ILUSTRASI. Fintech, Pinjaman Online, Pinjol (KONTAN/Panji Indra)
Reporter: Ade Priyatin | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelompok borrower usia muda menjadi salah satu perhatian dalam menjaga kualitas pembiayaan industri fintech lending. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kelompok usia 19-34 tahun menyumbang 48,22% dari total outstanding bermasalah fintech lending per Juli 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan, secara agregat tingkat risiko kredit macet atau TWP90 industri fintech lending tercatat sebesar 4,32% per Juli 2026.
"Porsi kelompok usia 19-34 tahun 48,22% dari total outstanding bermasalah," ujar Agusman.
Baca Juga: OJK Siapkan Empat Agenda Utama untuk Perkuat Industri Dana Pensiun
Selain berdasarkan usia, OJK juga mencatat outstanding bermasalah fintech lending lebih banyak berasal dari borrower laki-laki dengan porsi 54,22%. OJK pun terus mencermati perkembangan kualitas pembiayaan berdasarkan karakteristik debitur.
Agusman menambahkan, penyelenggara fintech lending terus didorong meningkatkan kualitas credit scoring dalam pemberian pembiayaan, termasuk melalui penerapan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian.
Di sisi lain, sejumlah penyelenggara pinjaman daring (pindar) menerapkan pendekatan berbeda dalam menyaring borrower untuk menjaga kualitas portofolio.
PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha memiliki komposisi mitra dari berbagai kelompok usia.
Berdasarkan Sustainability Report 2025, mayoritas mitra Amartha berada pada rentang usia 31-50 tahun, meski terdapat pula banyak mitra di luar kelompok usia tersebut.
"Amartha memiliki komposisi mitra dengan rentang usia yang beragam," ujar VP of PR Amartha Harumi Supit kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Ia mengatakan pihaknya berfokus menjangkau high-quality borrowers melalui sistem credit scoring yang disesuaikan dengan profil dan kapasitas masing-masing mitra.
Baca Juga: Aset Dana Pensiun Tembus Rp 1.699 Triliun, OJK Dorong Jadi Investor Jangka Panjang
Adapun proses tersebut memadukan machine learning, artificial intelligence (AI), serta pendekatan human touch melalui lebih dari 10.000 tenaga lapangan.
Selain itu, sistem tanggung renteng juga menjadi bagian dari proses penyaringan dan mitigasi risiko sejak awal. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas portofolio dan mendorong perbaikan kualitas pembiayaan secara berkelanjutan.
Sementara itu, PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU) menunjukkan komposisi borrower yang lebih banyak berasal dari kelompok usia 35-54 tahun. Sepanjang Januari-Agustus 2026, kelompok tersebut menyumbang sekitar 56% dari total penyaluran pinjaman UKU yang mencapai sekitar Rp600 miliar.
Kelompok usia 29-34 tahun menyumbang sekitar 38%, sedangkan borrower berusia di atas 54 tahun sekitar 6%. Porsi usia 29-34 tahun tersebut turun dari sekitar 41% pada periode yang sama tahun lalu.
“Komposisi ini merupakan hasil dari strategi mitigasi risiko yang diterapkan secara konsisten, dengan mengutamakan segmen borrower yang memiliki profil penghasilan lebih stabil dan matang secara finansial,” ujar Direktur Utama UKU Tony Jackson kepada Kontan, Kamis (24/9).
Menurutnya, fokus pada kelompok usia 35-54 tahun berkaitan dengan kemampuan bayar borrower yang dinilai lebih terukur.
Oleh karenanya, UKU berupaya memastikan borrower yang memperoleh pinjaman memiliki kemampuan pembayaran yang memadai.
Untuk menjaga kualitas pembiayaan, UKU menargetkan rasio kredit bermasalah tetap terkendali di bawah 5%. Perusahaan memperkuat penilaian kelayakan borrower sejak tahap awal sebelum pinjaman dicairkan.
Baca Juga: Dana Kelolaan Reksa Dana Dolar Naik 13%, Diversifikasi Global Makin Dilirik
Mitigasi juga dilakukan dengan menetapkan plafon berdasarkan kapasitas pembayaran masing-masing borrower dan bukan sekadar memberikan batas pinjaman maksimal yang seragam.
Selama masa pinjaman, perilaku pembayaran dipantau secara berkala dan borrower mendapatkan pengingat sebelum jatuh tempo.
Selain seleksi dan pemantauan, edukasi keuangan juga dilakukan agar borrower meminjam sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Edukasi tersebut diberikan kepada berbagai kelompok usia, termasuk segmen yang dinilai lebih rentan terhadap risiko kredit bermasalah.
Adapun hingga Juli 2026, outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp105,63 triliun atau tumbuh 24,76% secara tahunan. Pada periode yang sama, industri mencatatkan laba Rp1,36 triliun atau tumbuh 18,20% secara tahunan.
Di tengah pertumbuhan tersebut, kualitas borrower dan ketepatan proses seleksi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan. OJK sendiri terus mendorong penyelenggara memperkuat credit scoring, manajemen risiko, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pinjaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News