Penerapan LEISA BI Kaltim dongkrak produktivitas padi naik 44,8 persen - ANTARA News Kalimantan Timur

September 2026 · 2 minute read

Samarinda (ANTARA) - Penerapan pertanian sistem low external input sustainable agriculture (LEISA) dan teknologi digital farming oleh Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) mampu meningkatkan produktivitas gabah padi hingga 44,8 persen, dari 4,8 ton menjadi 6,95 ton  per hektare.

Capaian tersebut merupakan hasil panen demonstrasi plot (demplot) padi LEISA dan digital farming di Gapoktan Mandiri, Sidomulyo, Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, hasil kolaborasi BI Kaltim, pemerintah daerah, akademisi, dan kelompok tani.

"Penerapan teknologi pertanian tersebut tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tapi juga menekan biaya dan mempercepat proses budidaya," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kaltim Jajang Hermawan saat panen di Demplot Padi LEISA & milik Gapoktan Mandiri, Anggana, Kamis.

Melalui penggunaan drone sprayer, pemupukan dan penyemprotan pestisida yang sebelumnya memerlukan waktu 6 sampai 8 jam per hektare, kini hanya sekitar 10 menit per hektare, sehingga sistem ini juga menghemat waktu.

Menurut dia, konsep LEISA mengoptimalkan sumber daya lokal sehingga petani tidak terlalu bergantung pada penggunaan input eksternal dalam jumlah tinggi.

Penerapan teknologi dilakukan mulai dari pembibitan, pemupukan, pengendalian hama hingga penyemprotan menggunakan drone. Penggunaan pupuk organik juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Jajang mengatakan bahwa salah satu tantangan yang masih perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan air. Meski demikian, produktivitas 6,95 ton per hektare menunjukkan metode tersebut berpotensi dikembangkan di wilayah lain di Kaltim.

Sementara Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, mengapresiasi peningkatan produksi tersebut dan berharap hasil demplot tidak berhenti sebagai proyek percontohan, namun. direplikasi ke sentra-sentra pertanian lainnya.

"Peningkatannya sangat luar biasa. Kita harus punya target lebih, ketika produksi sekarang minimal 4 ton per hektare, kalau bisa nanti minimal bisa 7 ton per hektare," katanya.

Seno mengatakan, Provinsi Kaltim saat ini memiliki sekitar 28.000 hektare sawah aktif. Hingga Agustus 2026, produksi gabah kering panen telah mencapai lebih dari 200 ribu ton.

Pemerintah provinsi, kata ia lagi, menargetkan penambahan sekitar 12.000 hektare sawah baru sehingga luas sawah aktif Kaltim diproyeksikan mencapai sekitar 40.000 hektare pada 2027.

"Penambahan lahan dan penerapan teknologi pertanian presisi tersebut diharapkan memperkuat produksi beras sekaligus mendukung target swasembada pangan Kaltim," ujarnya.

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.