Rencana Penghapusan Batas Harga Saham, Kenapa Saham GOTO Diuntungkan? - Bursa Katadata.co.id

August 2026 · 3 minute read

Rencana kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menurunkan batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp 50 menjadi Rp 1 dinilai akan mempengaruhi saham gocap atau saham-saham yang selama ini tertahan di level Rp 50.

Sejumlah saham yang berada di level tersebut antara lain PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO), meski ketiganya punya fundamental sangat berbeda.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai penghapusan batas harga minimum justru berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar. Kebijakan itu akan membuka ruang price discovery dan mengakhiri kondisi saham yang selama ini terkunci di level Rp50. 

“Namun, dampaknya tidak otomatis bullish karena harga nantinya benar-benar akan ditentukan oleh keseimbangan supply-demand,” kata Nafan, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (24/8).

Berdasarkan catatan BEI, harga saham GOTO anjlok ke level Rp50 setelah pemerintah resmi membatasi potongan aplikator maksimal 8%. Kebijakan ini langsung menjadi kekhawatiran pelaku pasar bahwa perusahaan induk Gojek dan Gopay ini berpotensi kembali merugi setelah besaran margin dikurangi.

GOTO sebelumnya sudah mencatatkan kinerja positif yakni pada kuartal II-2026 mencatatkan laba bersih Rp252 miliar, melanjutkan kinerja positif setelah meraih laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I-2026.

Menurut Nafan, kebijakan penghapusan harga saham BEI tersebut secara umum positif dari sisi fleksibilitas dan aksesibilitas perdagangan. Saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 akan memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah sehingga mekanisme pembentukan harga dapat berlangsung lebih fleksibel.

Kondisi tersebut memungkinkan harga saham menyesuaikan dengan fundamental, persepsi pasar, serta kekuatan permintaan dan penawaran.

Soroti Fundamental

Sementara itu, dari sisi likuiditas, kebijakan tersebut juga berpotensi membuka kembali aktivitas perdagangan saham berharga rendah. Selama ini, ketika harga saham telah mencapai Rp 50, ruang penurunan harga di pasar reguler praktis tertutup sehingga proses pembentukan harga menjadi kurang optimal.

Dengan batas minimum baru Rp1, pasar memiliki ruang lebih luas untuk menemukan harga keseimbangan (equilibrium price).

Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa perubahan tersebut tidak otomatis membuat seluruh saham “gocap” menjadi menarik bagi investor. Menurut dia, dampak positif kebijakan tersebut lebih bersifat struktural.

Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah justru berpotensi mengalami penurunan harga lebih lanjut setelah batas minimum Rp50 dihapus.

“Positifnya lebih bersifat struktural dan tidak otomatis berarti seluruh saham “gocap” akan menjadi menarik. Justru investor harus semakin selektif, karena saham yang fundamentalnya lemah dapat mengalami price discovery ke level yang jauh lebih rendah,” katanya.

Karena itu, kebijakan tersebut sebaiknya dipandang sebagai upaya meningkatkan efisiensi mekanisme pasar, bukan sebagai katalis untuk melakukan spekulasi pada saham berharga murah.

Sementara untuk GOTO, Nafan menilai emiten teknologi tersebut memiliki sejumlah faktor penopang, termasuk rencana buyback saham hingga Rp3,5 triliun dan perbaikan kinerja operasional. Namun, investor tetap perlu mencermati apakah kekuatan permintaan saham GOTO mampu mengimbangi potensi tekanan jual setelah batas harga Rp50 dihapus.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan, rencana ini bukan sekedar mengubah angka yang terlihat di layar. Ia menilai hal itu benar-benar membuka kemungkinan suatu saham ditransaksikan hingga Rp1 di pasar reguler continuous auction dan pasar tunai.

Dia menjelaskan sisi positifnya, kebijakan ini bisa membuka antrean saham yang selama ini mentok di Rp50, memberi jalan keluar bagi investor, sekaligus membentuk harga yg lebih sesuai dengan kondisi supply-demand.  

GOTO, misalnya, secara teori memang bisa turun perlahan sampai Rp1, tapi tentu tidak otomatis hanya gara karena aturannya berubah tetap tergantung fundamental, sentimen serta kekuatan jual-belinya.