Warta Ekonomi, Jakarta -
PT PLN (Persero) dikabarkan bakal melepas kepemilikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) North Ganal Duri Cogeneration Plant kepada PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Pembangkit yang dioperasikan oleh anak usaha PLN, yakni PT PLN Mandau Cipta Tenaga Nusantara (PLN MCTN), tersebut berada di Wilayah Kerja (WK) Rokan dengan kapasitas mencapai 300 Mega Watt (MW).
Kabar tersebut dibenarkan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam acara Green Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) di Jakarta Convention Center, Selasa (22/7/2026).
"Jadi. Jadi. Sekarang dalam proses transisi," ungkap Laode.
Menurut Laode, proses pengalihan tersebut tidak perlu dikhawatirkan mengingat kedua perusahaan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah Danantara.
"Ya ini kan sama-sama BUMN kan dari PLN ke Pertamina enggak ada masalah," lanjut Laode.
Meski demikian, aspek keandalan pembangkit menjadi perhatian dalam proses perpindahan kepemilikan tersebut. Pasalnya, listrik menjadi salah satu faktor vital dalam mendukung operasional produksi minyak di Blok Rokan, khususnya untuk menggerakkan berbagai fasilitas produksi seperti pompa angguk.
PLTG North Ganal Duri sebelumnya dibangun dan dimiliki oleh Chevron Standard Limited (CSL) pada 1998. Pembangkit tersebut kemudian menjadi bagian dari aset PLN seiring dengan proses pengambilalihan Blok Rokan dari Chevron kepada Pertamina Hulu Rokan.
Pada 2021, anak usaha PLN, PLN MCTN, melakukan akuisisi penuh terhadap pembangkit tersebut.
Namun, dalam perjalanannya, keandalan pembangkit tersebut beberapa kali menjadi sorotan. Gangguan operasional pembangkit disebut turut berdampak terhadap aktivitas produksi minyak Rokan karena pasokan listrik menjadi salah satu penopang utama kegiatan produksi.
Laode mengatakan hingga saat ini produksi minyak Rokan belum sepenuhnya maksimal karena salah satu turbin pada pembangkit tersebut masih dalam proses perbaikan.
"Rokan on progress. Kita upayakan di Agustus ini sudah mulai ada perubahan," sebut Laode.
Ia menjelaskan bahwa perbaikan turbin membutuhkan proses pengujian untuk memastikan kestabilan sebelum kembali dioperasikan.
"Itu saya bilang tadi pas pertanyaan kita lagi upayakan. Kan turbin itu salah satu instrumen pembangkitan yang memerlukan proses namanya kestabilan. Jadi kalau dia enggak seimbang dia harus diuji terus sampai dia seimbang."
"Kemarin sudah seimbang di pabrik, pas tiba di lokasi terjadi lagi ketidakseimbangan, jadi sekarang harus dikembalikan lagi pada posisi itu baru bisa dioperasikan," ujarnya.
Baca Juga: PLN EPI Jajaki Ekspor Hidrogen Hijau ke Singapura
Baca Juga: HRS Senayan Sudah Siap, Bos PLN: Mobil Hidrogennya Belum Ada
WK Rokan merupakan salah satu ladang minyak terbesar di Indonesia yang menjadi penopang utama produksi minyak nasional. Keandalan sistem kelistrikan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan produksi di blok tersebut.
Produksi Blok Rokan oleh PT Pertamina Hulu Rokan mencapai rata-rata di atas 160 ribu barel per hari atau sekitar 58 juta barel sepanjang 2024.
Sementara itu, pada 2025 produksi minyak rata-rata berada di kisaran 151.500 barel per hari dan terus dijaga agar konsisten di atas 160 ribu barel per hari.
Kinerja tersebut menjadikan Blok Rokan sebagai produsen minyak terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 24 persen terhadap produksi minyak nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.