Satu per Satu Syahid, Kisah Ulama Aceh Pemimpin Perlawanan terhadap Penjajah |Republika Online

August 2026 ยท 2 minute read

Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di tengah gempuran militer Belanda pada awal abad ke-20, para ulama Aceh tampil sebagai motor utama perlawanan lewat perang sabil. Satu demi satu mereka gugur syahid dalam pertempuran, namun semangat jihad melawan penjajah itu tidak pernah padam hingga lebih dari satu dekade kemudian.

Dalam periode awal abad ke-20, rakyat Aceh masih berperang melawan penjajahan yakni kolonial Belanda. Namun rakyat Aceh juga telah mulai berkenalan dengan unsur-unsur kebudayaan Barat, yaitu pendidikan modern yang mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Pada awal tahun 1900 perlawanan terhadap Belanda masih terus berlangsung, antara lain dipimpin oleh Sultan Muhammad Daud Syah, Teuku Panglima Polem Raja Daud, Teungku Di Matale, Teungku Di Barat (Pasai Aceh Utara), Tengku Cot Plieng, Teungku Alue Keutapang, Teungku Di Reubee, Tengku Di Beureueh, Teungku Di Lam Gut (Pidie), Teuku Ben Peukan Meureudu, Teungku Di Krueng Sinagen, Teuku Ben Blang Pidie, Habib Meulaboh, dan teungku-teungku dari Tiro seperti Teungku Chik Mayet dan Teungku Di Buket.

Walaupun Sultan Aceh Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah pada bulan Januari 1903, namun peperangan melawan Belanda masih terus berlangsung. Teungku Cot Plieng beserta pengikutnya melakukan penyerangan secara terus-menerus terhadap Belanda.

Pun demikian di Aceh Utara, perang sabil terus berlanjut yang dipimpin oleh Teungku Di Barat dan Teungku Di Matale bersama-sama dengan pemimpin adat lainnya, yaitu Teungku Chik Di Tunong, Pang Nanggroe, dan Cut Meutia, dilansir dari buku Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Perang melawan penjajah alias kolonial Belanda juga terjadi di Gayo Alas. Untuk menundukkan daerah tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengirimkan Letnan Kolonel Van Daalen untuk mengadakan hubungan politik dengan raja-raja di sana. Di daerah Gayo, Van Daalen mendapat perlawanan yang sengit.

Rakyat Gayo, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan anak-anak sekalipun, dengan gagah berani mempertahankan setiap jengkal tanah pusaka mereka dari gempuran serdadu Belanda.