REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Akademisi dan sejarawan Anthony Hearle Johns yang lebih dikenal sebagai A.H. Johns berpendapat bahwa kecil kemungkinan para pedagang Muslim dari Timur Tengah menjadi aktor utama dalam penyebaran Islam di Nusantara. Menurutnya, peran yang lebih dominan justru dimainkan oleh para sufi pengembara yang aktif berdakwah di berbagai wilayah kepulauan. Melalui pendekatan dakwah yang adaptif dan damai, para sufi tersebut berhasil mengislamkan banyak penduduk Nusantara, setidaknya sejak abad ke-13.
Menurut Johns, keberhasilan para sufi dalam mengislamkan masyarakat Nusantara terutama karena mereka mampu menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang menarik. Mereka lebih menekankan bahwa Islam memiliki banyak kesesuaian dengan kepercayaan dan tradisi yang sudah ada, daripada memaksa masyarakat meninggalkan seluruh kebiasaan lama mereka.
Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII yang ditulis Prof. Azyumardi Azra menerangkan, untuk mendukung pendapatnya, Johns mengkaji berbagai literatur dan sumber sejarah Melayu-Indonesia dengan menggunakan pendekatan tasawuf. Dari penelitian tersebut, ia menyimpulkan bahwa banyak sumber lokal mengaitkan masuknya Islam ke Nusantara dengan para guru pengembara yang memiliki ciri-ciri sebagai seorang sufi.
Karakteristik para guru pengembara tersebut adalah sebagai berikut:
"Mereka adalah para penyiar (Islam) pengembara yang berkelana di seluruh dunia yang mereka kenal, yang secara sukarela hidup dalam kemiskinan; mereka sering berkaitan dengan kelompok-kelompok dagang atau kerajinan tangan, sesuai dengan tarekat yang mereka anut; mereka mengajarkan teosofi sinkretik yang kompleks, yang umumnya dikenal baik orang-orang Indonesia, yang mereka tempatkan ke bawah (ajaran Islam), (atau) yang merupakan pengembangan dari dogma-dogma pokok Islam; mereka menguasai ilmu magis, dan memiliki kekuatan yang menyembuhkan; mereka siap memelihara kontinuitas dengan masa silam, dan menggunakan istilah-istilah dan unsur-unsur kebudayaan pra-Islam dalam konteks Islam." (A.H. Johns, Sufism as a Category in Indonesian Literature and History)
Menurut Johns, berkat wibawa, kharisma, dan kemampuan spiritual yang dimiliki, sebagian guru sufi berhasil menikahi putri-putri dari kalangan bangsawan. Dari pernikahan tersebut, keturunan mereka tidak hanya mewarisi status sebagai keluarga bangsawan, tetapi juga memperoleh kharisma keagamaan yang semakin memperkuat pengaruh mereka di tengah masyarakat.