Bengkulu (ANTARA) - Sudah lebih dari tiga dekade Suryati (63) membuat pendap, makanan tradisional khas Bengkulu yang resepnya ia dapatkan dari orang tuanya dan hingga kini masih terus dipertahankan.
Sejak 1990, perempuan yang tinggal di kawasan Tanjung Agung, Kota Bengkulu, itu membuat sekaligus menjual pendap. Waktu yang begitu panjang ternyata tidak membuat dirinya meninggalkan makanan yang telah menjadi bagian dari kesehariannya tersebut, terlebih pendap hingga kini masih memiliki peminat.
Pendap dibuat dari ikan laut yang dicampur dengan kelapa parut berbumbu, kemudian dibalut berlapis-lapis menggunakan daun talas dan terakhir dibungkus dengan daun pisang.
Proses memasaknya dilakukan dengan cara dikukus dan membutuhkan waktu cukup lama. Enam hingga tujuh jam tentu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu makanan khas ini matang.
Namun bagi Suryati, kesabaran dalam proses memasak menjadi bagian dari usahanya menjaga cita rasa terbaik pendap buatannya agar tidak mengecewakan pembeli.
Lamanya proses pembuatan juga tidak membuat pendap kehilangan peminat. Menurut Suryati, pembelinya tidak hanya berasal dari Kota Bengkulu, tetapi juga dari luar daerah, seperti Curup hingga Lubuklinggau.
“Apalagi kalau dari luar kota, seperti Lubuklinggau (Provinsi Sumatera Selatan), juga Curup. Apalagi kalau hari Lebaran itu omzetnya tinggi,” kata dia.
Masih adanya peminat membuat Suryati terus membuat makanan khas Bengkulu itu hingga sekarang. Namun, bagi dirinya, mempertahankan pendap kini tidak sekadar memastikan makanan tersebut tetap tersedia untuk dijual, tetapi juga menjaga kuliner khas Bengkulu dan resep yang telah diterimanya dari orang tua agar tidak berhenti pada dirinya.
Karena itu, Suryati mulai mengajarkan cara membuat pendap kepada anak-anaknya. Ia ingin keterampilan tersebut terus berpindah kepada generasi berikutnya sehingga apa yang telah dijaganya selama puluhan tahun tidak hilang tertelan zaman.
Bagi Suryati, perubahan zaman tidak dapat dihindari, termasuk dalam cara orang membuat dan menikmati makanan. Namun, ia berharap semakin banyak generasi muda yang mengetahui cara membuat pendap sehingga makanan tradisional tersebut tetap dikenal.
Dirinya juga meyakini pendap yang dibuat dengan resep warisan zaman dahulu memiliki cita rasa tersendiri. Menurutnya, pendap dengan cita rasa seperti itu masih dapat ditemukan di kawasan Tanjung Agung, Kota Bengkulu.
Resep yang dahulu berpindah dari tangan orang tua kepada Suryati kini kembali ia teruskan kepada anak-anaknya. Dengan cara itu, Suryati tidak hanya mempertahankan makanan yang telah dibuatnya sejak 1990, tetapi juga menjaga pengetahuan tentang cara membuatnya agar tetap hidup di keluarganya.
Bagi Suryati, selama resep tersebut masih diwariskan dan ada generasi yang bersedia mempelajarinya, pendap akan tetap punya tempat di tengah perubahan zaman.
Pewarta: Frendika Akbar Pratama/Boyke LW
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.