Solok percepat normalisasi dua sungai

September 2026 · 3 minute read

Penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, terus bergerak melalui pembersihan akses jalan, pemulihan aliran sungai, dan pemenuhan kebutuhan warga terdampak. Pengerukan Sungai Batang Baliang dan Sungai Koto Gaek sepanjang dua kilometer ditargetkan rampung dalam dua minggu, disertai penyiapan desain sabo dam untuk mendukung perlindungan kawasan dari risiko bencana susulan.

BWS Sumatera V mengerahkan empat alat berat di sungai untuk membersihkan material yang menyumbat aliran. Penanganan darurat juga mencakup perkuatan tebing dan tanggul guna melindungi permukiman, perkantoran, serta infrastruktur di sekitarnya.

Material batu besar hasil pengerukan dimanfaatkan untuk memperkuat tebing dan tanggul penahan. Pada bagian hilir, normalisasi dilengkapi perkuatan bronjong untuk menangani sedimentasi dan penyempitan aliran. Pembersihan juga menjangkau jembatan yang tersumbat material agar air dapat kembali mengalir lebih lancar.

Pemulihan sungai berjalan bersamaan dengan pembersihan jalur nasional Padang–Solok di kawasan Arosuka Km 36+600. BPJN Sumatera Barat memobilisasi 26 alat berat dan kendaraan pendukung untuk menyingkirkan batu, lumpur, serta material lainnya. Lalu lintas dilayani dengan sistem buka-tutup selama pekerjaan berlangsung.

Selain mengangkat material, petugas menyemprot permukaan dan bahu jalan untuk mengurangi lumpur licin yang membahayakan pengguna. Dua mesin pemecah batu turut dioperasikan agar pembersihan batu besar dapat dilanjutkan dan akses masyarakat semakin membaik.

Perkembangan tersebut ditinjau Tim Supervisi Posko Nasional Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera bersama Wakil Bupati Solok dan instansi teknis. “Jembatan yang tersumbat dibersihkan baik di Jembatan Arosuka maupun di jalan poros,” tulis Ketua Tim Monev Khusus Kombes Pol Dennie Andreas Dharmawan dalam laporan hasil peninjauan.

Untuk memperkuat penanganan jangka panjang, BWS Sumatera V merencanakan penyusunan desain teknis sabo dam di kawasan hulu. Tim supervisi merekomendasikan pengawalan Posko Nasional Satgas PRR terhadap penyelesaian desain tersebut agar rencana perlindungan dari material banjir bandang dapat berlanjut ke tahap konstruksi.

Di tengah pekerjaan infrastruktur, kebutuhan warga tetap menjadi perhatian utama. Data per 24 September 2026 mencatat 411 jiwa terdampak langsung, dengan 53 keluarga atau 183 jiwa masih berada di pengungsian. Pendataan pengungsi mencakup 38 lansia, 39 balita, enam bayi, dan tiga ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih setelah jaringan perpipaan terputus, BPBPK Sumatera Barat mengerahkan tiga mobil tangki air ke posko pengungsian. Bantuan logistik awal dari BNPB telah disalurkan, sementara posko utama mendata kembali kebutuhan perlengkapan bayi dan perempuan, peralatan memasak, serta alat kebersihan agar bantuan lanjutan sesuai dengan kondisi warga.

Pendampingan kesehatan dan psikososial juga didorong untuk terus menjangkau kelompok rentan. Bersamaan dengan itu, tim SAR gabungan melanjutkan pencarian satu warga yang masih hilang dengan memperluas penyisiran hingga delapan kilometer, dibantu alat berat, anjing pelacak, dan drone termal. Laporan mencatat satu korban meninggal dunia dan empat orang luka-luka.

Lebih dari 1.000 personel lintas instansi terlibat dalam penanganan yang dibagi ke dalam empat sektor kerja. Pengerahan tersebut turut mendukung pembersihan kompleks perkantoran Pemkab Solok agar pelayanan masyarakat dapat segera pulih setelah 11 kantor dinas terdampak timbunan lumpur.