Ambon (ANTARA) - Pemkot Ambon, Maluku, memperkuat pengembangan Ambon Smart City untuk meningkatkan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik agar lebih cepat, transparan, aman, dan terintegrasi.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Ambon Ronald H. Lekransy di Ambon, Kamis (20/8), mengatakan pengembangan Ambon Smart City tidak sekadar membangun aplikasi, tetapi diarahkan pada perubahan tata kelola pemerintahan dengan memanfaatkan teknologi, data, dan sumber daya manusia.
"Pengembangan Smart City bukan sekadar membangun aplikasi, tetapi bagaimana mewujudkan perubahan tata kelola pemerintahan dengan memanfaatkan teknologi," katanya.
Ia mengatakan Kota Ambon menghadapi sejumlah persoalan perkotaan yang membutuhkan dukungan teknologi dan tata kelola lebih terintegrasi, antara lain kepadatan penduduk, layanan kesehatan yang melebihi kapasitas, tata ruang, persoalan sampah, kemacetan, serta belum optimalnya integrasi layanan digital antarorganisasi perangkat daerah (OPD).
Lekransy mengungkapkan, pada 2025 Kota Ambon masuk dalam 10 besar kota yang dievaluasi secara nasional dalam program Smart City dan memperoleh nilai 3,4 dari skala 4.
"Ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan publik berbasis teknologi," ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Administrasi Publik FISIP Universitas Pattimura (Unpatti) Jusuf Madubun mengatakan konsep Smart City tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga kemampuan pemerintah memanfaatkan data untuk menghasilkan keputusan dan pelayanan yang meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, transformasi birokrasi digital di Kota Ambon perlu memperkuat kapasitas dan budaya birokrasi dengan tetap berakar pada nilai serta kearifan lokal Ambon dan Maluku.
"Birokrasi digital bukan tujuan akhir, tetapi yang dibutuhkan adalah transformasi dari birokrasi konvensional ke digital dan terintegrasi, data-driven, menuju kota cerdas yang citizen-centered," katanya.
Pewarta: Winda Herman
Editor : Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.