Bagikan:
JAKARTA - Hampir satu dari lima anak dan remaja di Inggris Raya pernah mencoba vape. Pemerintah kini mengusulkan larangan nama rasa yang menyerupai permen, makanan penutup, dan alkohol, disertai kemasan polos agar produk itu tidak terlalu menarik bagi anak-anak.
Usulan tersebut masih dibahas dalam konsultasi selama 12 pekan. Nama rasa akan disederhanakan menjadi sebutan langsung seperti “apel”, sedangkan nama seperti cola, permen kapas, atau yang berkaitan dengan minuman beralkohol akan dilarang.
Dikutip dari laporan The Independent pada Sabtu, 11 Juli, perangkat vape juga diusulkan hanya tersedia dalam tiga warna, yakni putih, hitam, atau abu-abu.
Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris Raya berencana membatasi warna tulisan, gambar, merek, dan informasi produk. Vape juga akan disimpan di tempat yang tidak terlihat oleh pembeli di toko.
Menteri Kesehatan James Murray mengatakan kemasan berwarna mencolok dan nama yang terdengar manis dapat menyasar anak-anak serta remaja.
“Kami ingin memastikan anak-anak dan remaja tidak mulai menggunakan vape sejak awal,” kata Murray kepada Press Association.
BACA JUGA:
Ia menegaskan vape tetap dapat membantu perokok dewasa berhenti merokok. Namun, pemerintah ingin mencegah produk tersebut dipasarkan dengan cara yang menarik bagi anak-anak.
Data Action on Smoking and Health atau Ash menunjukkan 19 persen anak dan remaja berusia 11 hingga 17 tahun di Inggris Raya pernah mencoba vape. Angkanya hampir satu dari lima orang.
Kepala Petugas Medis Inggris Profesor Sir Chris Whitty sebelumnya menyebut pemasaran vape kepada anak-anak “sama sekali tidak dapat diterima”.
Presiden Royal College of Paediatrics and Child Health Profesor Steve Turner menilai aturan tegas diperlukan untuk melindungi anak-anak dari kecanduan nikotin. Nikotin merupakan zat yang dapat menimbulkan ketergantungan.
“Bagi kami yang setiap hari bekerja dengan anak-anak, jelas bahwa hanya aturan yang kuat dan berarti yang dapat melindungi mereka dari bahaya kecanduan nikotin,” ujarnya.
Kepala Eksekutif Ash Hazel Cheeseman mengatakan warna cerah, gambar, dan tampilan merek telah meningkatkan daya tarik vape bagi anak-anak.
Menurut Cheeseman, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan. Vape tidak bebas risiko, tetapi bahayanya jauh lebih rendah dibandingkan rokok dan telah membantu jutaan orang berhenti merokok.
Usulan kemasan polos mengikuti kebijakan serupa untuk rokok yang berlaku sejak 2017. Pemerintah juga berencana mewajibkan seluruh produk tembakau, termasuk kertas linting dan cerutu, menggunakan kemasan standar.
Bungkus rokok dapat dilengkapi lembar informasi mengenai tempat memperoleh bantuan untuk berhenti merokok.
Pengecualian yang memungkinkan toko bebas bea dan bandara memajang produk tembakau juga akan dicabut. Bila diterapkan, rokok dan produk tembakau lain tidak boleh lagi dipajang terbuka di lokasi tersebut.
The Independent menyebut riset yang dipimpin peneliti University College London dan King’s College London menunjukkan kemasan polos dapat mengurangi minat anak-anak terhadap vape tanpa banyak mengubah ketertarikan orang dewasa.
Penelitian itu melibatkan 2.770 anak dan remaja berusia 11 hingga 18 tahun serta hampir 4.000 orang dewasa.
Sebanyak 53 persen peserta muda menilai teman sebaya mereka tertarik mencoba vape dalam kemasan biasa. Angka itu turun menjadi 38 persen saat produk diperlihatkan dalam kemasan standar dengan nama rasa biasa.
Di kalangan orang dewasa, minat terhadap vape hampir tidak berubah, baik ketika produk menggunakan kemasan putih polos maupun kemasan biasa. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam Lancet Regional Health Europe.
Pejabat kesehatan di Skotlandia, Irlandia Utara, dan Wales mendukung pembatasan tersebut. Mereka menilai warna cerah, gambar kartun, dan nama rasa manis digunakan untuk menarik anak-anak.
Wakil Menteri Kesehatan Pencegahan dan Kesehatan Masyarakat Wales Nerys Evans mengatakan cara pemasaran seperti itu tidak pantas digunakan pada produk yang mengandung nikotin dan dapat menimbulkan kecanduan.
“Hal itu sama sekali tidak dapat diterima,” katanya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+