Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:28 WIB
Jakarta, VIVA โ Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis (1/10/2026) pagi. Pergerakan ini terjadi sehari setelah mata uang Garuda sempat menguat dan menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Baca Juga
Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah berada di level Rp17.915 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.894 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pelemahan tersebut membuat posisi rupiah kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS yang sebelumnya menjadi perhatian pasar.
Baca Juga
Rupiah Sempat Menguat ke Rp17.854
Sehari sebelumnya, rupiah sempat menunjukkan penguatan cukup signifikan. Pada pembukaan perdagangan Rabu, 30 September 2026, rupiah menguat 56 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.925 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.981 per dolar AS.
Baca Juga
Penguatan berlanjut pada perdagangan pagi. Hingga pukul 11.38 WIB, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.854 per dolar AS.
Pergerakan positif tersebut terjadi setelah harga minyak dunia mengalami penurunan cukup besar. Kondisi pasokan energi yang mulai membaik di kawasan Timur Tengah turut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar.
Harga minyak mentah Brent pada perdagangan sebelumnya turun 2,8 persen atau US$2,94 menjadi US$102,35 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$3,50 atau 3,8 persen menjadi US$89 per barel.
Penurunan harga minyak turut memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat karena kondisi tersebut dapat memengaruhi kebutuhan devisa untuk impor energi.
Rupiah Kembali Melemah
Namun, penguatan rupiah tersebut belum bertahan sepenuhnya. Pada Kamis pagi, mata uang Garuda kembali melemah 21 poin dari posisi penutupan Rabu.
Saat berita ini dibuat pada pukul 10.15 WIB, rupiah bahkan bergerak di level Rp17.937 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan posisi pembukaan Rp17.915 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada awal Oktober masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS. Selisihnya sekitar Rp63 dari level tersebut berdasarkan posisi rupiah pukul 10.15 WIB.
Pergerakan nilai tukar masih dipengaruhi berbagai sentimen, termasuk arah dolar AS, kondisi pasar global, harga minyak dunia, serta perkembangan pasokan energi di Timur Tengah.
Halaman Selanjutnya
Sebelumnya, Bank Indonesia juga disebut melakukan langkah stabilisasi melalui pasar valuta asing, termasuk pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).