Jakarta (ANTARA) - Perusahaan semikonduktor asal Korea Selatan, SK Hynix, tengah menjajaki kesepakatan dengan Intel untuk memproduksi chip memori di Amerika Serikat.
Dilansir dari laporan GSM Arena pada Rabu (16/9) waktu setempat, terdapat dua opsi yang sedang dipertimbangkan perusahaan.
SK Hynix dapat menyewa sebagian fasilitas produksi chip milik Intel di Ohio atau membentuk perusahaan patungan bersama Intel dan sejumlah perusahaan cloud besar yang tengah berupaya mengamankan pasokan chip memori.
Namun, pembicaraan tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan belum menghasilkan kesepakatan akhir. SK Hynix dikatakan sedang mempertimbangkan berbagai langkah, termasuk membangun basis produksi tambahan untuk memperkuat daya saing bisnis memorinya, tetapi belum ada keputusan yang ditetapkan.
Baca juga: Produsen cip memori Korsel SK hynix bukukan rekor kinerja keuangan
Intel juga belum memberikan komentar mengenai pembicaraan tersebut. Perusahaan hanya menyatakan tetap melanjutkan investasinya di Ohio.
Intel sebelumnya mengumumkan rencana investasi hingga 100 miliar dolar AS (Rp1.773 triliun) untuk fasilitas produksi di Ohio pada 2022. Produksi di pabrik tersebut semula dijadwalkan dimulai pada 2025, tetapi jadwalnya kini mundur hingga paling cepat tahun 2030.
Potensi kerja sama dengan SK Hynix dinilai dapat memberikan pemanfaatan tambahan bagi fasilitas tersebut di tengah penundaan pembangunan dan produksi. Setelah laporan mengenai pembicaraan itu muncul, saham Intel dan SK Hynix tercatat mengalami kenaikan.
Baca juga: Samsung hingga SK Hynix hadapi gugatan atas kenaikan harga RAM
Meski demikian, salah satu tantangan yang mungkin muncul adalah persetujuan dari pemerintah Korea Selatan. Jenis chip yang akan diproduksi SK Hynix di Amerika Serikat belum diketahui.
Apabila kesepakatan tersebut mencakup produksi teknologi memori canggih seperti HBM (High Bandwidth Memory) atau DRAM, pemerintah Korea Selatan dapat melakukan peninjauan karena memori tersebut dikategorikan sebagai teknologi sensitif.
Kementerian Perdagangan Korea Selatan mengatakan keputusan mengenai kerja sama tersebut berada pada kewenangan SK Hynix. Namun, apabila kesepakatannya melibatkan "teknologi inti nasional", rencana tersebut akan tunduk pada peninjauan berdasarkan Industrial Technology Protection Act.
Baca juga: OpenAI cari kemitraan dengan Samsung dan SK untuk infrastruktur AI
SK Hynix sendiri menghadapi tekanan yang semakin besar dari pelanggan dan pemerintah di berbagai negara untuk meningkatkan pasokan chip seiring meningkatnya permintaan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan kondisi pasokan semikonduktor global.
Ketua SK Group Chey Tae-won pada Juli mengatakan perusahaan perlu membangun fasilitas produksi di Amerika Serikat jika memungkinkan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika perusahaan menghadapi kebutuhan untuk memperluas kapasitas produksi guna memenuhi permintaan pasar.
Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan juga mendorong SK Hynix memperluas basis produksinya di dalam negeri. Pada Agustus, perusahaan mengumumkan rencana investasi lebih dari 38 miliar dolar AS (Rp674 triliun) untuk membangun fasilitas produksi DRAM dan NAND baru di Korea Selatan.
Baca juga: Samsung bantah rumor soal adopsi teknologi pembuatan chip SK hynix
Rencana produksi di Amerika Serikat juga berlangsung di tengah tekanan dari pemerintah Amerika Serikat. Menteri Perdagangan Amerika Serikat Howard Lutnick sebelumnya mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100 persen terhadap perusahaan asal Korea Selatan dan Taiwan apabila mereka tidak meningkatkan produksi chip di Amerika Serikat.
Dalam kondisi tersebut, kemungkinan kerja sama dengan Intel dapat menjadi salah satu opsi bagi SK Hynix untuk meningkatkan produksi memori di Amerika Serikat sekaligus memenuhi tuntutan peningkatan pasokan chip di pasar global.
Baca juga: SK Hynix persiapkan chip memori 238 layer paling canggih
Penerjemah: Farhan Arda Nugraha
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.