Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal masih didominasi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat pelaku pasar kembali memburu aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Ditaksir Fluktiatif di Kisaran Rp17.986 hingga Rp18.030
"Indeks dolar AS menguat pada Jumat seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah gelombang serangan baru Amerika Serikat terhadap target Iran. Kondisi ini membuat investor kembali menghindari aset berisiko," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (17/7/2026).
Ibrahim menjelaskan, serangan terbaru AS terhadap sejumlah target Iran terjadi sehari setelah serangan yang merusak kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran. Konflik yang telah memasuki bulan kelima itu kembali memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global.
Menurut Ibrahim, situasi semakin memanas setelah Iran membalas melalui serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Di saat bersamaan, muncul laporan bahwa Teheran meminta kelompok Houthi bersiap menutup jalur distribusi minyak di Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur listrik Iran.
"Kondisi tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi. Kenaikan harga energi berpotensi kembali meningkatkan inflasi global sehingga membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve, semakin berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga," ujarnya.
Ibrahim menambahkan, meskipun data inflasi konsumen maupun produsen Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga mulai mereda, pasar lebih memilih fokus terhadap potensi lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.
"Federal Reserve masih menilai risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Harga minyak yang tinggi bisa menghambat proses disinflasi sehingga peluang penurunan suku bunga masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi beberapa bulan ke depan," jelas Ibrahim.
Di sisi domestik, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih memberikan sentimen positif terhadap pergerakan rupiah. Hal tersebut tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang menunjukkan aktivitas bisnis terus membaik pada kuartal II-2026.
Bank Indonesia mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dunia usaha mencapai 12,97% pada kuartal II-2026, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 10,11%.
Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, konstruksi, pertambangan, hingga penyediaan akomodasi dan makan minum yang memperoleh dorongan dari momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta musim libur sekolah.
Baca Juga: Rupiah Perkasa di Tengah Gejolak Timur Tengah, Ditutup Menguat 82 Poin
Selain itu, tingkat utilisasi kapasitas produksi juga meningkat menjadi 73,8% dari sebelumnya 73,33%. Kondisi likuiditas, rentabilitas, dan kemudahan memperoleh pembiayaan juga dinilai masih berada dalam kondisi yang baik.
Meski demikian, Bank Indonesia memperkirakan aktivitas dunia usaha pada kuartal III-2026 sedikit melambat dengan SBT sebesar 11,75%. Perlambatan tersebut diperkirakan tetap diiringi ekspansi sejumlah sektor seperti industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta pertambangan yang didukung permintaan domestik dan berlanjutnya proyek pemerintah maupun swasta.
Sementara itu, Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia tercatat berada di level 51,43 pada kuartal II-2026. Meski lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 52,03, angka tersebut masih menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi karena berada di atas level 50.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 65 poin ke level Rp17.921 per USD, dari penutupan sebelumnya di Rp17.986 per USD. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat terapresiasi hingga 85 poin.
"Untuk perdagangan Senin pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpeluang ditutup menguat di kisaran Rp17.870 hingga Rp17.930 per USD. Sementara untuk pergerakan selama sepekan diperkirakan berada pada rentang Rp17.750 sampai Rp18.050 per USD," tutup Ibrahim.