Pandangan ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam DBS Insights Forum 2026 bertajuk "A New Lens on a Multipolar World", yang menghadirkan sejumlah pakar geopolitik, ekonomi, dan investasi. Forum tersebut mengulas bagaimana perubahan tatanan global membuka ruang baru bagi negara-negara middle power seperti Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar dalam ekonomi internasional.
Ringkasan
Dunia kini memasuki era multipolar, yaitu kondisi ketika pengaruh global tidak lagi didominasi oleh satu negara, melainkan terbagi ke beberapa kekuatan utama. Situasi tersebut membuat negara-negara dengan ekonomi yang stabil dan posisi strategis memiliki ruang lebih besar untuk menarik investasi serta memperkuat hubungan dengan berbagai mitra internasional.
Beberapa faktor yang membuat Indonesia diuntungkan antara lain:
Memiliki posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Berstatus sebagai anggota G20 dengan ekonomi berpendapatan menengah ke atas.
Memiliki konsumsi domestik yang kuat sehingga tidak terlalu bergantung pada ekspor.
Kaya akan mineral strategis yang dibutuhkan industri masa depan.
Berpeluang menjadi tujuan relokasi investasi akibat pergeseran rantai pasok global.
Artinya, ketidakpastian global tidak selalu berarti kabar buruk. Dalam kondisi tertentu, perubahan justru menciptakan kesempatan baru bagi negara yang memiliki fundamental ekonomi kuat dan mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan dunia.
Dunia Multipolar Membuka Ruang Lebih Besar bagi Negara seperti Indonesia
Selama lebih dari tiga dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia berada dalam fase yang relatif didominasi oleh Amerika Serikat. Namun, beberapa tahun terakhir peta kekuatan global mulai berubah. Kebangkitan ekonomi dan teknologi Tiongkok melahirkan kembali konfigurasi dua kekuatan besar yang kini bersaing dalam berbagai bidang, mulai dari perdagangan, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), semikonduktor, hingga diplomasi.
Perubahan tersebut turut memengaruhi dinamika ekonomi global. Data Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026 menunjukkan ekonomi Amerika Serikat masih tampil lebih baik dibanding ekspektasi pasar dengan indeks 55,0, sedangkan Tiongkok masih berada di -20,8. Sementara itu, kawasan Asia Pasifik mencatat indeks 51,5, mencerminkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi regional.
Data tersebut menunjukkan bahwa pusat pertumbuhan ekonomi dunia semakin menyebar. Kondisi ini membuat investor tidak lagi hanya berfokus pada satu negara, melainkan mulai mencari pasar lain yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang sekaligus stabil secara politik dan ekonomi.
Di sinilah posisi Indonesia menjadi menarik.
Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kombinasi yang jarang dimiliki banyak negara berkembang: pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, serta posisi geografis yang berada di jalur perdagangan internasional.
Bukan Lagi Sekadar Negara Berkembang
Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai persepsi dunia terhadap Indonesia telah mengalami perubahan besar dibanding beberapa dekade lalu.
"Kita bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas. Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Namun, modal geopolitik saja tidak cukup, kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia," ujar Dino melalui catatan tertulis DBS yang diterima AKURAT.CO, Senin, 20 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa posisi Indonesia kini tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar berkembang, melainkan sebagai salah satu negara yang berpotensi memainkan peran strategis di tengah perubahan geopolitik dunia.
Analisis ini juga menghadirkan perspektif yang menarik. Selama ini, rivalitas dua negara besar sering dipersepsikan sebagai ancaman yang harus dihindari. Padahal, dalam sistem dunia yang semakin multipolar, negara-negara yang mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak justru memiliki peluang memperoleh manfaat lebih besar.
Indonesia termasuk salah satunya.
Kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif memberi ruang bagi Indonesia untuk tetap menjalin kerja sama ekonomi dengan Amerika Serikat sekaligus mempertahankan hubungan dagang yang kuat dengan Tiongkok. Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu modal penting dalam menarik investasi di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global.
Peluang Besar, tetapi Tidak Datang Secara Otomatis
Meski memiliki berbagai keunggulan, peluang tersebut bukan berarti akan datang dengan sendirinya. Dalam beberapa tahun terakhir, investor global semakin selektif ketika menentukan tujuan investasi.
Jika sebelumnya faktor biaya produksi murah menjadi pertimbangan utama, kini perusahaan multinasional juga menilai berbagai aspek lain, seperti kepastian regulasi, kualitas birokrasi, stabilitas kebijakan, hingga kemudahan menjalankan usaha.
Dengan kata lain, persaingan AS-Tiongkok memang membuka pintu baru bagi Indonesia, tetapi yang menentukan apakah peluang itu benar-benar menghasilkan investasi adalah kemampuan pemerintah dan pelaku ekonomi dalam membangun kepercayaan pasar.
Perubahan cara pandang investor inilah yang menjadi salah satu ciri utama ekonomi global saat ini. Negara yang mampu menghadirkan kepastian cenderung lebih mudah menarik modal internasional dibanding negara yang hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam.
Baca Juga: UOB Nilai Ekonomi Indonesia Masuki Era New Normal, Ini Penjelasannya
Baca Juga: Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, LNG Abadi Masela Siap Dongkrak Ekonomi Indonesia Timur
Mengapa Indonesia Dinilai Lebih Tangguh Dibanding Sejumlah Negara Berkembang?
Di tengah ketidakpastian global, ketahanan sebuah negara tidak lagi diukur hanya dari besarnya cadangan devisa atau pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Investor kini juga melihat seberapa kuat permintaan domestik, kemampuan menjaga stabilitas kebijakan, hingga posisi negara tersebut dalam rantai pasok industri global.
Dalam konteks ini, Indonesia dinilai memiliki sejumlah keunggulan struktural yang membuatnya lebih siap menghadapi gejolak eksternal dibanding banyak negara berkembang lainnya.
Salah satu faktor utamanya adalah besarnya pasar domestik. Dengan lebih dari 280 juta penduduk, konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Artinya, ketika permintaan global melambat akibat konflik geopolitik atau perlambatan ekonomi dunia, aktivitas ekonomi nasional masih memiliki penopang dari dalam negeri.
Kondisi tersebut berbeda dengan negara yang pertumbuhan ekonominya sangat bergantung pada ekspor. Ketika permintaan dari pasar global menurun, dampaknya terhadap perekonomian domestik biasanya jauh lebih besar.
Selain itu, Indonesia juga memperoleh keuntungan dari bonus demografi yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa dekade mendatang. Jumlah penduduk usia produktif yang besar menjadi daya tarik tersendiri bagi investor karena menyediakan tenaga kerja sekaligus pasar konsumen dalam jumlah besar.
Kepercayaan Investor Kini Menjadi Penentu
Meski memiliki berbagai keunggulan, para ahli mengingatkan bahwa modal tersebut harus dibarengi dengan perbaikan fundamental ekonomi di dalam negeri.
Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, mengatakan kemampuan suatu negara menarik investasi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh strategi diplomasi, tetapi juga kualitas tata kelola ekonomi.
"Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global," ujar Yunarto.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang investor global.
Dua dekade lalu, perusahaan asing mungkin lebih banyak mempertimbangkan biaya tenaga kerja murah. Kini, pertanyaan yang lebih sering muncul adalah:
Apakah regulasi berubah terlalu sering?
Seberapa mudah memperoleh perizinan?
Apakah rantai logistik berjalan lancar?
Apakah investasi dapat memberikan kepastian dalam jangka panjang?
Artinya, di era dunia multipolar, kekuatan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga kualitas institusi dan kebijakan pemerintah.
Mengapa Ledakan AI Global Bisa Menjadi Peluang bagi Indonesia?
Salah satu insight menarik dari pembahasan DBS Insights Forum 2026 adalah hubungan antara perkembangan Artificial Intelligence (AI) dengan prospek ekonomi Indonesia.
Selama ini, banyak orang menganggap AI hanya berkaitan dengan perangkat lunak (software), chatbot, atau otomatisasi pekerjaan. Padahal, di balik perkembangan AI terdapat kebutuhan industri yang sangat besar terhadap infrastruktur fisik dan bahan baku.
Setiap pusat data AI membutuhkan ribuan chip semikonduktor, sistem penyimpanan data berkapasitas tinggi, baterai, jaringan listrik yang stabil, hingga berbagai logam strategis untuk mendukung proses produksinya.
Di sinilah posisi Indonesia menjadi semakin penting.
Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam rantai pasok industri kendaraan listrik, baterai, hingga teknologi masa depan. Selain nikel, Indonesia juga memiliki cadangan tembaga dan bauksit yang dibutuhkan berbagai industri manufaktur berteknologi tinggi.
Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, mengatakan perubahan lanskap global membuat investor perlu melihat peluang berdasarkan tren jangka panjang, bukan sekadar mengikuti sentimen pasar.
"Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. Saat ini kami melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia. Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional dan panduan investasi agar nasabah dapat mengambil keputusan secara lebih percaya diri."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan hanya menjadi peluang bagi perusahaan teknologi di Amerika Serikat atau Tiongkok. Negara-negara yang memasok bahan baku penting bagi industri tersebut juga berpotensi memperoleh manfaat ekonomi yang signifikan.
Simulasi Sederhana: Bagaimana AI Bisa Menguntungkan Indonesia?
Bayangkan sebuah perusahaan teknologi global ingin membangun pusat data AI baru di Asia.
Untuk mewujudkannya, perusahaan tersebut memerlukan:
Chip semikonduktor berkinerja tinggi.
Infrastruktur kelistrikan yang besar.
Sistem penyimpanan energi.
Perangkat keras berbasis logam strategis.
Produksi berbagai komponen tersebut membutuhkan mineral seperti nikel, tembaga, dan bauksit—komoditas yang dimiliki Indonesia dalam jumlah besar.
Apabila hilirisasi terus dikembangkan, Indonesia tidak hanya memperoleh pendapatan dari ekspor bahan mentah, tetapi juga berpeluang menikmati nilai tambah melalui pengolahan mineral, investasi manufaktur, hingga penciptaan lapangan kerja baru.
Inilah mengapa perkembangan AI global dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional, bukan hanya fenomena teknologi semata.
Indonesia Masih Memiliki Modal Pertumbuhan Jangka Menengah
Pandangan tersebut diperkuat oleh Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry.
Menurutnya, meskipun ekonomi global masih dibayangi berbagai tantangan, fundamental Indonesia tetap berada dalam kondisi yang kuat.
"Saat ini Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif. Di sisi lain, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional," ujar Boy.
Menurut Boy, kombinasi berbagai faktor tersebut membuat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah masih relatif positif meskipun volatilitas pasar global belum sepenuhnya mereda.
Peluang Terbesar Indonesia Bukan Berasal dari Konflik, Melainkan dari Kemampuan Beradaptasi
Ada satu paradoks menarik yang muncul dari perubahan geopolitik global.
Semakin tajam persaingan antara dua kekuatan ekonomi dunia, semakin besar pula kebutuhan perusahaan internasional untuk melakukan diversifikasi pasar, pemasok, dan lokasi investasi.
Bagi Indonesia, kondisi ini merupakan peluang yang sebelumnya tidak dimiliki dalam skala sebesar sekarang.
Namun peluang tersebut bukan hadiah yang datang secara otomatis.
Jika regulasi berubah-ubah, birokrasi tidak efisien, atau iklim usaha tidak kompetitif, investor dapat dengan mudah mengalihkan modalnya ke negara lain seperti Vietnam, India, atau Malaysia yang juga berlomba menarik investasi global.
Dengan kata lain, persaingan AS-Tiongkok hanyalah pemicu perubahan. Faktor penentunya tetap berada di dalam negeri.
Mengapa Isu Ini Penting bagi Masyarakat?
Sekilas, rivalitas AS dan Tiongkok mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun dampaknya sebenarnya dapat dirasakan secara langsung.
Jika Indonesia mampu menarik lebih banyak investasi berkualitas, peluang yang muncul antara lain:
terbukanya lapangan kerja baru;
berkembangnya industri pengolahan mineral;
meningkatnya ekspor bernilai tambah;
bertambahnya investasi di sektor teknologi dan manufaktur;
meningkatnya pendapatan negara.
Sebaliknya, apabila momentum ini tidak dimanfaatkan, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan mentah tanpa memperoleh manfaat ekonomi yang optimal.
Karena itu, menjaga kepastian regulasi, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang sama pentingnya dengan menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai negara.
Penutup
Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok memang menghadirkan ketidakpastian bagi perekonomian global. Namun bagi Indonesia, perubahan tersebut juga membuka kesempatan untuk memperkuat posisi sebagai salah satu kekuatan ekonomi penting di kawasan Asia.
Sebagai negara middle power dengan pasar domestik yang besar, sumber daya mineral strategis, serta bonus demografi, Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara berkembang lainnya. Akan tetapi, modal tersebut baru akan menghasilkan manfaat apabila dibarengi dengan kepastian regulasi, tata kelola yang baik, serta keberhasilan mendorong hilirisasi industri dan peningkatan daya saing.
Seperti yang tercermin dalam berbagai pandangan pada DBS Insights Forum 2026, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh arah persaingan dua kekuatan dunia, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan perubahan tersebut menjadi peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pantau terus perkembangan ekonomi global dan kebijakan nasional untuk memahami bagaimana dinamika geopolitik dapat memengaruhi peluang investasi, dunia usaha, dan prospek ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Baca Juga: Bauksit Salip Nikel, Investasi Hilirisasi Tembus Rp40,1 Triliun
Baca Juga: MBG Disebut Pemborosan Anggaran, Prabowo: Tapi Ribuan Triliun yang Keluar dari RI Tiap Tahun Kenapa Tak Ada yang Protes?
FAQ
Apa yang dimaksud dengan persaingan AS-Tiongkok?
Persaingan AS-Tiongkok adalah kompetisi antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam bidang ekonomi, perdagangan, teknologi, investasi, militer, dan diplomasi. Rivalitas ini memengaruhi rantai pasok global, arus investasi, hingga kebijakan ekonomi banyak negara.
Mengapa persaingan AS-Tiongkok justru menjadi peluang bagi Indonesia?
Persaingan tersebut mendorong perusahaan global melakukan diversifikasi investasi dan rantai pasok. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis karena ekonomi yang besar, sumber daya alam melimpah, serta pasar domestik yang kuat sehingga berpotensi menarik lebih banyak investasi.
Apa yang dimaksud dengan dunia multipolar?
Dunia multipolar adalah kondisi ketika kekuatan global tidak lagi didominasi oleh satu negara, melainkan tersebar pada beberapa negara atau kawasan yang sama-sama memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dan politik internasional.
Apa hubungan AI dengan peluang ekonomi Indonesia?
Perkembangan AI meningkatkan kebutuhan terhadap semikonduktor, baterai, pusat data, dan logam strategis. Indonesia sebagai produsen utama nikel serta mineral penting lainnya berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan industri teknologi global.
Mengapa Indonesia disebut sebagai middle power?
Indonesia disebut sebagai middle power karena memiliki pengaruh regional yang kuat, merupakan anggota G20, memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara, serta mampu menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan dunia tanpa berpihak secara ekstrem.
Apa yang harus dilakukan Indonesia agar mampu memanfaatkan peluang ini?
Indonesia perlu memperkuat kepastian regulasi, memperbaiki birokrasi, meningkatkan kualitas infrastruktur dan sumber daya manusia, serta mempercepat hilirisasi industri agar investasi yang masuk mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.