Daftar Isi
Jakarta -
Menerapkan pola asuh tanpa tuntutan sempurna menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung tumbuh kembang anak. Sebab, setiap anak memiliki kemampuan, minat, serta cara belajar yang berbeda-beda.
Di tengah banyaknya ekspektasi mengenai prestasi, kemampuan akademik, hingga pencapaian tertentu, orang tua terkadang tanpa sadar memberikan tekanan agar anak selalu menjadi yang terbaik. Padahal, masa tumbuh kembang anak juga membutuhkan ruang untuk bermain, mencoba hal baru, melakukan kesalahan, hingga menemukan potensi unik anak.
Keinginan orang tua untuk memberikan masa depan terbaik bagi anak merupakan hal yang wajar. Namun, ketika harapan berubah menjadi tuntutan untuk selalu sempurna, anak dapat kehilangan kesempatan untuk menikmati proses belajar dan mengeksplorasi kemampuan dirinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui kampanye Hari Anak, Morinaga mengajak para Bunda melihat kembali bahwa setiap anak memiliki perjalanan tumbuh yang berbeda. Anak tidak harus selalu menjadi yang paling unggul atau sempurna, karena setiap anak memiliki potensi yang perlu didukung melalui nutrisi, stimulasi, serta ruang eksplorasi yang tepat.
Morinaga percaya bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi, tetapi juga pengalaman, perhatian orang tua, serta lingkungan yang mendukung anak untuk mengenali dan mengembangkan kemampuannya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Beyond Nutrition, yang menekankan bahwa perkembangan anak membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari nutrisi, stimulasi, hingga kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai pengalaman baru.
Anak Tidak Harus Selalu Sempurna untuk Bisa Berkembang
Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun, membandingkan anak dengan teman sebaya atau memberikan tuntutan berlebihan justru dapat membuat anak merasa takut mencoba.
Penelitian yang dirangkum oleh American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa ekspektasi tinggi dan kritik dari orang tua dapat berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan perfectionism pada anak muda.
Bukan berarti orang tua tidak boleh memiliki harapan terhadap anak. Namun, penting untuk membedakan antara memberikan dukungan agar anak berkembang dengan memberikan tekanan agar anak selalu memenuhi standar tertentu.
Proses mencoba merupakan bagian penting dari pembelajaran. Saat anak bermain, bereksperimen, bahkan mengalami kegagalan kecil, mereka sedang belajar mengenali kemampuan diri, memecahkan masalah, dan membangun percaya diri anak.
Misalnya, ketika anak mencoba menggambar lalu hasilnya belum sesuai harapan, orang tua tidak perlu langsung mengarahkan atau memperbaiki hasil tersebut. Sebaliknya, Bunda dapat memberikan apresiasi terhadap proses yang sudah dilakukan.
Kalimat sederhana seperti, "Wah, kamu sudah berusaha membuat gambar ini," dapat membantu anak merasa dihargai dan lebih berani mencoba kembali.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan konsep growth mindset, yaitu pemahaman bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman, bukan hanya berdasarkan hasil akhir.
Bermain, Mencoba, dan Gagal Jadi Bagian Penting Tumbuh Kembang Anak
Bagi anak, bermain bukan hanya aktivitas untuk mengisi waktu luang. Melalui bermain, anak belajar memahami lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta melatih kemampuan sosial dan emosional.
Mengutip American Academy of Pediatrics (AAP) melalui laporan klinis The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children, bermain memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Aktivitas bermain dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir, bahasa, hubungan sosial, hingga kemampuan mengatur emosi.
Saat bermain, anak juga belajar mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. Misalnya, ketika anak mencoba menyusun balok, membuat karya seni, atau mengikuti permainan baru, mereka sedang melatih kemampuan untuk mencoba berbagai cara hingga menemukan solusi.
Karena itu, orang tua tidak perlu selalu berfokus pada hasil akhir dari sebuah aktivitas. Memberikan ruang bagi anak untuk mencoba dan melakukan kesalahan menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang.
Beri Ruang Eksplorasi Anak untuk Menemukan Potensi Uniknya
Potensi anak tidak selalu terlihat dari nilai akademik saja. Ada anak yang memiliki ketertarikan pada seni, olahraga, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, atau kemampuan memahami orang lain.
Karena itu, orang tua perlu memberikan ruang eksplorasi anak agar si kecil dapat mengenal berbagai aktivitas dan menemukan hal yang membuatnya tertarik.
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Tugas orang tua bukan menentukan seluruh jalan perkembangan anak, melainkan mendampingi mereka menemukan kemampuan yang dimiliki.
Menurut Harvard Center on the Developing Child, pengalaman sehari-hari dan hubungan yang responsif antara anak dengan orang dewasa memiliki peran penting dalam perkembangan anak.
Melalui konsep serve and return, Harvard menjelaskan bahwa interaksi sederhana seperti mendengarkan cerita anak, merespons pertanyaan, atau memberikan perhatian ketika anak menunjukkan sesuatu dapat membantu membangun kemampuan sosial dan emosional anak.
Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan Bunda untuk mendukung eksplorasi anak antara lain:
1. Biarkan Anak Mencoba Berbagai Hal
Jangan buru-buru menentukan bahwa anak harus memiliki kemampuan tertentu. Berikan kesempatan untuk mencoba berbagai aktivitas, mulai dari membaca, menggambar, bermain musik, olahraga, hingga kegiatan kreatif lainnya.
Dari proses mencoba tersebut, anak dapat menemukan aktivitas yang paling sesuai dengan minat dan kepribadiannya.
2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Orang tua sering kali lebih mudah melihat hasil akhir dibandingkan proses yang dilakukan anak. Padahal, proses belajar menjadi bagian penting dalam membentuk karakter.
Ketika anak belum berhasil melakukan sesuatu, Bunda dapat membantu dengan memberikan dukungan, bukan tekanan.
Alih-alih berkata, "Kok belum bisa?", coba ubah menjadi, "Mau coba lagi bersama-sama?"
Kesempatan untuk mencoba, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tantangan juga membantu anak mengembangkan kemampuan executive function, yaitu kemampuan untuk mengatur perhatian, mengelola emosi, serta menyelesaikan masalah.
3. Dengarkan Minat dan Cerita Anak
Komunikasi menjadi kunci dalam memahami dunia anak. Melalui percakapan sederhana, orang tua dapat mengetahui aktivitas apa yang membuat anak senang atau hal apa yang ingin mereka pelajari.
Dengan merasa didengar, anak akan lebih percaya diri untuk mengekspresikan diri dan mencoba hal baru.
Parenting Bunda Gen Z, Bangun Pola Asuh yang Lebih Fleksibel
Dalam menerapkan parenting Bunda Gen Z, banyak orang tua muda kini mulai memiliki perhatian lebih terhadap kebutuhan emosional anak.
Selain memperhatikan perkembangan kemampuan anak, orang tua juga semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental, membangun komunikasi, serta menciptakan hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.
Namun, banyaknya informasi parenting juga bisa membuat orang tua merasa harus memenuhi berbagai standar tertentu. Mulai dari perkembangan anak, metode belajar, hingga aktivitas yang dianggap ideal.
Padahal, setiap keluarga memiliki kondisi dan perjalanan masing-masing. Pola asuh yang baik bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan terus belajar memahami kebutuhan anak.
Bunda dapat mulai dari langkah sederhana, seperti meluangkan waktu bermain bersama, memberikan apresiasi, mendengarkan cerita anak, dan menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk bereksplorasi.
Nutrisi dan Stimulasi Jadi Bekal Mendukung Tumbuh Kembang Anak
Selain memberikan ruang eksplorasi, pemenuhan nutrisi juga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Morinaga melalui pendekatan Potensi, Atensi, dan Nutrisi menekankan bahwa ketiga aspek tersebut saling melengkapi. Nutrisi membantu mendukung kondisi fisik anak, sementara stimulasi dan perhatian orang tua membantu anak mengembangkan berbagai kemampuan yang dimilikinya.
Melalui konsep Beyond Nutrition, Morinaga percaya bahwa mendukung potensi unik anak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pemenuhan nutrisi, pemberian stimulasi yang sesuai, hingga menciptakan ruang eksplorasi yang suportif agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensinya.
Dengan dukungan yang seimbang, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, kreatif, dan siap menghadapi berbagai pengalaman baru.
Pada akhirnya, menerapkan pola asuh tanpa tuntutan sempurna bukan berarti orang tua berhenti memberikan arahan kepada anak. Sebaliknya, pendekatan ini membantu anak memiliki ruang untuk belajar, mencoba, dan mengenali kemampuan dirinya.
Lebih lanjut, tugas orang tua bukan menciptakan anak yang sempurna, tetapi mendampingi mereka agar mampu mengenali, mengembangkan, dan percaya pada potensi yang dimiliki.
(anl/ega)