"Saat ini kami masih berkoordinasi dengan ASDP dan sedang mengumpulkan data-data pendukung sebagai persyaratan untuk pembukaan trayek baru,"
Bima (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mengusulkan pembukaan rute penyeberangan Sape-Makassar untuk memperluas akses pasar komoditas dari Pulau Sumbawa sekaligus memperlancar distribusi barang dan kendaraan menuju Sulawesi Selatan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bima A. Rifai mengatakan usulan pembukaan trayek tersebut telah disampaikan melalui surat Bupati Bima kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
"Saat ini kami masih berkoordinasi dengan ASDP dan sedang mengumpulkan data-data pendukung sebagai persyaratan untuk pembukaan trayek baru," katanya kepada ANTARA, Minggu.
Ia mengatakan pembukaan rute Sape-Makassar diharapkan dapat menjawab tingginya mobilitas masyarakat Bima, Dompu dan Sumbawa menuju Sulawesi Selatan, baik untuk kegiatan perdagangan, pendidikan maupun aktivitas ekonomi lainnya.
Menurut dia, Makassar menjadi salah satu tujuan masyarakat Bima dan daerah sekitarnya, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Sulawesi Selatan.
Namun, konektivitas yang tersedia saat ini dinilai belum sepenuhnya mendukung kebutuhan distribusi barang dan kendaraan dari Pulau Sumbawa menuju Sulawesi Selatan.
Rifai mengatakan layanan kapal PT Pelni yang melalui Pelabuhan Bima selama ini melayani angkutan penumpang, sementara kebutuhan pengiriman barang dan kendaraan masih menghadapi keterbatasan.
Kondisi tersebut membuat pengiriman sejumlah hasil bumi dari Bima ke Makassar masih mengandalkan kapal berukuran kecil sehingga distribusi komoditas dan mobilitas kendaraan pengangkut barang belum berjalan secara optimal.
Ia menyebut sejumlah komoditas daerah, seperti garam, bawang, dan hasil pertanian lainnya, memiliki potensi pasar di Sulawesi Selatan.
Karena itu, pembukaan trayek penyeberangan langsung Sape-Makassar diharapkan dapat memperlancar arus barang sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk dari Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu.
"Dengan dibuka jalur ini, hasil bumi dari Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu bisa langsung dikirim ke Makassar. Kendaraan pengangkut barang juga dapat ikut menyeberang sehingga distribusi menjadi lebih mudah," katanya.
Menurut Rifai, tersedianya konektivitas penyeberangan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan petani, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan akses transportasi antarpulau.
Dari sisi ekonomi, jalur Sape-Makassar diharapkan dapat memperkuat konektivitas perdagangan antara Pulau Sumbawa dan Sulawesi Selatan sehingga distribusi komoditas daerah ke pasar tujuan dapat berlangsung lebih efisien.
"Harapannya jalur ini dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan mempermudah distribusi hasil produksi daerah ke pasar yang lebih luas," ujarnya.
Selain mengusulkan pembukaan trayek Sape-Makassar, Pemerintah Kabupaten Bima juga mengajukan perpanjangan izin operasional trayek penyeberangan Sape-Waikelo.
Rifai mengatakan perpanjangan izin tersebut diperlukan agar layanan penyeberangan Sape-Waikelo tetap beroperasi dan mendukung konektivitas masyarakat serta distribusi barang antardaerah.
"Kami juga mengajukan perpanjangan izin trayek penyeberangan Sape-Waikelo agar operasional kapal penyeberangan tetap dapat dilayani oleh ASDP," katanya.
Baca juga: Solidaritas untuk NTT, Pemkab Bima kerahkan tim tanggap darurat
Baca juga: Sejumlah bangunan di Kota Bima NTB rusak terdampak gempa M 7,7 di NTT
Baca juga: BMKG NTB: Keringan ekstrem terjadi hampir tiga bulan di Bima
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026