sudah perbedaan gunung api aktif dan tidak aktif– Halo, Grameds! Jangan terkecoh, gunung berapi yang tenang bukan berarti tidak aktif! Memahami perbedaan gunung api aktif dan tidak aktif sangat penting, mengingat Indonesia berada di jalur lingkar api pasifik yang rawan erupsi.
Lantas, apa saja kriteria dan penanda yang membedakan keduanya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini agar kamu tidak salah kaprah, Grameds!
Daftar Isi
- Apa Itu Gunung Api Aktif?
- Apa Itu Gunung Api Tidak Aktif?
- Perbedaan Gunung Api Aktif dan Tidak Aktif
- Ciri-Ciri Gunung Api Aktif
- Gunung Api Aktif Belum Tentu Sedang Meletus
- Apakah Gunung Api Aktif Selalu Berbahaya?
- Contoh Gunung Api Aktif di Indonesia
- Contoh Gunung Api Tidak Aktif di Indonesia
- Faktor yang Menentukan Gunung Api Masih Aktif
- Perbedaan Gunung Api Aktif, Dorman, dan Punah
- Bahaya yang Dapat Ditimbulkan Gunung Api Aktif
- Kesimpulan
- Rekomendasi Buku Terkait
- Menjaga Nusantara Tetap Hijau – Kebijakan Indonesia Menghadapi Isu Perubahan Iklim
- Why? Climate Change: Perubahan Iklim
- Kitab Iklim
- Kategori Ilmu Biologi
- Materi Biologi
Gunung api aktif adalah gunung api yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik atau memiliki kemungkinan untuk mengalami erupsi kembali.
Artinya, gunung api aktif nggak harus sedang meletus. Gunung yang sedang tenang juga dapat dikategorikan aktif apabila masih memiliki sistem magma yang berpotensi menghasilkan aktivitas vulkanik.
Badan Geologi mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Gunung-gunung tersebut menjadi bagian dari sistem kegunungapian yang dipantau untuk mengetahui perubahan aktivitasnya.
Apa Itu Gunung Api Tidak Aktif?
Istilah gunung api tidak aktif biasanya digunakan untuk menggambarkan gunung yang sudah lama nggak menunjukkan aktivitas vulkanik.
Namun, istilah ini perlu digunakan dengan hati-hati. Dalam vulkanologi, gunung yang lama nggak erupsi belum tentu benar-benar berhenti selamanya.
Survei Geologi Amerika Serikat menjelaskan bahwa beberapa gunung api dapat mengalami masa tenang selama ribuan tahun sebelum kembali aktif. Karena itu, riwayat erupsi saja nggak selalu cukup untuk menentukan apakah sebuah gunung api benar-benar sudah tidak dapat erupsi lagi.
Perbedaan Gunung Api Aktif dan Tidak Aktif
Perbedaan gunung api aktif dan tidak aktif dapat dilihat dari aktivitas vulkanik, sejarah erupsi, hingga kemungkinan terjadinya erupsi kembali.
| Aspek | Gunung Api Aktif | Gunung Api Tidak Aktif |
| Aktivitas vulkanik | Masih dapat menunjukkan aktivitas | Aktivitas vulkanik sangat rendah atau tidak terdeteksi |
| Potensi erupsi | Masih ada | Bisa sangat kecil, tetapi penentuannya bergantung pada kondisi geologi |
| Riwayat erupsi | Pernah mengalami erupsi dalam periode geologi yang relatif muda | Bisa sudah sangat lama tidak mengalami erupsi |
| Pemantauan | Dapat dipantau secara rutin | Bergantung pada karakter dan potensi gunung |
| Kondisi | Bisa sedang erupsi, tenang, atau mengalami peningkatan aktivitas | Cenderung lebih tenang |
Ciri-Ciri Gunung Api Aktif
Gunung api aktif dapat menunjukkan berbagai tanda aktivitas. Nggak semua gunung api menunjukkan tanda yang sama karena karakter setiap sistem vulkanik berbeda.
Beberapa tanda yang dapat diamati antara lain:
- Terjadi gempa vulkanik
Gempa tertentu dapat berkaitan dengan pergerakan magma atau perubahan tekanan di dalam gunung api.
- Terjadi perubahan aktivitas kawah
Perubahan dapat berupa peningkatan asap kawah, keluarnya gas vulkanik, atau perubahan kondisi di sekitar kawah.
- Terjadi perubahan bentuk tubuh gunung
Pergerakan magma di bawah permukaan dapat menyebabkan perubahan atau deformasi pada tubuh gunung api.
- Terjadi peningkatan suhu
Perubahan suhu di kawasan kawah atau sistem hidrotermal dapat menjadi salah satu data yang dipantau.
- Mengalami erupsi
Erupsi merupakan salah satu bentuk aktivitas vulkanik yang paling mudah dikenali.
Berbagai data tersebut biasanya dianalisis bersama, bukan berdasarkan satu tanda saja. Di Indonesia, aktivitas gunung api dipantau secara terus-menerus oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui pos pengamatan gunung api.
Gunung Api Aktif Belum Tentu Sedang Meletus
Ini merupakan salah satu hal yang sering disalahpahami.
Gunung api aktif nggak selalu berarti gunung tersebut sedang erupsi. Gunung api dapat berada dalam kondisi tenang, tetapi tetap memiliki potensi untuk kembali mengalami erupsi.
Survei Geologi Amerika Serikat menggunakan istilah dormant untuk gunung api yang sedang nggak erupsi tetapi masih dianggap aktif karena memiliki kemungkinan untuk erupsi pada masa mendatang.
Jadi, ketika sebuah gunung api berada dalam kondisi tenang, bukan berarti aktivitas vulkaniknya sudah berhenti untuk selamanya.
Apakah Gunung Api Aktif Selalu Berbahaya?
Gunung api aktif memiliki potensi bahaya, tetapi tingkat bahayanya nggak selalu sama.
Badan Geologi menggunakan tingkat aktivitas untuk menggambarkan kondisi gunung api yang dipantau. Di Indonesia terdapat empat tingkat aktivitas, yaitu:
- Level I Normal
Aktivitas gunung api berada pada kondisi normal dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
- Level II Waspada
Mulai terdapat peningkatan aktivitas berdasarkan hasil pengamatan.
- Level III Siaga
Peningkatan aktivitas semakin nyata dan dapat mengarah pada erupsi atau kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana.
- Level IV Awas
Aktivitas semakin meningkat atau gunung api sedang mengalami erupsi sehingga masyarakat perlu mengikuti rekomendasi resmi mengenai kawasan yang harus dihindari.
Tingkat aktivitas tersebut dapat berubah berdasarkan hasil pemantauan. Jadi, aktif dan tidak aktif berbeda dengan Level I sampai Level IV. Status Level I bukan berarti gunung tersebut merupakan gunung api mati, melainkan menunjukkan kondisi aktivitasnya sedang berada pada tingkat normal.
Contoh Gunung Api Aktif di Indonesia
Indonesia memiliki banyak gunung api yang termasuk dalam sistem vulkanik aktif. Beberapa contohnya adalah:
- Gunung Merapi
Berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah serta termasuk gunung api yang aktivitasnya dipantau secara rutin.
- Gunung Semeru
Berada di Jawa Timur dan merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia.
- Gunung Anak Krakatau
Berada di Selat Sunda dan merupakan gunung api aktif tipe A. Aktivitasnya terus dipantau karena memiliki sejarah erupsi.
- Gunung Ibu
Berada di Maluku Utara dan termasuk gunung api aktif yang dipantau oleh Badan Geologi.
- Gunung Dukono
Berada di Maluku Utara dan juga termasuk gunung api aktif Indonesia.
Contoh Gunung Api Tidak Aktif di Indonesia
Berbeda dengan gunung api aktif yang masih memiliki potensi erupsi, Indonesia juga memiliki gunung api purba yang sudah berhenti beraktivitas. Beberapa contohnya antara lain:
- Gunung Api Purba Nglanggeran
Berada di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini merupakan sisa tubuh gunung api purba yang terbentuk sekitar 33 hingga 5 juta tahun lalu. Bentuknya yang sekarang merupakan hasil aktivitas geologi dan erosi dalam waktu yang sangat panjang.
- Gunung Api Purba Karangtengah
Berada di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah. Gunung api ini merupakan bagian dari aktivitas vulkanik masa lampau yang kini sudah tidak aktif dan mengalami proses erosi sehingga bentuk gunung aslinya nggak lagi terlihat seperti gunung api modern.
- Gunung Api Purba Budeg
Berada di Tulungagung, Jawa Timur. Kawasan ini berkaitan dengan aktivitas gunung api purba yang terjadi pada masa Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Jejak aktivitas vulkaniknya masih dapat ditemukan melalui batuan dan bentang alam di sekitarnya.
- Gunung Api Purba di Pegunungan Selatan
Kawasan Pegunungan Selatan Jawa menyimpan banyak jejak gunung api purba yang kini sudah mati dan mengalami erosi. Sisa-sisa aktivitasnya dapat dikenali melalui batuan vulkanik dan struktur geologi yang masih tersisa
Faktor yang Menentukan Gunung Api Masih Aktif
Untuk menentukan apakah sebuah gunung api masih aktif, para ahli nggak hanya melihat apakah gunung tersebut sedang meletus. Kondisi geologi dan sejarah aktivitasnya juga perlu diperhatikan. Beberapa faktor yang menjadi bahan pertimbangan antara lain:
- Riwayat erupsi
Catatan erupsi masa lalu membantu menunjukkan apakah sebuah gunung masih memiliki kemungkinan untuk kembali mengalami aktivitas. Gunung yang sudah lama nggak meletus belum tentu langsung dikategorikan sebagai gunung api mati.
- Aktivitas kegempaan
Gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dapat memberikan informasi mengenai perubahan atau pergerakan material di bawah gunung.
- Perubahan bentuk permukaan
Pergerakan magma dapat menyebabkan perubahan bentuk atau deformasi pada permukaan gunung. Data tersebut dapat membantu para ahli mengetahui adanya perubahan di dalam sistem vulkanik.
- Aktivitas hidrotermal
Panas dan fluida dari dalam Bumi dapat memengaruhi sumber air panas, fumarol, atau bagian lain dari sistem hidrotermal. Aktivitas seperti ini dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai kondisi vulkanik di bawah permukaan.
- Keberadaan magma di bawah permukaan
Bukti mengenai keberadaan magma menjadi salah satu pertimbangan penting. Gunung yang masih memiliki sistem magma yang memungkinkan terjadinya erupsi dapat tetap dianggap aktif meskipun sedang nggak mengalami letusan.
Perbedaan Gunung Api Aktif, Dorman, dan Punah
Istilah aktif, dorman, dan punah sering digunakan ketika membahas kondisi gunung api. Namun, ketiganya nggak selalu memiliki batas yang benar-benar tegas karena klasifikasi dapat bergantung pada riwayat dan kondisi geologi masing-masing gunung.
| Jenis gunung api | Penjelasan |
| Aktif | Masih memiliki aktivitas atau potensi untuk mengalami erupsi kembali |
| Dorman | Sedang berada dalam masa tenang, tetapi masih dianggap aktif karena berpotensi kembali erupsi |
| Punah | Dianggap nggak akan mengalami erupsi kembali karena sistem vulkaniknya sudah berhenti |
Gunung api dorman menjadi bagian yang sering membingungkan. Gunung yang sedang nggak meletus bukan berarti otomatis menjadi gunung api punah, Grameds. Bahkan, beberapa gunung dapat mengalami masa tenang selama ribuan tahun sebelum kembali menunjukkan aktivitas.
Bahaya yang Dapat Ditimbulkan Gunung Api Aktif
Status aktif menunjukkan bahwa sebuah gunung masih memiliki aktivitas atau potensi vulkanik. Namun, bentuk bahayanya dapat berbeda antara satu gunung dengan gunung lainnya karena setiap gunung memiliki karakter erupsi dan kondisi lingkungan yang berbeda.
- Aliran lava
Lava merupakan batuan cair yang keluar ke permukaan saat terjadi erupsi. Alirannya dapat merusak atau menutupi wilayah yang berada di jalurnya.
- Awan panas
Awan panas berupa campuran material vulkanik panas dan gas yang dapat bergerak cepat dari kawasan gunung. Bahayanya terutama berkaitan dengan suhu tinggi dan kecepatannya.
- Abu vulkanik
Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan mineral berukuran sangat kecil. Material ini dapat terbawa angin dan mencapai wilayah yang cukup jauh dari gunung.
- Lahar
Material vulkanik yang bercampur dengan air dapat membentuk lahar. Alirannya dapat mengikuti lembah dan sungai sehingga wilayah yang cukup jauh dari kawah pun bisa terdampak.
- Gas vulkanik
Gunung api dapat melepaskan berbagai jenis gas dari dalam sistem vulkaniknya. Dalam konsentrasi tertentu, gas tersebut dapat membahayakan manusia dan lingkungan.
Kesimpulan
Secara sederhana, perbedaan gunung api aktif dan tidak aktif terletak pada aktivitas vulkanik serta kemungkinan gunung tersebut mengalami erupsi kembali, Grameds.
Namun, gunung api yang sedang tenang nggak otomatis menjadi gunung api tidak aktif. Sebuah gunung dapat tetap dianggap aktif meskipun sudah lama nggak mengalami erupsi apabila masih memiliki potensi aktivitas vulkanik.
Karena itu, untuk mengetahui kondisi sebuah gunung api, jangan hanya melihat apakah gunung tersebut sedang mengeluarkan asap atau sedang meletus. Data pemantauan, sejarah erupsi, aktivitas kegempaan, perubahan bentuk gunung, gas vulkanik, serta indikator lainnya perlu dipertimbangkan secara bersama-sama.
Rekomendasi Buku Terkait
Menjaga Nusantara Tetap Hijau – Kebijakan Indonesia Menghadapi Isu Perubahan Iklim


Perubahan iklim semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang bergantung langsung pada alam seperti nelayan. Kondisi ini membuat masyarakat harus memiliki ketahanan dan kemampuan beradaptasi untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terus terjadi. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai peran pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim serta sejauh mana aturan dan kebijakan yang ada mampu melindungi sumber daya alam.
Why? Climate Change: Perubahan Iklim


Perubahan iklim semakin nyata melalui berbagai kejadian seperti banjir, kebakaran hutan, dan cuaca panas ekstrem di berbagai belahan dunia. Kenaikan suhu Bumi, mencairnya gletser, naiknya permukaan laut, serta terancamnya berbagai jenis hewan menjadi tanda bahwa perubahan iklim dapat berdampak langsung pada kehidupan manusia dan lingkungan. Why? Climate Change – Perubahan Iklim menjelaskan penyebab dan dampak perubahan iklim melalui cerita fiksi yang diperankan oleh Omji dan Komji. Informasi sains disampaikan dengan cara yang ringan dan menarik sehingga lebih mudah dipahami. Selain mengenalkan masalah perubahan iklim, buku ini juga menunjukkan berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga Bumi, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memilih transportasi umum.
Kitab Iklim


Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar bagi kehidupan di Bumi, tetapi masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Dalam buku ini, Greta Thunberg mengumpulkan pengetahuan dari lebih dari seratus ahli dalam berbagai bidang untuk menjelaskan perubahan iklim, dampaknya, serta langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapinya. Buku ini menekankan pentingnya memahami perubahan iklim berdasarkan ilmu pengetahuan dan mengambil tindakan sebelum keadaan menjadi semakin buruk. Meskipun masalahnya besar, masih ada harapan jika berbagai pihak mau bergerak bersama dan mulai melakukan perubahan sejak sekarang.