Pemprov NTT mempercepat pemulihan pascagempa dengan data geospasial

September 2026 · 3 minute read

Pemprov NTT mempercepat pemulihan pascagempa dengan data geospasial

Jumat, 4 September 2026 19:36 WIB

Image Print

Tim survei dari Dirjen Pemasyarakatan mendata kerusakan bangunan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ruteng, Manggarai Tengah, Kamis (3/9/2026). ANTARA FOTO/Johanes Viandinando

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong percepatan pemulihan pascagempa Magnitudo 7,7 di Pulau Flores melalui integrasi data kerusakan sektoral dan kewilayahan berbasis geospasial.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencana Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperinda) NTT Teresia M. Florensia di Kupang, Jumat, mengatakan data yang akurat menjadi dasar penting untuk memastikan proses pemulihan pascabencana berjalan tepat sasaran, sekaligus selaras dengan arah pembangunan wilayah masing-masing kabupaten.

“Kita harus mengawal agar pemulihan berjalan baik dan di sinilah data menjadi sangat penting. Namun mumpung ada sumber daya untuk membangun kembali, pertanyaannya adalah apakah kita sekadar memperbaiki yang rusak, atau kita bangun kembali dengan perencanaan spesifik berdasarkan potensi dan masterplan arah pengembangan kewilayahan masing-masing kabupaten ke depan,” kata Teresia.

Menurut dia, perencanaan pemulihan pascabencana harus dilakukan secara lebih baik dan terintegrasi agar pembangunan kembali tidak hanya mengganti infrastruktur yang rusak, tetapi juga memperkuat ketahanan dan arah pengembangan wilayah ke depan.

Area Manager Siap Siaga NTT Silvia Fanggidae mengatakan pendataan kerusakan perlu dilakukan secara cepat karena kondisi fisik di lapangan terus berubah, terutama akibat pembersihan puing oleh masyarakat dan gempa susulan.

“Melakukan penilaian, verifikasi, dan validasi kerusakan untuk skala dampak seperti di Flores dalam waktu 90 hari itu tidak mudah,” katanya.

Ia mengatakan pemanfaatan teknologi spasial darat dan udara melalui drone dapat membantu tim Jitupasna dan penyusun Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) memperoleh basis data kerusakan yang lebih akurat.

Bencana gempa Flores berdampak pada tujuh kabupaten dengan 129 korban jiwa, lebih dari 1.210 orang terluka, dan sekitar 87 ribu warga mengungsi.

Kerusakan tercatat mencapai 99.398 rumah serta 3.886 prasarana strategis yang meliputi 653 sarana kesehatan, 2.633 sarana pendidikan, dan 600 sarana ibadah, dengan estimasi kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai Rp2,59 triliun.

Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperinda NTT Yohanes Paut mengatakan keandalan data kerusakan menjadi prasyarat untuk memperoleh dukungan pendanaan pemerintah pusat maupun mitra pembangunan internasional.

“Dengan estimasi kebutuhan yang mencapai hampir Rp2,6 triliun, kita pasti menyerah jika menanggungnya sendiri menggunakan APBD. Oleh karena itu kita harus mampu menangkap peluang anggaran pusat,” katanya.

Ia menyebut sejumlah peluang pendanaan yang dapat dimanfaatkan, antara lain Inpres Jalan Daerah, Inpres Irigasi, program air bersih, hingga program pembangunan tiga juta rumah.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: NTT percepat pemulihan pascagempa Flores dengan data spasial

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.