Denpasar (ANTARA) - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menilai perubahan tren kuliner wisatawan yang kini berburu pengalaman autentik menjadi ruang baru untuk mendorong peningkatan inovasi serta daya saing industri hospitality.
"Urusan makan dan minum bukan urusan isi perut saja, tapi yang sekarang lebih menonjol lagi adalah experience, kuliner sekarang sudah menjadi bagian pengalaman yang autentik bagi wisatawan untuk mengetahui cita rasa dan budaya satu daerah," kata Ketua PHRI Bali Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati di Denpasar, Bali, Senin.
Mantan Wakil Gubernur Bali itu mengungkapkan saat ini mulai terjadi pergeseran perilaku wisatawan yang menginap di vila maupun kawasan pedesaan seperti Ubud dan Kintamani.
Wisatawan kini cenderung membeli bahan baku sendiri di pasar lokal untuk menjajal pengalaman memasak sesuai selera mereka.
Menurut dia, potensi pariwisata berbasis gastronomi ini sangat luar biasa jika mampu diolah dengan baik, terlebih Bali kaya akan produk pangan lokal.
Namun, ia menyayangkan kekayaan tersebut belum tereksplorasi secara maksimal.
"Sekarang kami masih iri melihat daerah lain seperti China atau Italia, Bali yang begitu kaya produk makanan lokal, yang baru muncul sekarang baru satu saja, sate lilit, yang lain-lainnya belum ada," ujarnya.
Untuk itu PHRI Bali berharap melalui pameran kuliner internasional Bali Interfood, para pelaku usaha dapat berinovasi mengolah bahan lokal, sehingga menghasilkan keunikan baru yang membedakan kuliner Bali di tingkat internasional.
Ia sendiri mencatat saat ini okupansi hotel di seluruh Bali di angka 60-65 persen dengan kawasan paling menonjol Sanur dan Ubud.
Keterisian ini lebih rendah dibanding bulan yang sama tahun 2025 lalu, namun tren kuliner menurut PHRI Bali merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha kuliner.
Kehadiran pameran industri makanan dan minuman dinilai tepat waktu untuk memperkuat jejaring bisnis perhotelan dan restoran.
"Pameran Bali Interfood yang dibuka hari ini tentunya bukan hanya pameran produk, tetapi ruang sangat strategis bagi para pengusaha untuk memperkuat jejaring bisnis, meningkatkan kreativitas, dan memperkokoh daya saing," kata Cok Ace, sapaannya.
CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim selaku penyelenggara menyampaikan bahwa Bali Interfood 2026 kembali hadir untuk penyelenggaraan ke-7 pada 2–4 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
Ajang ini diikuti oleh 110 peserta, termasuk 35 UMKM dari delapan negara yakni Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Prancis, dengan target 15.000 pengunjung.
"Bali memiliki potensi besar karena pariwisata, hotel, restoran, dan usaha makanan minuman berkembang bersamaan, kami ingin menjadikan Bali Interfood sebagai tempat bagi pelaku usaha memperkenalkan produk, bertemu calon mitra, dan mendapatkan informasi perkembangan terbaru," ujar Daud.
Pameran yang digelar bersamaan dengan Bali Hotel & Tourism, Bali Coffee Expo, Bali Wine & Spirit, serta Bakery Indonesia Expo 2026 ini menghadirkan beragam agenda, mulai dari kualifikasi Gelato World Cup, workshop kuliner bersama para koki profesional, hingga program business matching bagi pelaku industri hotel, restoran, dan kafe.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PHRI Bali sebut perubahan tren kuliner dorong daya saing pariwisata
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.