Sektor jasa penopang pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026

August 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Permata Institute for Economic Research (PIER) mencatat sektor jasa menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026, di tengah pertumbuhan sejumlah sektor utama yang masih menghadapi tekanan.

Head of Industry and Regional Research Permata Bank, Adjie Harisandi mengatakan salah satu sektor jasa yang mencatat pertumbuhan tinggi adalah akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 10,6 persen berkaitan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi yang didorong berbagai program pemerintah, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Sektor-sektor services saat ini masih mendukung cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan bagaimana peran pemerintah melalui berbagai program itu juga memang cenderung banyak masuk ke sektor-sektor yang terkait dengan services,” kata Adjie dalam PIER Economic Review Kuartal II 2026 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Adjie memaparkan ada tiga sektor besar yang berkontribusi cukup tinggi pada pertumbuhan ekonomi nasional yakni sektor makanan dan minuman, kimia dan farmasi, serta logam dan elektronika.

Pada sektor industri makanan dan minuman tumbuh 6,5 persen, sedangkan industri logam dan elektronik tumbuh 8 persen. Pertumbuhan industri makanan dan minuman dinilai berkaitan dengan konsumsi domestik serta dukungan program pemerintah.

Sementara dari sisi kimia dan farmasi, PIER melihat ada dampak dari perang Amerika Serikat, Iran dan Israel yang mengalami tekanan cukup besar terutama terhadap kenaikan harga bahan baku dan juga persediaan bahan baku yang terganggu, yang akhirnya hanya tumbuh 5 persen di kuartal kedua 2026 ini.

Adjie juga memaparkan pertumbuhan tinggi juga terlihat pada sektor listrik dan gas yang mencapai 10,8 persen pada kuartal II 2026. Namun, angka tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan efek basis dari periode sebelumnya. Pada kuartal I 2025, pertumbuhan listrik dipengaruhi program diskon tarif listrik sehingga menciptakan basis yang berbeda.

Di sisi lain, sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,6 persen, antara lain akibat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta penurunan produksi Freeport.

Sektor manufaktur juga tumbuh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional, meski beberapa subsektornya tetap mencatat kinerja positif.

Dengan demikian, struktur pertumbuhan pada kuartal II 2026 menunjukkan semakin pentingnya sektor jasa, perdagangan, dan konsumsi domestik dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.

Pewarta : Fitra Ashari
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026