakarta.

Menurut Albertus, pendampingan finansial dibutuhkan agar masyarakat dapat memahami kebutuhan perlindungan sekaligus menyusun perencanaan keuangan secara lebih sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Karena itu, kami ingin menghadirkan akses yang lebih dekat, hubungan yang lebih personal, dan pendampingan yang relevan agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat merencanakan masa depan dengan lebih aman dan percaya diri,” katanya.

Upaya memperluas akses tersebut salah satunya dilakukan melalui peresmian Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) Sun Billionaire di Menara Sun Life, Jakarta Selatan. Kantor pemasaran tersebut diharapkan menjadi ruang bagi nasabah untuk berdiskusi secara langsung dengan tenaga pemasar mengenai kebutuhan perlindungan dan perencanaan keuangan.

Perluasan akses layanan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya inklusi keuangan nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan berada di level 66,46 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti tingkat pemahaman yang sama mengenai produk dan layanan keuangan. Karena itu, edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting agar masyarakat dapat memilih dan memanfaatkan produk keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Sun Billionaire merupakan agency yang bergabung dengan Sun Life pada awal 2026. Hingga Agustus 2026, agency tersebut didukung sekitar 52 tenaga pemasar, yang mayoritas berusia di bawah 40 tahun dan memiliki latar belakang di sektor perbankan maupun asuransi jiwa.

Founder Sun Billionaire Arif Triana Pamungkas mengatakan kantor tersebut tidak hanya ditujukan untuk pengembangan tim, tetapi juga menjadi tempat bagi nasabah mendapatkan pendampingan finansial.

“Kami ingin membangun agency yang tidak hanya tumbuh dari sisi bisnis, tetapi juga mampu menjadi mitra yang dekat dan tepercaya bagi nasabah. Dengan dukungan Sun Life, kami berharap dapat membantu lebih banyak keluarga Indonesia memiliki perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Arif.

Melalui perluasan akses dan pendampingan tersebut, Sun Life berharap masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap produk keuangan, tetapi juga mampu memahami dan memilih solusi yang sesuai dengan kondisi finansial serta kebutuhan jangka panjang.