Datang ke film ini dengan ekspektasi tertentu karena Zach Cregger, setelah Barbarian dan Weapons, membuat rasa penasaran datang: Seperti apa jadinya ketika gaya horornya dibawa ke franchise sebesar Resident Evil?
Biasanya, film Resident Evil membuat kita mengikuti karakter yang perlahan memahami dunia zombie, senjata, virus, dan segala kekacauan yang mengikutinya. Film terbaru Zach Cregger ternyata mengambil jalan yang sedikit berbeda.
Kali ini, kita seperti dilempar masuk ke Raccoon City bersama seseorang yang sama clueless-nya dengan kita. Bryan, seorang kurir medis yang berada di tempat yang salah pada malam yang salah, bukan seseorang yang mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup.
Ia tidak punya persiapan, tidak punya pengetahuan bahwa dunianya akan berubah, tidak langsung tahu harus berbuat apa, ketakutannya terasa lebih normal, dan reaksinya terasa sangat murni seperti manusia biasa.
Mungkin, ketika kita menjadi Bryan yang sama, kita akan memiliki rasa yang serupa. Sehingga kepanikan yang tampil pada layar terasa lebih manusiawi.
Cregger mengatakan pendekatannya terinspirasi dari pengalamannya bermain game, bukan mengadaptasi cerita game tertentu. Hal ini memang membuat filmnya menggunakan elemen seperti keterbatasan sumber daya, struktur misi, perspektif kamera, teka-teki, hingga progression ala pemain (Entertainment, 19/9/2026).
Kita tidak akan selalu tahu apakah sesuatu yang terlihat aman sebenarnya jebakan, dan tidak tahu apakah keputusan Bryan akan membawanya semakin dekat ke keselamatan atau justru ke masalah berikutnya.
Di tengah situasi yang semakin tidak masuk akal. Karakter Bryan punya comedy timing yang pas, dari reaksi dan dialog yang ia lontarkan. Sehingga humor pada film tidak terkesan merusak ketegangan penonton.
Ironisnya, perjalanan Bryan terasa menarik justru ketika kita sudah tahu bahwa perjalanan itu kemungkinan besar tidak akan berakhir baik. Ada sesuatu yang cukup menyenangkan dari melihat karakter yang awalnya benar-benar tidak siap, kemudian perlahan belajar menghadapi dunia yang semakin kacau. Bahkan ketika arah akhirnya sudah bisa ditebak, proses menuju ke sana tetap membuat kita ingin terus melihatnya.
Dalam durasi 90 menit yang relatif singkat, film ini hampir tidak memberikan kesempatan untuk benar-benar merasa bosan. Kita mungkin tahu film zombie seperti ini punya pola yang familiar.
Namun, Resident Evil tetap berhasil membuat perjalanan tersebut terasa menyenangkan karena kali ini kita tidak hanya melihat seorang karakter melawan zombie. Kita melihat seseorang yang sama takut dan tidak siapnya dengan kita jika benar-benar dilempar ke tengah wabah.
Dan mungkin itu yang membuat film ini terasa fresh. Bukan karena Resident Evil menemukan kembali konsep zombie, melainkan karena ia memberikan sudut pandang yang sederhana.
Kamu sudah nonton juga, belum?