RI Bikin Kendaraan Listrik Otonom Roda 3, Penampakannya Tak Terduga

July 2026 · 3 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan kendaraan listrik otonom dengan mengintegrasikan sistem pendeteksian dan pengenalan objek. Pengembangan ini bertujuan mendukung mobilitas yang aman dan efisien di lingkungan terbatas.

Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) BRIN, Arief Suryadi Satyawan, menjelaskan bahwa penelitian berfokus pada pengembangan sistem, komunikasi, serta teknologi transportasi. Arief mengungkapkan, pengembangan kendaraan listrik otonom mulai dilakukan pada periode 2021-2022 melalui pendanaan riset. Kendaraan yang dikembangkan berupa kendaraan listrik roda tiga berkapasitas satu penumpang dengan kecepatan rendah. Kendaraan ini dirancang untuk beroperasi di kawasan terbatas, seperti lingkungan kampus, perkantoran, maupun bandara.

"Kendaraan tersebut memanfaatkan integrasi berbagai sensor, seperti LiDAR, kamera 360 derajat, radar, kamera thermal, dan kamera visual. Seluruh sensor bekerja secara terpadu untuk mendeteksi serta mengenali objek di sekitar kendaraan, kemudian diproses melalui sistem komputasi yang tertanam sehingga kendaraan mampu melakukan navigasi dan bergerak secara mandiri. Tantangan yang masih terus kami kembangkan hingga saat ini adalah pada aspek sistem komunikasi, terutama ketika kendaraan menggunakan basis pengumpulan data secara terpusat. Diperlukan sistem komunikasi yang andal agar pergerakan dan perilaku kendaraan dapat dipantau secara real-time," ujar dia dalam keterangan tertulisnya (12/7/2026).

Ia menambahkan bahwa dukungan teknologi dan infrastruktur menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan kendaraan listrik otonom. Menurutnya, pemanfaatan kendaraan di kawasan industri maupun fasilitas produksi memerlukan perhatian terhadap kualitas kendaraan dan sistem operasional. Selain itu, model pembiayaan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Kendaraan yang dikembangkan berpotensi meningkatkan efisiensi energi melalui pengoperasian yang lebih stabil dan halus. Menurutnya, hal tersebut perlu didukung dengan sistem konstruksi berbasis lokal sehingga desain dan proses produksinya lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan.

"Dari segi desain, kendaraan tetap mempertimbangkan aspek kekuatan, ukuran yang kompak, serta fleksibilitas penggunaan. Hal ini membuka peluang pemanfaatan kendaraan, termasuk untuk mendukung sistem distribusi maupun pengiriman barang di area tertentu," ia menjelaskan.

Lebih lanjut, ia dan tim peneliti juga mengembangkan teknologi pendukung berupa super resolution untuk meningkatkan kualitas citra dari data visual yang terbatas. Teknologi ini diharapkan dapat membantu proses pemantauan dan pengiriman informasi visual dengan kualitas yang lebih baik.

Setelah sekitar dua setengah tahun pengembangan, Arief bersama tim peneliti berhasil menghasilkan prototipe kendaraan listrik otonom versi keempat. Prototipe tersebut telah mampu melakukan manuver sederhana secara stabil. Kemampuan tersebut didukung oleh integrasi sistem penerimaan data sensor, pengolahan data, pengendalian arah, dan navigasi yang bekerja secara terpadu.

"Seluruh komponen kendaraan telah terintegrasi dalam sistem komputasi yang tertanam sehingga kendaraan dapat merespons kondisi lingkungan secara otomatis. Capaian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia di bidang riset," katanya.

Hingga saat ini, penelitian tersebut telah melibatkan sekitar 45 mahasiswa. Kegiatan ini juga menghasilkan satu lulusan program doktor yang menyelesaikan studinya melalui topik pengembangan kendaraan listrik otonom.

"Tim peneliti akan terus menyempurnakan sistem kendaraan listrik otonom dari berbagai sisi performa, keandalan, serta kesiapan implementasi. Dengan demikian, kendaraan ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas di berbagai sektor dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutup Arief.

(wur/wur)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]