Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 180 anak yang sempat putus sekolah di wilayah Jakarta Barat resmi kembali bersekolah melalui kegiatan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Program Sekolah Kembali di SDN Mangga Besar 15, Tamansari, Jakarta Barat, Selasa.
Para peserta merupakan siswa program pendidikan nonformal Paket A, B, dan C yang berasal dari empat kecamatan, yakni Taman Sari, Tambora, Cengkareng, dan Kalideres.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan bahwa program yang diinisiasi oleh Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat ini ditujukan untuk memastikan seluruh anak di Jakarta mendapatkan hak pendidikan.
"Sesuai namanya, program ini bertujuan untuk mengembalikan anak-anak ke jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. Kami ingin memastikan tidak ada anak di Jakarta yang tertinggal," kata Nahdiana di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan MPLS bagi peserta program "Sekolah Kembali" diselenggarakan selama dua hari, yakni Selasa (28/7) dan Kamis (30/7), dengan konsep yang serupa seperti sekolah reguler untuk membantu siswa beradaptasi kembali.
Meski secara kurikulum tidak memiliki perbedaan prinsip dengan pendidikan formal, kata dia, jalur nonformal ini memberikan porsi lebih besar pada peningkatan kompetensi melalui keterampilan dan pendidikan vokasi. Metode pembelajarannya mencakup tatap muka di kelas, modul, hingga penugasan praktik.
Baca juga: Jumlah anak tidak sekolah di Jakarta Utara capai 22 ribu orang
Nahdiana menambahkan bahwa seluruh rangkaian program Sekolah Kembali diselenggarakan tanpa dipungut biaya atau gratis. Peserta yang memenuhi kriteria usia juga berhak menerima bantuan Kartu Jakarta Pintar (KJP).
"Hari ini adalah acara pembukaan dan nantinya akan diikuti oleh sepuluh wilayah lainnya di DKI Jakarta," ujar Nahdiana.
Secara rinci, dari total 180 peserta, sebanyak 26 siswa berasal dari Kecamatan Taman Sari, 59 siswa dari Tambora, 57 siswa dari Cengkareng, dan 38 siswa dari Kalideres.
Proses belajar mengajar nantinya dipusatkan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) masing-masing wilayah. Khusus untuk Kecamatan Tamansari dan Tambora yang belum memiliki SKB, kegiatan pembelajaran dialihkan ke SDN Mangga Besar 15 dan SDN Angke 03 dengan mengikutsertakan jajaran Dinas Pendidikan dan Sudin Pendidikan DKI Jakarta sebagai tenaga pengajar.
Program ini pun disambut positif oleh para peserta, salah satunya Melisa, peserta didik jenjang Paket B setara SMP yang sempat berhenti sekolah akibat kendala ekonomi.
"Tadinya saya sekolah, terus putus sekolah karena faktor ekonomi dan tidak betah di pondok. Sekarang saya bisa sekolah kembali melanjutkan kelas 3 SMP. Mudah-mudahan saya bisa mengejar cita-cita saya sebagai pengusaha," kata Melisa.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Juli 2026, residu peserta didik (anak tidak/putus sekolah) di Jakarta Barat, yakni sebanyak 20.890 pada jenjang SD dan 32.229 pada jenjang SMP.
Di tingkat daerah, angka anak putus sekolah di wilayah tersebut mengalami penurunan sekitar 67,97 persen.
Baca juga: Sekolah gratis diharapkan tekan jumlah anak tak sekolah di Jakarta
Baca juga: Sekolah gratis diharapkan tekan jumlah anak tak sekolah di Jakarta
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.