Daftar Isi
Jakarta -
Selama ini, banyak orang mengenal lumba-lumba, simpanse, atau gajah sebagai hewan yang memiliki kemampuan berpikir dan memecahkan masalah yang mengesankan. Namun, di sisi lain, ada pula sejumlah hewan yang dikenal memiliki kemampuan kognitif lebih terbatas dibandingkan spesies lainnya.
Tingkat kecerdasan hewan berikut dinilai dari cara mereka bertahan hidup, menghindari predator, mencari makan, hingga ukuran otak yang dimiliki. Berikut beberapa hewan yang disebut memiliki tingkat kecerdasan atau IQ paling rendah.
Panda dan kalkun menjadi dua hewan yang sering disebut memiliki tingkat kecerdasan rendah. Panda menghabiskan sebagian besar waktunya mengunyah bambu sebagai makanan utama, padahal memiliki cakar dan gigi yang dapat digunakan untuk berburu. Karena bambu rendah protein dan lemak, hewan ini tidak memiliki cukup energi untuk berburu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalkun juga dikenal memiliki perilaku yang dianggap kurang cerdas. Hewan ini sering menatap langit saat hujan dengan paruh terbuka sehingga air hujan mengalir ke tenggorokannya. Apa lagi hewan yang disebut memiliki tingkat kecerdasan rendah?
1. Koala
Koala yang sering dipuji karena wajahnya yang menggemaskan ternyata memiliki tingkat kecerdasan yang sangat rendah. Otaknya kecil dibandingkan ukuran tubuhnya.
Dikutip dari laman Global Animal Facts, kemampuan kognitif koala yang sederhana dikaitkan dengan makanan utamanya, yaitu daun eukaliptus. Daun ini rendah nutrisi dan membutuhkan metabolisme yang sangat lambat sehingga hanya menyisakan sedikit energi untuk mengembangkan fungsi otak. Hewan ini juga tidak berusaha melarikan diri saat merasa terancam.
2. Flamingo
Flamingo memiliki proses berpikir yang sangat sederhana. Otaknya terutama dirancang untuk naluri bertahan hidup yang mendasar, seperti mencari makan, kawin, dan menghindari predator.
Burung ini kurang memiliki kemampuan kognitif untuk memecahkan masalah, belajar dari pengalaman masa lalu, atau menunjukkan perilaku sosial yang kompleks. Flamingo memakan alga dan invertebrata kecil yang disaring dari air menggunakan paruhnya.
Cara makan tersebut bukan hanya kurang efisien, tetapi juga membuat flamingo rentan terhadap berbagai risiko. Dikutip dari laman Planet Natural, flamingo harus menghabiskan banyak waktu dengan kepala terendam di dalam air sehingga membuat burung ini lebih rentan terhadap predator.
3. Burung Unta
Burung yang tidak bisa terbang ini juga dianggap sebagai salah satu hewan dengan tingkat kecerdasan rendah. Kekurangan intelektualnya terlihat dalam pola perilaku dan strategi bertahan hidupnya.
Saat merasa dalam bahaya dan tidak bisa melarikan diri, burung unta akan menjatuhkan diri ke tanah dan tetap diam dengan kepala serta leher rata di tanah sebagai upaya kamuflase. Strategi ini dinilai tidak efektif melawan sebagian besar ancaman.
Otak burung unta juga lebih kecil daripada kedua bola matanya. Hal ini menunjukkan bahwa burung unta memiliki lebih banyak ruang di tengkoraknya untuk mata dibandingkan otak.
4. Burung Kakapo
Kakapo dikenal sebagai satu-satunya burung beo yang tidak bisa terbang. Kemampuan kognitifnya terbatas. Burung ini menunjukkan perilaku yang lebih mengutamakan kelangsungan hidup daripada kecerdasan intelektual. Misalnya, alih-alih menghindari predator, kakapo mengandalkan bulunya agar tampak menyatu dengan lingkungan, sebuah strategi yang lebih menunjukkan insting daripada kecerdasan.
Perilaku kakapo yang membingungkan adalah ritual kawinnya. Kakapo jantan mengeluarkan suara keras berfrekuensi rendah yang dapat terdengar hingga lima kilometer untuk menarik perhatian betina. Namun, pada saat yang sama, suara tersebut juga dapat memberi tahu predator akan keberadaannya.
5. Kungkang
Kungkang (sloth) adalah hewan asli daerah tropis dataran rendah Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Hewan yang bergerak lambat ini tidur hampir sepanjang hari dan hampir tidak pernah meninggalkan pohon, kecuali untuk buang air.
Sayangnya, kebiasaan tersebut terkadang membuatnya ceroboh. Tak jarang kukang salah mengira dahan pohon sebagai anggota tubuhnya sendiri. Hal ini dapat menyebabkan kecelakaan bahkan kematian.
6. Kodok Tebu
Kodok tebu juga merupakan salah satu hewan yang disebut memiliki tingkat kecerdasan rendah. Berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan, amfibi ini dikenal karena kemampuan kognitifnya yang terbatas.
Strategi utama kodok tebu untuk bertahan hidup adalah memakan apa pun yang muat ke dalam mulutnya yang besar. Makanannya mulai dari serangga dan mamalia kecil hingga benda mati seperti makanan anjing, bahkan sampah.
Kebiasaan makan sembarangan ini sering kali menimbulkan masalah. Misalnya, kodok tebu dapat menelan zat-zat berbahaya yang menyebabkan kematian. Mereka juga sering bertelur di lokasi yang tidak aman, seperti jalan raya atau tengah ladang. Akibatnya, tingkat kematian keturunannya menjadi tinggi.
7. Bintang Laut
Bintang laut sering dianggap sebagai makhluk yang indah. Namun, tidak seperti hewan yang bergantung pada otak terpusat, bintang laut beroperasi menggunakan sistem saraf yang terdesentralisasi, terdiri atas jaringan saraf yang memungkinkan mereka merespons lingkungan sekitar.
Kurangnya pusat pemrosesan ini membuat bintang laut sering dikategorikan memiliki IQ rendah. Namun, kondisi tersebut justru menunjukkan adaptasi yang unik. Alih-alih menggunakan penalaran kognitif, bintang laut mengandalkan naluri serta kemampuan sensoriknya yang tajam untuk bertahan hidup di berbagai habitat bawah laut.
8. Jerboa
Jerboa banyak ditemukan di daerah kering Afrika dan Asia. Meski terlihat menggemaskan, hewan ini memiliki kemampuan kognitif yang terbatas.
Salah satu alasan jerboa masuk dalam daftar hewan dengan kecerdasan rendah adalah perilakunya yang tampak tidak rasional. Misalnya, saat merasa terancam, jerboa cenderung melompat secara acak, bukan berlari menjauh.
Meski dapat membingungkan predator, pergerakan yang tidak menentu ini justru sering membawa mereka ke dalam bahaya yang lebih besar. Kurangnya pandangan ke depan dan ketidakmampuan memperkirakan risiko dari tindakannya menjadi indikasi keterbatasan kemampuan kognitif hewan ini.
9. Hiu Goblin
Hiu goblin dicirikan oleh moncongnya yang memanjang, rahangnya yang dapat menonjol keluar, serta gigi-gigi panjang menyerupai kuku.
Terlepas dari penampilannya yang menakutkan, hiu goblin menunjukkan perilaku yang mengindikasikan kemampuan kognitif yang terbatas. Misalnya, strategi berburunya sebagian besar didasarkan pada penyergapan, bukan perencanaan.
Hiu ini menghabiskan sebagian besar waktunya menunggu mangsa lewat. Saat mangsa mendekat, hiu goblin langsung menerjang ke depan dan membuka rahangnya dengan sangat cepat, hampir seperti gerakan mekanis.
Perilaku tersebut bukan ciri predator yang menggunakan strategi rumit, melainkan respons naluriah terhadap rangsangan.
10. Ikan Mola-mola
Ikan bertulang pipih raksasa ini mengapung di lautan seperti gumpalan besar. Meski berukuran sangat besar, ikan mola-mola tidak memiliki banyak mekanisme untuk melindungi diri dan tidak mampu memangsa ikan yang lebih kecil secara efektif.
Terlepas dari ukurannya yang mengesankan, ikan mola-mola umumnya hanya memakan ubur-ubur dan penghuni laut lain yang bergerak lambat. Tubuhnya juga sering dipenuhi parasit. Saat ikan ini muncul ke permukaan di bawah sinar matahari, burung laut kerap mematuk parasit yang menempel di tubuhnya.
(elk/tgm)