Perang Baru Pecah di Timur Tengah, Waspada Harga Minyak Menggila

July 2026 ยท 4 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanda-tanda meluasnya perang Iran mulai terlihat jelas akhir pekan ini, meskipun Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menangguhkan gelombang serangannya. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Di saat bersamaan, Iran menuduh Ukraina menargetkan kapal komersial miliknya di Laut Kaspia.

Militer AS menyatakan pada Sabtu (25/7) bahwa blokade laut terhadap Iran "tetap berlaku penuh", namun tidak membeberkan alasan di balik penghentian gelombang serangan yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut.

Menanggapi jeda serangan tersebut, seorang pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan arah kebijakan Washington.

"Trump selalu memperjelas bahwa pilihannya adalah jalur diplomasi, tetapi beliau telah menunjukkan kepada Iran apa yang akan terjadi jika mereka gagal berunding secara serius," ungkapnya, dikutip dari Reuters, Minggu (26/7/2026).

Pada hari Sabtu, tidak ada laporan mengenai serangan balasan dari Iran ke negara-negara tetangga, berbanding terbalik dengan serangan harian yang terjadi sebelumnya sebagai respons atas gempuran AS.

Berdasarkan laporan New York Times pada Sabtu malam yang mengutip dua sumber yang memahami diskusi tersebut, Trump telah memutuskan untuk mundur dari rencana awal yang ingin meningkatkan serangan terhadap Iran.

Presiden dan para penasihatnya dilaporkan mengkhawatirkan meluasnya konflik, menipisnya cadangan pertahanan, merenggangnya hubungan dengan sekutu Teluk Persia, serta dampak buruknya terhadap pasokan energi dan ekonomi global.

Meski terjadi peredaan di wilayah Teluk, pertempuran antara kelompok Houthi dan Arab Saudi pada hari Sabtu mengindikasikan bahwa perang-yang telah mengganggu pasokan energi melalui Selat Hormuz-kini mengancam jalur pelayaran utama kedua dan berpotensi memicu kembali perang saudara di Yaman.

Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Ukraina menyerang kapal komersial milik Iran di Laut Kaspia. Serangan tersebut memicu ledakan yang menewaskan seorang pelaut dan melukai seorang pelaut lainnya.

Sebelumnya pada Sabtu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy melalui unggahan di media sosial memuji hasil "serangan jarak jauh" di Laut Kaspia yang menargetkan kapal-kapal pengangkut kargo militer, meski ia tidak menyebutkan kewarganegaraan kapal yang menjadi sasaran.

Perang Meluas, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa kelompoknya menyerang lokasi-lokasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Jizan dan Yanbu. Rekaman video di media sosial yang telah diverifikasi Reuters memperlihatkan kepulan asap tebal membubung dari arah kilang minyak Aramco di Jizan.

Dua sumber perdagangan di Asia mengonfirmasi adanya informasi mengenai potensi kerusakan pada fasilitas penyimpanan bahan bakar dan minyak di Jizan.

Pilihan Redaksi

Sementara itu di Yanbu, dua rudal balistik yang ditujukan ke fasilitas minyak berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Patriot buatan AS. Sistem tersebut dioperasikan di Arab Saudi oleh militer Yunani berdasarkan perjanjian dengan Riyadh, menurut sumber keamanan Yunani.

Yanbu merupakan pelabuhan minyak utama Arab Saudi di Laut Merah yang menjadi jalur kunci mengalirkan minyak mengitari Selat Hormuz yang diblokade Iran. Sementara itu, kilang minyak di Jizan yang berlokasi dekat perbatasan Yaman tercatat sanggup memproses hingga 400.000 barel minyak per hari.

Di Yaman, angkatan udara dari pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi melancarkan serangan ke lokasi peluncuran dan gudang senjata Houthi di provinsi Marib dan al-Jawf.

Sebelum serangan ini, aliansi militer pimpinan Arab Saudi juga membom posisi-posisi militer Houthi di pelabuhan Laut Merah, Hodeidah, pada hari Jumat. Para pejabat Yaman melaporkan bahwa kedua belah pihak kini mulai memobilisasi pasukan di sepanjang garis depan.

Koalisi Dipimpin Arab Saudi Menyerang Hodeidah

Arab Saudi telah memimpin koalisi Arab melawan Houthi selama lebih dari satu dekade sejak pejuang yang bersekutu dengan Iran tersebut merebut ibu kota Yaman, Sanaa.

Perang saudara Yaman yang telah menewaskan ratusan ribu orang akibat pertempuran dan kelaparan sempat terhenti lewat kesepakatan gencatan senjata sejak tahun 2022. Namun, gencatan senjata tersebut runtuh bulan ini setelah Houthi secara efektif bergabung dalam perang yang lebih luas yang dilancarkan sekutu Iran mereka sejak diserang oleh AS dan Israel.

Selama sepekan terakhir, kelompok Houthi menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, menegaskan seluruh fasilitas minyak Arab Saudi dapat menjadi target. Pada hari Kamis, Houthi terbukti menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.

Di sisi lain, pasukan Amerika Serikat baru-baru ini melanjutkan blokade mereka terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. U.S. Central Command (CENTCOM) menyatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah melumpuhkan sebuah kapal di Teluk Oman yang awaknya mencoba menerobos blokade meski telah diberi peringatan berulang kali.

Gencatan senjata sementara secara efektif runtuh dua minggu lalu, disusul tindakan pasukan AS yang menyerang target-target di Iran selatan sebagai respons atas gangguan pelayaran oleh Iran di Selat Hormuz.

Pada Jumat (24/7), Trump menyampaikan bahwa AS dan Iran sedang dalam pembicaraan untuk merundingkan penghentian konflik, namun ia mengulangi pernyataan bahwa pihak Teheran belum siap untuk mencapai kesepakatan.

(fab/fab)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]