Rupiah Melemah ke Rp 17.972 Dibayangi Pelebaran Defisit APBN RI Imbas Lonjakan Harga Minyak Dunia

July 2026 · 2 minute read

Senin, 27 Juli 2026 - 09:24 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

Baca Juga

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.973 pada Jumat, 24 Juli 2026. Posisi rupiah itu melemah 58 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.915 pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 27 Juli 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.972 per dolar AS. Posisi itu melemah 9 poin atau 0,05 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.963 per dolar AS.

Baca Juga

Ilustrasi rupiah dan dolar

Photo :

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kebutuan impor energi Indonesia lebih dari 1,5 juta barel per hari. Saat ini, harga minyak mentah sudah di atas target APBN perubahan yaitu US$83 per barel dan rupiah kembali di Rp 18.000. Sehingga, pemerintah harus menanmbah dolar AS untuk menutupi depisit tersebut. 

Baca Juga

"Kenaikan akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 27 Juli 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertama kalinya neraca dagang defisit US$1,61 milyar setelah mengalami surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$89,1 juta pada April 2026.

Selain itu, pada Mei 2026 nilai ekspor RI tercatat sebesar US$23,2 miliar atau turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama akibat melemahnya ekspor non-migas. Sementara itu, nilai impor Indonesia mencapai US$24,81 miliar atau meningkat 22,16 persen secara tahunan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenaikan impor terutama berasal dari impor bahan baku dan penolong yang mencapai US$17,58 miliar atau tumbuh 25,17 persen dibandingkan Mei 2025. Adapun impor barang modal tercatat sebesar US$5 miliar atau meningkat 12,7 persen secara tahunan.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,4 persen pada kuartal II-2026, melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 5,61 persen. Namun, pemerintah optimistis laju pertumbuhan akan meningkat pada semester II, ditopang terjaganya likuiditas dan penerapan kebijakan fiskal yang prudent.

Halaman Selanjutnya

Guna untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi RI, pemerintah akan memastikan likuiditas di dalam sistem perekonomian tetap memadai, terutama kecukupan likuiditas menjadi faktor penting untuk menopang aktivitas dunia usaha, investasi, dan konsumsi masyarakat.