Jakarta -
Video seorang turis asal China yang membuang sampah sembarangan di Pulau Padar, Labuan Bajo, viral di media sosial. Peristiwa tersebut tidak hanya menuai kecaman, tetapi juga memunculkan diskusi mengenai budaya masyarakat Labuan Bajo dan warga Pulau Komodo yang dikenal menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Aksi turis itu diunggah oleh akun Instagram @jay_gojes. Dalam video tersebut, turis itu langsung ditegur oleh wisatawan asal Australia karena membuang sampah di kawasan wisata. Teguran tersebut pun menuai banyak pujian dari warganet.
Reaksi itu tidak lepas dari upaya masyarakat di Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo yang selama bertahun-tahun menjaga kebersihan serta kelestarian alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi warga setempat, laut, pulau-pulau, dan habitat komodo bukan sekadar destinasi wisata, tetapi ruang hidup yang harus dijaga bersama. Karena itu, tindakan membuang sampah sembarangan dianggap bertentangan dengan nilai yang selama ini dipegang masyarakat.
Berikut budaya masyarakat Labuan Bajo dan Pulau Komodo:
1. Suku Bajo Dikenal sebagai Suku Laut
Nama Labuan Bajo tidak lepas dari keberadaan Suku Bajo. Kelompok masyarakat ini dikenal sebagai Suku Laut karena memiliki kehidupan yang sangat dekat dengan laut.
Sejak dahulu, Suku Bajo dikenal sebagai pelaut ulung yang menjadikan laut sebagai bagian utama dari kehidupan mereka. Mereka memiliki tradisi maritim yang kuat, termasuk kemampuan membaca kondisi laut dan keterampilan menangkap ikan.
2. Tradisi Kepok sebagai Simbol Penyambutan Tamu
Wisatawan yang datang ke Labuan Bajo bisa mengenal tradisi Kepok, yaitu prosesi adat penyambutan tamu khas masyarakat Manggarai. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada orang yang datang.
Dalam pelaksanaannya, Kepok biasanya melibatkan sapaan adat dan penyampaian ungkapan selamat datang sebagai bentuk penerimaan masyarakat lokal terhadap tamu.
3. Festival Komodo Rayakan Budaya Lokal
Festival ini pertama kali digelar pada 2012 dan kini menjadi agenda tahunan yang bertujuan untuk melestarikan sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada wisatawan.
Dalam penyelenggaraannya, Festival Komodo menampilkan berbagai jenis pertunjukan seni seperti tari tradisional, parade budaya, pertunjukan musik tradisional, pameran produk lokal, hingga sajian kuliner lokal.
4. Tari Caci Jadi Simbol Keberanian
Salah satu budaya Manggarai yang terkenal adalah Tari Caci. Tarian tradisional ini menampilkan aksi dua penari laki-laki yang beradu ketangkasan menggunakan cambuk dan perisai.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Caci memiliki nilai tentang keberanian, sportivitas, dan hubungan sosial masyarakat Manggarai.
5. Bahasa Daerah menjadi Identitas Masyarakat
Labuan Bajo menjadi wilayah pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Selain bahasa Indonesia, masyarakat lokal juga masih menggunakan bahasa daerah seperti bahasa Manggarai dan bahasa Bajo.
Bahasa Bajo sendiri memiliki banyak kosakata yang berkaitan dengan kehidupan laut, mencerminkan hubungan erat masyarakat Bajo dengan lingkungan maritim.
6. Nama Labuan Bajo Punya Cerita Sejarah
Nama Labuan Bajo berasal dari dua kata, yaitu "Labuan" yang berarti tempat kapal berlabuh dan "Bajo" yang merujuk pada keberadaan Suku Bajo. Kawasan ini sejak lama menjadi tempat bertemunya masyarakat pesisir dan jalur perdagangan.